Karena Salahku Juga     

Salah satu momentum terbaik dalam kehidupanku, saat mengikuti kelas training  online, bertajuk 21 Days Journey. Ini saya ikuti sekitar 6 tahun lalu. Selama 21 hari, kita dipandu, dibimbing dalam sebuah pendampingan oleh mentor luar biasa.

Mentor kami seorang perempuan. Kami menyapanya dengan panggilan Mom Anisah. Sebetulnya, kelas ini adalah prakarsa dari Klub Sehat Holistik asuhan Bu Shinta. Saat itu pun,  Bu Shinta juga menjadi pendamping kelas training tersebut.

Selama 21 hari , kami mendapatkan pendampingan yang intensif. Setiap pagi ada tugas yang diberikan dan hari itu juga dilaporkan hasilnya. Di antara sekian banyak materi, ada satu materi yang betul-betul membuat saya terusik dan berkecamuk.

Bahkan, saking terusiknya, materi ini membuat saya sangat tidak tenang, penuh gejolak, karena menyita perhatianku selama 7 hari. Jadi, sudah menyita  sepertiga waktu dari kelas training  yang berlangsung selama 21 hari. Sebagai informasi, setiap harinya, diberi satu materi untuk kemudian kami apresiasi, eksplorasi, dan selanjutnya ke tahap aksi .

Sebelum ke materi yang mengusik, saya mau menyampaikan terlebih dahulu kondisi psikisku. Saya harus mengakui, bahwa ada beberapa orang yang menjadi “duri” dalam kehidupanku. Duri itu senantiasa menusuk, tidak mengenal waktu dan tempat. Setiap saat mengganggu ketenangan, kenyamanan dan sekaligus mensupport emosi negatifku dalam bentuk kegelisahan, kebencian dan, dendam membara.

Materi tersebut, peserta diminta untuk menghadirkan/membayangkan orang orang yang telah menyakiti dan menzalimi kita, kemudian berucap, “Itu semua terjadi karena saya juga. Itu semua terjadi karena salahku juga.”

 Sahabat holistik bisa bayangkan, kita yang disakiti, kita yang dizalimi, kemudian mengakui bahwa kita sendiri yang salah. Saat itu, saya betul betul menolak materi ini. Saya terusik. Tapi karena saya mau belajar dan mau berubah, maka saya pun tetap setia dengan program tersebut.

Hari pertama sampai hari kelima, saya masih sangat terusik. Egoku betul betul bergejolak. Saya yang menjadi korban, kemudian saya yang harus mengakui, bahwa itu karena kesalahanku juga. Sayalah yang salah, sehingga orang lain berbuat seperti itu kepadaku. Ibarat kata pepatah, “Sudah jatuh tertimpa tangga pula.”

Memasuki hari ke-6, barulah saya menemukan sebuah hikmah yang luar biasa dan sekaligus mulai membalikkan keadaan. Pelan tapi pasti, pikiran saya terbuka dan hati ini pun juga semakin terbuka. Keakuan semakin terkikis. Ego pun semakin padam.

Ternyata, saya sulit menerima materi ini karena (1) fokus dengan perbuatan orang tersebut (2) merasa menjadi korban (3) merasa benar dan orang lain bersalah atas perbuatannya kepadaku.

Alhamdulillah, setelah keluar dan meninggalkan tiga poin di atas, saya betul betul menjadi plong, sangat nyaman, tenang dan bahagia. Saya tidak lagi fokus pada perbuatannya, juga tidak lagi merasa korban dan sekaligus mengakui, bahwa itu semua karena kesalahanku juga. Dan ini semua menjadi terang benderang tepat memasuki hari ke-7.

Bermula dari pikiranku, bahwa perbuatan orang lain kepadaku yang membuat saya tersakiti, itu bisa terjadi karena saya pun pernah melakukan hal yang sama kepada orang lain. Karena saya merasa berkuasa atas orang lain, sehingga saya pun semena mena kepadanya. Tapi karena orang tersebut tidak punya kekuatan untuk melawan, sehingga tidak bisa membalasku saat itu. Ternyata, balasan itu saya peroleh dari orang lain di waktu yang tidak bersamaan. 

Kesadaranku semakin menguat, bahwa perlakuan orang lain kepadaku, yang membuatku tersakiti dan saya bingkai dalam format kezaliman, ternyata sebuah anugerah buatku. Mengapa? Karena orang tersebut telah memberikan pelajaran kepadaku, begitu tidak baiknya ketika disakiti dan dizalimi. Sehingga, saya pun menjadi sangat berhati hati, agar kejadian serupa tidak lagi berulang. Kembali berlaku kalimat ” bersayap”, pengalaman adalah salah satu guru terbaik.

Sahabat holistik, setidaknya ada empat macam respon yang diberikan terkait dengan perbuatan buruk orang lain kepada kita. Pertama, tidak mau memaafkan. Ini punya konsekuensi besar, sebab bara api kebencian akan selalu bersemayam, dan pasti akan membuat spiritual, pikiran, perasaan dan fisik akan terganggu. Tidak mungkin akan sehat secara holistik.

Kedua, mau memaafkan tapi bersyarat. Bersyarat maksudnya, mau memaafkan ketika orang tersebut datang meminta maaf. Bahkan bisa jadi, ada permintaan khusus untuk menebus kesalahannya. Kalau tidak datang meminta maaf, maka kata maaf  tidak akan pernah terwujud. Jadi, masih ada kemiripan dengan poin pertama. Beda beda tipislah.

Ketiga, mau memaafkan tanpa syarat. Orang ini akan memaafkan kesalahan orang lain tanpa permohonan maaf terlebih dahulu kepadanya.

Keempat, mengakui bahwa itu karena salahku juga. Perbuatan buruk orang lain kepada kita, bisa jadi adalah bentuk balasan atas perbuatan kita pada orang lain. Jikalau dilihat dari sudut pandang hukum kausalitas, hukum sebab akibat, maka perlakuan buruk yang orang lain lakukan kepada kita adalah sebuah akibat dari sebuah sebab, dan sebab itu adalah diri kita sendiri.

Jikalau memperhatikan, poin pertama sampai poin keriga, kita masih menganggap orang lain yang bersalah. Sementara poin keempat, kitalah yang bersalah, atau setidaknya punya andil atas kesalahan tersebut.

Terserah sahabat holistik, pilih yang mana? Poin pertama sampai ketiga, dengan konsekuensi kecilnya, kemungkinan untuk introspeksi diri, muhasabah diri atau apa pun istilahnya, sebab menurut kita, orang lainlah yang bersalah kepada kita. Sementara poin keempat, membuka ruang seluas-luasnya untuk introspeksi/muhasabah, menata hati dan pikiran untuk menjadi pribadi pribadi yang berkualitas dan sehat holistik.

Di akhir tulisan ini, saya mau mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada guruku Mom Anisah. Beliaulah yang telah mengajarkan ilmu yang super manfaat. Dengan ilmu tersebut, “duri kehidupanku” telah tercabut, dan sudah terbuang dari kehidupanku. Buktinya, saya sudah bisa senyumi orang-orang yang dulu pernah menyakitiku. Bagaimana dengan anda?

Kredit gambar: https://yoursay.suara.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *