Kado Bulan Purnama dan Puisi lainnya

Kado Bulan Purnama

Setiap masa sudah menjadi orbit semesta

Setiap kuingin mengudara, kucoba menjadi awannya

Aku selalu gagal

Menanti memang hal yang lumrah, tetapi bukan hal mudah

Malam ini, harus kuberi tema apa diriku?

Ahh… Semua berputar-putar di kepalaku dan terdengar rancu di telingaku

Menggerutu

Aku seperti orang dungu

Aku bukan peramal, yang harus selalu mengerti pesan ambigumu

Ulurkan tanganmu, sebuah kado akan kuberikan yang telah kubalut dengan bulan purnama

Buka jendela kamarmu, temui aku di balik lorong-lorong hatimu

Pada kelopak matamu tersurat tanya yang begitu dalam

Uraian rambut panjangmu, memang selalu indah

Jangan tanyakan mengapa mala mini purnama

Sebab aku juga tidak tahu

***

Gembala Rindu

Mereka yang mampu menyatukan serpihan rindu yang berhamburan di lantai

Mereka adalah sekawanan gembala yang kuberi nama ‘gembala rindu’

Mereka baru saja membelah denyut nadinya

Memangkas habis isi kepala mereka

Ia tidak tahu, mau kemana malam ini

Palu temu yang saling menghantam, mendengung keras sampai

Memecahkan gendang telinga mereka

Langkah mereka harus terhenti, kala otak mereka dicabik

Kepala mereka dihempaskan berkali-kali ke dinding tangis

Mereka hampir mati katanya, tapi mereka akan tetap merindu

Apa kau sadar? Banyak orang yang mati karena menanti

***

Tentang sebuah Sayap

Aku sedikit lega

Hujan masih turun menjelang musim pancaroba

Hingga membelai lapisan litosfera

Aku menulis ini saat mendung malam menggulung

Langit retak bergemuruh, kemudian perlahan terhenti

Aku berbicara pada angin

Tentang rinduku yang kian dalam

Tentang asa yang kian menjurang

Jarumku tidak akan patah lalgi

Sudah kupersiapkan benang yang kuat untuk sayapku

Aku akan terbang mengitari aurora

Menaruh semua luka dan duka di atas awan

Kemudian, kubiarkan ia mencair bersama hujan

Kredit gambar: https://www.liputan6.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *