Tempo hari, senja perlahan menyelimuti Kota Bulukumba dengan jingga merona. Aku mencuar di tepi pantai, memandangi ombak bergulung-gulung. Puang Lolong berdiri di sampingku, merasakan hembusan angin laut, membawa aroma garam dan kebebasan.
“Kini, kau paham bukan?” tanyaku saat kami duduk di atas gundukan pasir, memandang ke arah bumantara bersinau-sinau. “Faktanya kau mencintai pemuda suku Makassar. Suku yang menjijikkan kata keluargamu.”
Puang Lolong terdiam, tatapannya menyelam dalam lautan pikiran yang penuh pergulatan. Keluarganya tak pernah menyetujui hubungan kami. Mereka memandang rendah suku Makassar. Bagi mereka, Puang Lolong, berdarah bangsawan keturunan La Patau Matanna Tikka, Raja ke-16 Kerajaan Bone, kudu menjaga kesucian adat dan tradisi mereka.
“Tapi, kau harus tahu,” lanjutku dengan nada penuh keyakinan. “Aku punya filosofi hidup sebagai pemuda suku Makassar. Filosofi ini warisan ayahku sebagai nutrisi agar kuat melawan takdir. Le’ba kusoronna biseangku, kucampa’na sombalaku, tamassaile punna teai labuang (Bila perahu telah kudorong, layar telah terkembang, tak akan aku berpaling kalau bukan pelabuhan yang kutuju).”
Puang Lolong menyimaknya. Filosofi itu bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi sebuah janji. Janji bahwa aku akan terus berjuang demi cinta, tak peduli seberapa besar ombak menyeruduk.
“Prinsip inilah yang kugenggam, Puang Lolong,” kataku dengan tegas. “Namun, aku juga tahu, kerap kali kau dicemooh bukan? Yah, perihal perangaimu mencabuli kesakralan adat. Katanya, kau tak mencerminkan keagungan perempuan suku Bugis. Klaim keluargamu, bukan klaimku.”
Puang Lolong merasakan sakit yang mendalam setiap kali keluarga mencemooh dirinya. Mereka menganggap hubungan kami adalah aib, mencoreng pamor keluarga. Tapi bagi Puang Lolong, cinta tak bertabir garis suku dan budaya.
“Satu dari ribuan adat yang kau langgar tentu saja perihal hubunganmu denganku,” lanjutku. “Keluargamu memandang marga suku mereka lebih tinggi ketimbang suku Makassar.” Tampaknya, Tuhan keliru menurunkan Adam ke bumi. Buktinya, anak-cucu Adam tak henti-hentinya mendewakan suku dan budaya demi kemenangan marga.
Aku menarik napas dalam-dalam, memandang jauh ke arah laut tampak tak berujung. “Apalah daya, panggung asmara kita dikacaukan oleh kontestasi suku dan budaya. Tapi, aku tak menyerah. Aku akan melamarmu bulan depan. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Aku tak mau menjadi pengecut serupa anak-cucu Adam yang lain.” Puang Lolong menatapku dengan air mata berlinang.
***
Sang surya menyingsing, memancarkan sinar keemasan, menyentuh setiap sudut desa. Di pekarangan rumah, bunga-bunga beraneka rupa, warna, dan jenis tampak bermandi cahaya pagi. Puang Janggo dengan lembut menyiramkan air, memberi kehidupan pada bunga-bunga mekar. Desa Gattareng, dengan keindahan memikat, menjadi surga bagi para serangga. Mereka berdatangan, mencari nektar, pasangan, dan material untuk membangun sarang. Kehadiran serangga itu berkah, menjadi penghubung cinta antara putik dan benang sari, layaknya penghulu menyatukan dua jiwa dalam ikatan suci.
Hati serangga berbunga-bunga dengan hadirnya bunga. Hati bunga pun berbunga-bunga dengan kehadiran serangga. Demikian juga hati Puang Janggo, berbunga-bunga menyaksikan simbiosis mutualisme antara serangga dan bunga. Namun, berbeda dengan Puang Lolong, hatinya tak berbunga-bunga. Kata-kata pahit keluarganya masih menggema dalam pikirannya, meresapi setiap sudut jiwanya. Ia tak mendapat restu atas hubungannya denganku. Mungkin orang tuanya tak memahami arti cinta yang berbunga-bunga. Bagaimana mungkin? Mereka mendewakan perbedaan suku hingga mengorbankan keagungan cinta, menyatukan aku dan Puang Lolong.
“Apakah aku harus menolak pinangan laki-laki baik datang kepadaku kek?” Tanya Puang Lolong.
“Kenapa mesti menolak? Justru itu harapan keluarga. Kau itu sudah layak menikah.” Jawab Puang Janggo.
“Walaupun dia miskin?”
“Tak masalah.”
“Walaupun bukan keturunan bangsawan?”
“Tak masalah.”
“Walaupun pemuda suku Makassar?”
Puang Janggo tertegun sejenak. Ia tak tergesa-gesa menjawab pertanyaan cucunya. Sejak dulu, leluhur selalu menganjurkan agar menikah dengan sesama suku. Puang Janggo merenung, zaman telah berubah. Menurutnya, tidak semua suku Makassar berperangai buruk, dan tidak semua suku Bugis berhati malaikat. Setiap manusia memiliki sisi malaikat dan setan dalam dirinya. Ia menyikapi polemik adat masa lalu dengan kebijaksanaan mendalam. Dalam perjalanan hidup, ada kalanya kebijaksanaan menang, ada kalanya keangkuhan mengangkat trofi kemenangan.
“Kamu maunya bagaimana?” Tanya Puang Janggo.
Puang Lolong membanjiri telinga Puang Janggo dengan kisah asmaranya penuh nestapa. Ia menuding keluarganya seperti komplotan psikopat, membunuh harapan dan impiannya. Kini, gadis Bugis itu menjadi tuna asmara. Namun, secercah harapan muncul ketika Puang Janggo berjanji akan mendukungnya saat proses lamaran yang menyisakan waktu sebulan lagi.
***
Hari itu cerah, kontras dengan hatiku sedang mendung. Sepanjang perjalanan menuju Desa Gattareng, keraguan menyelimuti pikiranku tentang lamaran, apakah akan berjalan mulus. Aku berusaha menyugesti diri bahwa keyakinan kuat akan mengaktualkan harapan ke dunia nyata.
Kijang Innova dan Pick Up Isuzu Traga keluargaku tiba di jerambah rumah Puang Lolong. Kedatangan kami, yang merupakan keluarga suku Makassar, senyatanya tidak diinginkan keluarga besar Puang Lolong. Dari kaca jendela mobil, aku mengamati tak satu pun dari keluarga itu melantingkan senyum atas kedatangan kami. Meski begitu, mereka tetap mempersilakan kami duduk di ruang tamu.
Musyawarah dua keluarga besar tentang uang panai, yang dianggap sebagai denda adat namun dimaknai sebagai membeli perempuan, pun dimulai. Keluarga besarku menyebut angka empat puluh juta sebagai satu tradisi tawar-menawar uang panai dalam pernikahan adat masyarakat Sulawesi Selatan. Angka itu diucapkan dengan harapan dapat diterima dengan baik. Namun, tanggapan keluarga besar Puang Lolong sangat lantang. Mereka menampik angka disebutkan, menuding keluargaku melecehkan suku Bugis.
Aku mencuri pandang ke arah Puang Lolong. Wajahnya terlihat tegang, seperti halnya hatiku bergemuruh. Suasana semakin memanas, musyawarah awalnya berbisik kini berubah menjadi suara keras saling beradu. Setiap argumen dilontarkan seolah menambah bara di dalam ruangan.
Puang Janggo angkat bicara. Dengan suara bijak penuh pengalaman, ia mencoba menenangkan suasana. “Anak-anakku, kita di sini untuk mencari jalan terbaik bagi kedua belah pihak. Tidak semua tradisi harus menjadi penghalang kebahagiaan anak cucu kita. Mari kita bicarakan ini dengan hati terbuka.”
“Mohon maaf, angka itu penghinaan bagi kami. Standar pernikahan suku Bugis, lima puluh juta,” celoteh bibi Puang Lolong dengan nada tinggi.
Tak masalah. Keluargaku segera menyanggupi angka lima puluh juta tersebut. Dari awal, itulah target kami. Aku yakin telah memenuhi permintaan keluarga besar Puang Lolong. Alih-alih, kenyataan jauh dari harapanku. Keluarga besar Puang Lolong mulai menyangkal, menyombongkan status sosial mereka, keluarga bangsawan keturunan Raja Bone. Silsilah keturunan Raja Bone dengan lancar mereka lisankan, bahkan berpongah-pongah menyatakan, suku Bugis berada di kasta tertinggi ketimbang suku Makassar.
“Ketika seorang laki-laki bukan dari golongan suku Bugis, bukan keturunan raja, maka kami menyarankan agar membayar denda adat sebesar seratus juta. Lima puluh juta sebab beda suku. Lima puluh juta sebab beda kasta,” tutur salah satu anggota keluarga Puang Lolong dengan nada dingin.
Kecongkakan mereka membuat kehormatan suku kami terpelanting. Keluargaku, dengan suara lantang, menuturkan tidak menerima penghinaan terhadap suku Makassar. Suasana semakin panas, seakan api menyala di dalam ruangan.
Di tengah situasi memanas, kehadiran Puang Lolong mengagetkan seluruh peserta musyawarah. Apalah daya, lagi-lagi, Puang Lolong melanggar adat proses lamaran. Tak seharusnya ia hadir. Calon mempelai wanita tidak boleh hadir secara langsung pada proses lamaran itu.
“Kalian harus menerima lamarannya! Kalau tidak, aku akan kabur bersama Daeng Bangkolo,” ancam Puang Lolong dengan berani.
Bak tersambar petir di siang bolong, ayah Puang Lolong sontak mendaratkan telapak tangannya yang lebar tepat pada permukaan daging mulus pipi kanan anaknya. “Dasar anak kurang ajar. Kau masuk kamar!” titahnya dengan tegas.
Menyaksikan peristiwa itu, keluargaku pun enggan melanjutkan proses lamaran. Mereka beranjak mengangkat pantat mereka berbarengan, hendak meninggalkan rumah yang kini terasa seperti medan perang. Namun, Puang Janggo menghalangi kepulangan kami. Dengan otoritasnya sebagai pemegang kebijakan, ia mencukupkan angka lima puluh juta agar situasi tak makin memanas. Dengan berat hati, keputusan itu ditelan mentah-mentah keluarga besar Puang Lolong. Mereka tak mampu melawan keputusan Puang Janggo, karena ia adalah opunna, yang dituakan untuk memberi putusan.
Akhirnya, hati Puang Lolong mengudara menerobos cakrawala angkasa. Kakeknya benar-benar membantunya. Ia tak menyangka telah menang melawan adat dan keluarganya sendiri. Kini, kami memenangkan permainan.
***
Usia pernikahanku telah memasuki lima tahun. Tuhan menganugerahi kami kehadiran anak mungil, kuberi nama Daeng Mattawang. Kendati, selama kurung waktu lima tahun itu, kerap aku mendapat cibiran dari keluarga besar Puang Lolong. Dihina sebagai laki-laki tak punya rasa malu mempersunting perempuan Bugis bangsawan. Nyaris, hari Minggu pun tak kuanggap libur. Semua hari sama saja. Celaan tiap hari menyapaku. Lapang dada satu-satunya kuda terakhir harus aku langkahkan demi melindungi sang raja di dadaku. Hingga, muncul petaka besar, mengakhiri kisahku.
Ketika Puang Janggo menyempurnakan catatan perjalanan hidupnya pada usia enam puluh delapan tahun, ayah Puang Lolong mendesakku secara diam-diam untuk menalak anaknya. Desakan itu jelas kutolak mentah-mentah. Aku berdalih selama ini tak pernah mencampakkan anaknya. Aku memberi nafkah lahir dan batin.
“Bukan itu alasannya.” Mertuaku menggertak. Aku tak membalas ucapan mertuaku. Aku membisu layaknya disalak anjing bertuah.
“Kamu tahu siapa yang menerima pinanganmu? Hanya Puang Janggo yang menerimamu. Apakah kamu tahu kasta kami? Kamu tahu suku kami? Kau tak perlu menjawabnya, aku sudah tahu jawabannya sejak masih dalam pikiranmu itu. Dengan entengnya engkau dan keluargamu datang melamar anakku seolah tak punya rasa malu. Oh, memang benar, kau dan keluarga besarmu itu memang tak punya rasa malu. Selama ini aku hanya mengenalmu sebagai seorang pemuda dari suku yang menjijikkan bersama keluargamu itu. Kenapa kau menatapku begitu? Tidak terima? Lebih baik kau pulang sana sama keluargamu itu. Ceraikan anakku!”
Mertuaku memuntahkan kata-kata pahit padaku. Kata-kata telanjang bulat, melumpuhkan lawan tanpa ampun. Ia leluasa menghina habis-habisan keluargaku. Kali ini, Aku tak sanggup lagi menahan makian itu. Aku benar-benar muak.
“Cukup! Aku akan menceraikan anakmu detik ini juga.”
“Baguslah.”
Aku pun membelakangi mertuaku tanpa mappatabe (memberi hormat dengan membungkukkan badan). Aku bergegas ke kamar mengemasi barang-barangku untuk pulang ke kampung halamanku.
“Kamu mau ke mana Daeng?” Tanya Puang Lolong.
Air mata menitis di pipiku tanpa kata-kata terucap. Dalam diam, aku meninggalkan rumah tanpa menoleh ke belakang, hanya kening anakku kucium lembut. “Suatu hari nanti, ketika kau telah dewasa,” bisikku perlahan, “ubahlah pandangan keluargamu. Biarkan cinta yang menyatukan, bukan perbedaan suku yang memisahkan.”
Suara langkahku melambat di jalan setapak, diselimuti keheningan. Pikiranku melayang ke masa depan, di mana harapan akan persatuan dan cinta menggema dalam hati setiap insan.
Kredit gambar: https://lintasgayo.co/

Lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 02 September 1995. Ia menyelesaikan studi S1 di Institut Agama Islam As’adiyah (IAI) Sengkang Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah Filsafat Islam tahun 2019. Tahun 2021, ia juga berstatus sebagai mahasiswa penerima program beasiswa PBSB Kemenag di Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon (UI BBC) Fakultas Manajemen Pendidikan Islam Jurusan Manajemen Pendidikan Islam dan menyelesaikan studi S2 tahun 2023. Sebelumnya, ia pernah mondok di PP Syekh Muhammad Ja’far Banyorang Kabupaten Bantaeng, Sulsel. Selanjutnya, di PP Nurul Falah Borongganjeng Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Lalu, di PP As’adiyah Sengkang Kabupaten Wajo, Sulsel. Terakhir, di PP Darul Ulum Ad-Diniyah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Ia juga aktif sebagai relawan PMI di Kabupaten Wajo, serta, menjabat sebagai Wakil Ketua BSO Moragister Kemenag Periode 2021-2023. Pernah ikut Kelas Menulis Esai Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply to Adam Kurniawan Cancel reply