Akkarena
Kusingkap sejarah
Pesona langit timur
Menyentuh hingga ke sukma
Suara lengking kecapi
Iringi sakral sinrilik dilantunkan
Dupa menjelma bayang-bayang
Kala doa merapal keniscayaan
Dari tanah kering Mangkasaratta
Geliat tau barani tumbuh perkasa
Siri’ tak kenal kasta
Pacce sebagai saudara
Terpacu darahnya- atas nama cinta
Pantang untuk berhenti menopang harga diri
Maka, tabe daeng, eroka Akkarena
Memoles kejantanan sebagai pamanca’
Meliuk jiwaku dalam tari pakarena
Mengolah batin dengan A’raga
Memecah sunyi dengan tunrung pakkanjara
Dan biarkan Patonro’ tegak hingga bersinar di kepala
Ku palewai katallassang mabaji ri butta kalassukangta
Menasbihkan diriku sebagai paenteng siri’ tau paccea
Menjungjung tinggi akbulo sibatang, accera si tongka-tongka
Sebab darah To Manurung mengalir deras
Suci hingga peraduannya berakhir
Walasuji yang di sulam penuh falsafah
Membentuk sulappa appa di dalam dada
Panji-panji kemanusiaan bergelora
Oh karaeng, pammopporonga
Eroka Akkarena
Menabuh semangat sebagai Paganrang
Appuik-puik riuh yang memeriahkan
Mengucap syukur dan mappadendang
***
Kepada Bayang
Demikianlah malam, yang tak pernah tuntas menggelapi seluruh bayang-bayang. Bahkan saat gelapnya sendiri telah sedikit demi sedikit memudar, bayanganmu masih berpendar.
Lalu bagaimana jika pagi tak cukup terang untuk membayangimu? Sedang aku tak cukup kuat untuk menerka bayang-bayang itu.
ku keluh mengeja sunyi yang panjang, kenyataan bahwa waktu yang diberikan anggur tak cukup manis untuk menerbangkannya menjadikan malam bergurau lebih lama.
Dan ketika mataku kemudian menyempit, mencari jawaban dari bayangan yang sosoknya takkan milikku lagi.
“Kita telah cukup hancur untuk saling menghilangkan,” katamu, dengan bayang yang tersisa semua akan terasa lara.
***
1
Sebuah Ujaran Kecintaan untuk Penari Latar Hitam
Tarian dan lengking seruling meringkus kesaksian
Konon, penari itu adalah ibu dari rembulan.
Semua liuk lambainy merupa cinta yang memanggil
Semua pandang senyumnya
merupa cahaya yang memenggal
Memang benar
Penari itu berasal dari surgawi.
Sedang aku, di samping latar hitam langit
Jatuh dan berulang kali tertegun pada kecintaan yang membabi buta
Dan pada kecintaanku yang tak berdaya
Mungkin, penari itu akan abadi di dalam kata.
2
Mencintai Gemini
Dalam setiap kecintaan, waktu melambat
Memupuk kerinduan yang diam-diam merambat
Kembara kaki berdansa
—mencari kembaran rasa
Riuh kasih penuh senandung
Perayaan cinta yang merangkum
Antara perempuan gemini
dengan malam-malam panjangnya
Bersua lelaki sepi dengan cita-cita liarnya.
Kembara ego menari
—menuai kembaran hati
3
Khidmat
Debar menyapu ruang khayal
Di seperempat malam teduh itu, puan, aku binal merapal.
“Bahwa telah kutemukan sepasang mata tawa dan pipi berlesung yang begitu singkat merampung cinta.”
4
Kau adalah tarian, aku musik yang berdendang
Kita adalah mahakarya dalam pentas kerinduan.
5
Cita-cita Rasa
Mari membungai sebuah kehilangan
Sepi dan deretan sunyi yang perlahan kita tinggalkan
Masing-masing, bising lelucon ramai terdengar
Renyah tawamu kini senantiasa bingar.
Mari merayakan sebuah perasaan
Rindu dan rentetan candu yang perlahan bermekaran
Masing-masing, lestari kecintaan ranum terucap
Cita-cita rasa yang senantiasa diharap.
Kredit gambar: https://web.facebook.com/p/Komunitas-Pencak-Silat-Bugis-Makassar

Muhammad Syahid Abdillah, lahir di Jeneponto, 05 Desember 2002. Seorang anak bungsu dari tiga bersaudara dan menghabiskan masa kecilnya di kampung halaman. Kini berkuliah di Universitas Negeri Makassar dan mengambil Jurusan Desain Komunikasi Visual. Baginya, menulis adalah sebuah metode rekreatif paling sederhana untuk menjauhkan rasa cemas di jiwa dalam menghadapi kenyataan-kenyataan yang ada.


Leave a Reply