Kegilaan Ibu-Ibu Muda

Mengetahui sesuatu itu biasanya selalu menyemangati, tetapi banyak juga terjadi hal sebaliknya. Sedikit menakutkan dan membuat seseorang jadi was-was untuk melangkah.

Namun, berbeda dengan pengamatan saya, terhadap ibu-ibu muda yang saya kenal dulu pertama kali, belasan tahun yang lalu. Saat mengawali tahun-tahun pertama kehidupan berumah tangga, tak lama kemudian diamanahi anak-anak, sebagai buah hati dalam keluarga.

Semangat menjadi ibu, selaku orangtua tercermin sangat nyata dalam keseharian mereka. Disebutnyalah ini sebagai sebuah hidayah dari Tuhan. Ibu-ibu muda ini berbeda dalam latar belakang pendidikan, tapi sama-sama berstatus sebagai ibu rumah tangga.

Sebutlah ibu O (hanya inisial) yang ketika anak pertamanya lahir, sang suami sedang tugas belajar di kota lain di Jawa Barat. Beliau sempat menyelesaikan jenjang kesarjanaannya di sebuah perguruan tinggi negeri di Makassar pada jurusan Biologi.

Ia sangat mencintai buku dan membaca. Terlihat dalam semangatnya mengajari batitanya membaca dan berhasil lancar  pada usia 2,5 tahun, dengan menggunakan metode Glenn Doman.            

Saya yang berbeda setahun dengan ibu O saat dikaruniai anak pertama, menggunakan metode yang sama dalam mengajari anak membaca. Anak pertama saya ajar membaca pada usia 7 bulan. Baru belajar jalan waktu itu.

Terbukti ada hasil dalam usaha tersebut, meskipun tidak berlanjut hingga ia lancar membaca, karena beberapa kesalahan yang saya lakukan dalam prakteknya, yang akhirnya tidak berhasil pada usia yang diperkirakan.

Bukan metodenya yang salah, tapi cara saya yang terlalu terburu-buru ingin melihat hasilnya, sehingga selalu ingin mengetest si anak. Padahal dalam buku sudah diperingatkan, untuk jangan pernah mengetest anak dalam proses tersebut, kecuali si anak yang memang menginginkannya. Meskipun begitu, metode membaca ala Glenn Doman ini benar-benar terbukti tokcer.            

Di sini saya tidak ingin menceritakan hasilnya, tapi proses yang berlangsung selama mengasuh anak pertama, penuh dengan semangat gila-gilaan. Sampai rela begadang bermalam-malam,  hanya untuk membuat alat peraga membaca.

Teman O bilang, dia semangat karena ingin membuktikan keberhasilan  metode yang diajarkan dalam buku tersebut. Oh iya, saat itu kami belum berteman bahkan tidak saling mengenal. Hanya suami yang satu angkatan dengannya, tapi beda jurusan di perguruan tinggi yang sama.

Nanti setelah ia kembali berdomisili di Kota Makassar, barulah kami mulai berkenalan. Inilah barangkali yang dikatakan orang-orang yang memiliki getaran yang  sama, pada akhirnya akan saling terhubung satu sama lain.            

Teman yang satu lagi, sebut saja namanya ibu A. Ia tidak berevolusi mengajar anaknya membaca dengan metode yang sama dengan yang kami berdua lakukan, tapi memilih jalur bersekolah di rumah alias home schooling.

Setiap kali saya berkunjung ke rumahnya, akan kita temui alat peraga nempel di mana-mana. Cara berkomunikasi dengan anak-anaknya seperti layaknya berbicara dengan orang dewasa.

Rumahnya sering dijadikan rujukan dan tempat berkonsultasi bagi pasangan-pasangan lain yang sedang tertimpa masalah. Perhatian mereka terhadap perkembangan dan pendidikan anak-anaknya sangat besar.

Si ibu meskipun seorang sarjana bahasa asing di perguruan tinggi negeri, tapi lebih memilih tinggal di rumah mendampingi pertumbuhan putra-putrinya. Anak pertamanya saat ini di usia yang masih sangat muda, sudah menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di kota lain, saat anak-anak seusianya masih duduk di bangku awal SMU.            

Karena kecintaan yang sama pada masalah parenting, akhirnya mempertemukan kami bertiga dalam dunia yang sama, meskipun beda lahan garapan.

Ibu O saat ini aktif mengajar di sebuah sekolah ramah anak, yang sangat peduli pada psikologi perkembangan dan pendidikan anak, menjadi salah satu sekolah yang kontinyu mempraktekkan pola-pola asuh terbaru, berdasarkan hasil-hasil penelitian sesuai dengan kebutuhan anak.

Sosok Ayah Edy, Ihsan Baihaqi, dan Munif Chatib adalah sebagian dari pemerhati-pemerhati pendidikan anak dan sekolah, yang kerap mereka undang dan menjadi rujukan dalam memandu anak-anak didik mereka.            

Ibu A, saat ini bersama suami (dosen di perguruan tinggi negeri) menjadi pengasuh dan pembina salah satu pondok pesanteren modern yang ada di wilayah Sulawesi Selatan. Meskipun anak-anaknya sudah mulai beranjak remaja, namun perhatian dan kecintaannya pada dunia anak tetap tersalurkan lewat kerja-kerja sosial mereka di dunia pendidikan.            

Sebagai wujud semangat para ibu, kami mulai menggarap sebuah kelas pengasuhan yang terdiri dari para ibu-ibu dan bapak-bapak muda, yang seperti juga awalnya kami dulu.

Bahkan, di antara mereka banyak yang belum menikah. Untuk duduk bersama, bergerak bersama untuk mulai memikirkan, mempersiapkan, dan membenahi keluarga-keluarga kecil mereka, sebelum anggota keluarga semakin besar dan permasalahan pun menjadi semakin sulit untuk ditangani.

Kini, puluhan tahun kemudian, anak yang saya asuh penuh kegilaan itu, sudah menjadi ibu muda. Tampaknya, ia pun tergila-gila pada pola pengasuhan anak yang lebih progresif. Apatah lagi, sudah punya putri usia setahun.

Walaupun ada perbedaan metode pengasuhan, tapi sedikit banyaknya, secara substansial, sama dengan yang pernah saya terapkan padanya. Tentu ada adaptasi, selaras dengan konteks dinamika pengasuhan saat ini.

Kredit gambar: Pinterest


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *