Pada tahun 1995 hingga 1997-an, saat dua anak pertama kami masih batita, setiap kali terserang gejala influenza, serta-merta kami akan membawanya ke bidan langganan keluarga yang tinggal di Jalan Sunu, Kota Makassar. Bidan Titi namanya.
Walaupun jaraknya terbilang cukup jauh dari rumah. Perlu dua kali naik becak dan satu kali naik angkot. Tetapi karena obatnya cocok untuk anak-anak, maka kami rela berpayah-payah menempuh perjalanan yang cukup lama, untuk bisa memeriksakan kesehatan mereka di sana.
Beliau pula yang berhasil membatalkan rencana operasi cesar anak kami yang ketiga ketika itu. Oleh dokter saya sudah dapat ultimatum, untuk segera masuk ruang operasi keesokan harinya, karena kehamilan terhitung sudah lewat bulan katanya. Akan tetapi, saya dan suami malam itu masih berusaha mencari second opinion dari beliau, berhubung anak kami sebelumnya memang lahir dan dibantu proses persalinan di kliniknya.
Menurut perhitungannya, masih ada dua hari untuk menunggu si bayi lahir normal. Alhamdulillah, benar kata beliau, sore hari besoknya, bayi kami bisa lahir normal sebagaimana perkiraannya.
Tahun-tahun berlalu, anak-anak pun tumbuh semakin besar. Kami sudah sangat jarang berkunjung ke sana. Selain memang anak-anak sudah jarang mengalami gangguan kesehatan yang berarti, kami pun sesekali memberi mereka suplemen atau vitamin yang bisa membantu memelihara kesehatan mereka.
Walaupun anak-anak tidak tergolong gemuk, namun bersyukur mereka tidak pernah mengalami sakit serius, yang mengharuskan bolak-balik atau dirawat di rumah sakit.
Oh iya, kecuali anak ketiga yang pernah dirawat karena terkena demam berdarah, saat usianya enam tahun. Waktu itu memang sedang mewabah di lingkungan sekitar rumah.
Sebenarnya beberapa di antara kami pun sesekali mengalami gangguan kesehatan yang cukup serius, seperti suami yang pernah mengalami vertigo, karena tekanan darahnya yang sangat rendah.
Namun, karena sudah mengenal pengobatan alternatif, maka yang dihubungi pun adalah ahli akupunktur dan herbalis yang bersertifikat. Bukannya ke dokter.
Nah, dari relasi pertemanan tersebut, berlanjutlah hingga bertahun-tahun kemudian. Setiap kali ada di antara kami yang butuh solusi terkait masalah kesehatan, maka kami akan menghubungi beliau.
Bahkan, beberapa teman dan keluarga pun, sering kami sarankan untuk ke sana, jika memang menginginkan solusi di luar medis.
Karena bagaimanapun setiap orang menganut pemahaman tersendiri soal dunia kesehatan dan keyakinan-keyakinan yang menyertainya.
Uniknya, selain kami mengandalkan kepiawaiannya dalam memberikan saran-saran pengobatan, seiring waktu, kami pun mulai aktif mencari tahu info-info kesehatan dari berbagai sumber. Utamanya yang bersumber dari alam. Semisal tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat mengobati penyakit-penyakit tertentu. Yang rajin meramu tumbuh-tumbuhan seperti ini adalah justru pasangan saya. Saya tahunya minum saja.
Yang menarik minat dan perhatian saya adalah pengobatan yang terkait alam pikiran manusia, seperti hipnoterapi, terapi mengetuk titik-titik meridian tubuh yang biasa disebut metode EFT (Emotional Freedom Technique) atau SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique).
Pernah juga saya mengikuti pengantar untuk berlatih meditasi, walupun belum lanjut sampai ke intinya. Yang teranyar, saya ikut pelatihan napas Buteyko, yang kesemuanya itu benar-benar sangat berdampak positif pada kesehatan kami sekeluarga.
Singkat cerita, saya menyimpulkan bahwa pikiran yang terbuka terhadap kesehatan, khususnya akan menggiring seseorang, untuk terus mengembara dan mengembangkan sayap-sayap keingintahuannya, hingga akhirnya dipertemukan dengan apa yang ia minati dan butuhkan dalam kehidupannya.
Bahkan, kini kami telah dipertemukan dengan sebuah konsep kesehatan yang makin menyeluruh, meliputi body, mind, and soul (raga, pikiran, dan jiwa). Tiga sendi yang perlu diperhatikan oleh seseorang, jika ingin mendapatkan kesehatan prima.
Cara pandang tersebut dinamakan juga dengan konsep kesehatan holistik. Di mana kesehatan manusia bukan hanya ditentukan oleh aspek raga atau fisik saja, melainkan perpaduan ketiga faktor tersebut: Raga, pikiran, dan jiwa.
Bila kita semua mampu memahami dan menjalankan konsep kesehatan holistik, maka saya meyakini kualitas hidup seseorang pun akan semakin meningkat dan produktif.
Kredit gambar: https://www.orami.co.id/

Konsultan Parenting. Telah menulis buku, Dari Rumah untuk Dunia (2013) dan Metamorfosis Ibu (2018)


Leave a Reply