Kebangkitan dan Kebaikan sebuah Pilihan

Adalah bangkit itu baik, dan baik untuk menuju kebangkitan. Bangkit dalam kebudayaan berpikir, baik secara naluri sifatia berbuat untuk menuju mimpi bersama, merakit dalam parit-parit  demokrasi dengan ide yang konstruktif.

Bagai pesona menabur benih harapan di setiap  sudut. Menebar dan menakar kemampuan untuk meraih simpati bersama. Mengurai kesenjangan dalam  kesenangan walau sesaat. Namun, itu sudah cukup sebagai bentuk kepedulian.

Sekali lima tahun  menyambangi setiap lereng dan lorong disusuri. Sebuah catatan kecil dari saya untuk tidak gegabah seperti semudah mengubah dan pelupa sejarah. Sementara manusia pilihannya di mana antara hari ini dan esok masih abu-abu.

Seperti saya bagai pengecut untuk  tidak seolah berprinsip “hitam putih” saja. Apakah saya pecundang? Kata seorang karib di sela waktu menyeruput  kopi di tengah kumpulan cerita klasik. Saya tidak harus menjawabnya secara terang-terangan, cukup kusiapkan mentalitas dan kualitas hidup bertahan, serta dinamis.

Terlalu pragmatis dan apatis! Karibku menambahkan.  Bukankah kebangkitan itu sebuah upaya yang baik? Dan kebaikan itu adalah salah satu cara untuk menggapai menuju kebangkitan?  Saya terdiam, meneguhkan kembali sebuah prinsip, agar tidak mudah terjebak pada suku kata dan pilihan diksi yang kadang pula masih kabur. 

Bagi saya semua berkompotensi, mereka adalah aset! Jawaban yang mencoba merangkum dua pertanyaan pilihan. Maka kompetisi ini biar lebih terjaga dengan harmoni, tanpa saling menghujani hujat. Pilihan boleh beda. Tapi cara dan sikap menjadi pendukung tetaplah secara santun. Lebih inovatif dan kreatif, tidak pula  dengan segala motif yang penuh provokatif. 

Lima tahun berjalan, waktu bagai menyulap dan menyelinap.  Di sanalah tolak ukur. Bukan menakar tanpa dasar. Untuk menuju kebangkitan hal-hal baik menjadi bagian dari proses menuju kesejahteraan. Maka bangkit tidak harus tinggal nongkrong debat kusir, begitu pula hal baik itu juga butuh ketulusan. Bukan polesan. 

Saya bagai pungguk merindukan bulan. Tiga purnama, hingga seakan saya menjadi penyair senja yang sok tahu.  Hanya sebatas mengarang romantika saja. Padahal, senja dikalungi berapa perisai dan tugas sejak fajar hingga selekas itu dilupakan, dia tidak tenggelam, dan terbenam dia hanya menjauhi kegelapan. Lalu memberi terang dengan cahaya ke bulan.

Orang memuji bulan, padahal cahayanya dia pinjam dari cahaya matahari. Apakah matahari pamrih? Atau bulan menipu? Hanya  interpretasi manusialah ibarat  pendaras yang merasa cerdas.

Selebihnya kita simak kata Aristoteles, mengembangkan teori etika yang berpusat pada kebahagiaan dan kebajikan untuk menuju manusia bangkit. Dia berpendapat bahwa tujuan utama manusia adalah mencapai suatu keadaan sejahtera dan bahagia yang dihasilkan dari praktik kebajikan. Baginya untuk segera bangkit dengan  kebajikan, adalah kebiasaan-kebiasaan positif yang membentuk karakter dan memandu perilaku manusia, menuju kebaikan dan kesempurnaan.

Saya menyimak, berusaha menyibak sebuah pesan  nilai pada setiap persona dan pesona pemeran, kontestasi yang selalu menghiasi setiap gejolak dan gejala sindrom politik yang masih suka menggelitik.

Aristoteles melanjutkan kalimatnya, berjudul “Politik”, mempertimbangkan berbagai bentuk pemerintahan dan mengelolah kota-negara, sebagai bentuk pemerintahan yang paling baik, karena memberikan kesempatan bagi warganya untuk berpartisipasi dan mencapai potensi penuh mereka. Ia juga membahas pentingnya kepemimpinan yang bijaksana dan beretika, untuk mencapai kebahagiaan  kebangkitan bersama dalam masyarakat.

Apakah semua berjalan sesuai? Itu juga jadi perenungan/evaluasi setiap kinerja dan potensi diri dari manausia yang memiliki nawacita, mimpi serta peluang untuk menuang segala potensinya.  Meraihnya dengan cara yang bijak tidak menginjak-nginjak norma yang telah ada bernama tatanan budaya. 

Saya  yakin kedua kontestan  pada konpensasi sebuah kebangkitan dan  kebaikan punya visi. Punya tujuan yang sama.  Maka urung jangan dirundung. Keduanya putra mahkota dan investasi generasi pelanjut. Maka mari  saling  mengamini mimpinya, direstui semesta dan tanah bertuah Bantaeng. 

Semua terukur, tidak saling membakar dalam  temperatur hanya karena beda pilihan.  Setidaknya pendukung jangan risih dan reseh! Jauhi perpecahan/sengketa lima tahunan yang tiada berarti.

Jadilah alkemis yang optimis bangkit dengan niat baik,  meraih kemenangan dengan tenang. Tidak harus penuh atribut seolah hendak perang. Mengubah pola pikir yang lama,  membangun mimpi, mencapai tujuan yang berarti.

Tidak lagi menjadi duri dari jejak,  bekas luka dendam politik yang kian menjadi momok. Saling menohok, secara etika, budaya!  Bahwa demokrasi itu  hanya kedok di era yang telah seharusnya mapan dalam pemikiran. 

Nah. Di balik bilik semua ditentukan.  Walau semua tak lagi rahasia langsung umum bebas dan rahasia, bukan lagi hal tabu. Justru genderang ditabuh dari pelosok hingga ke sudut kota.

Kredit gambar: Facebook Riris


Comments

4 responses to “Kebangkitan dan Kebaikan sebuah Pilihan”

  1. Dion Syaif Saen Avatar
    Dion Syaif Saen

    Makasih telah berkenan

  2. Keren kanda, menyejukkan dan menenangkan menelusuri bait demi bait,

    Disaat akhir2 ini lalu lalang postingan saling caci saling maki di FB

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Baa Kakak. Semoga semua berjalan lancar damai.

  3. Ally Fathan al-ghani Avatar
    Ally Fathan al-ghani

    Sangat mengedukasi bagi kami yg msh awam… 🙏🙏🙏
    Mudah”an bisa menginspirasi …

Leave a Reply to Ranca Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *