Kado Bulan Purnama
Setiap masa sudah menjadi orbit semesta
Setiap kuingin mengudara, kucoba menjadi awannya
Aku selalu gagal
Menanti memang hal yang lumrah, tetapi bukan hal mudah
Malam ini, harus kuberi tema apa diriku?
Ahh… Semua berputar-putar di kepalaku dan terdengar rancu di telingaku
Menggerutu
Aku seperti orang dungu
Aku bukan peramal, yang harus selalu mengerti pesan ambigumu
Ulurkan tanganmu, sebuah kado akan kuberikan yang telah kubalut dengan bulan purnama
Buka jendela kamarmu, temui aku di balik lorong-lorong hatimu
Pada kelopak matamu tersurat tanya yang begitu dalam
Uraian rambut panjangmu, memang selalu indah
Jangan tanyakan mengapa mala mini purnama
Sebab aku juga tidak tahu
***
Gembala Rindu
Mereka yang mampu menyatukan serpihan rindu yang berhamburan di lantai
Mereka adalah sekawanan gembala yang kuberi nama ‘gembala rindu’
Mereka baru saja membelah denyut nadinya
Memangkas habis isi kepala mereka
Ia tidak tahu, mau kemana malam ini
Palu temu yang saling menghantam, mendengung keras sampai
Memecahkan gendang telinga mereka
Langkah mereka harus terhenti, kala otak mereka dicabik
Kepala mereka dihempaskan berkali-kali ke dinding tangis
Mereka hampir mati katanya, tapi mereka akan tetap merindu
Apa kau sadar? Banyak orang yang mati karena menanti
***
Tentang sebuah Sayap
Aku sedikit lega
Hujan masih turun menjelang musim pancaroba
Hingga membelai lapisan litosfera
Aku menulis ini saat mendung malam menggulung
Langit retak bergemuruh, kemudian perlahan terhenti
Aku berbicara pada angin
Tentang rinduku yang kian dalam
Tentang asa yang kian menjurang
Jarumku tidak akan patah lalgi
Sudah kupersiapkan benang yang kuat untuk sayapku
Aku akan terbang mengitari aurora
Menaruh semua luka dan duka di atas awan
Kemudian, kubiarkan ia mencair bersama hujan
Kredit gambar: https://www.liputan6.com/

Alumni Universitas Hasanuddin dan seorang penerima beasiswa LPDP tahun 2023 di Universitas Gadjah Mada. Baru saja memperoleh gelar magisternya pada bulan Juli 2025. Saat ini menyibukkan diri sebagai asisten riset di Universitas Gadjah Mada dan menulis beberapa artikel ilmiah tentang linguistik. Aktif menerbitkan beberapa artikel ilmiah mengenai riset linguistik di jurnal yang terakreditasi Sinta. Impiannnya menjadi linguis di bidang Linguistik Forensik dan seorang akademisi. Telah menerbitkan tiga buku, yaitu buku antologi puisi berjudul Kado Bulan Purnama dan Puisi-Puisi Lainnya (2024); buku self improvement yang berjudul Bertumbuh untuk Sembuh: Sebuah Perjalanan Menavigasi Mimpi (2024), dan buku antologi esai bersama pengurus Kalingga (Keluarga Linguistik Gadjah Mada) yang berjudul, Kumpulan Esai Bahasa Hari Ini (2024). Dapat terhubung melalui email: deniswatsap@gmail.com dan Instagram: @denyferdiansyah13.


Leave a Reply