Lupakan Saja?

Kalimat “lupakan saja” sangat sering kita dengar, bahkan kita pun mungkin pernah mengucapkannya. Ketika mendengar keluhan seseorang tentang sesuatu, kejadian ataupun peristiwa,  terkadang dengan entengnya berucap lupakan saja.

Begitupun ketika merasa kecewa dan bersedih, kemudian curhat kepada sahabat, maka sahabat tersebut pun akan berucap lupakan saja. Kalimat lupakan saja sangat bersahabat dengan mulut dan telinga kita.

Kalimat lupakan saja, sebetulnya senada dan seirama dengan kalimat abaikan saja, ataupun dengan kalimat cuekin saja. Ada persinggungan dan titik temu di antara kalimat-kalimat tersebut .

Betulkah bisa melupakan sesuatu yang telah mengganggu di pikiran dan mengusik di hati? Ataukah hanya sebentuk pernyataan untuk lari dari kenyataan?

Saya jadi teringat dengan beberapa orang pasien yang berkata, “Saya sudah berusaha melupakannya, tapi semakin saya mau melupakannya, maka semakin muncul dalam pikiranku, sehingga saya semakin tersiksa dibuatnya.”

Demikian pula komentar lainnya, “Sebetulnya, sudah biasa tidak ingat, tapi entah kenap, tiba-tiba muncul lagi, dan itu membuat terusik kembali.”

Pernyataan-pernyataan tersebut mengindikasikan, sesuatu yang telah terjadi dan sudah mengganggu dan mengusik kita. Sebetulnya, tidak akan pernah dan bisa dilupakan. Bahkan, kejadian yang sudah lama sekalipun.

Kenapa? Sebab, kejadian tersebut sudah terekam dengan baik dalam memori  kita, sudah ada filenya dan tersimpan dengan baik pada pikiran bawah sadar.

Pernyataan “saya sudah lupa”, bisa jadi itu berada pada pikiran sadar saja, yang menurut para ahli, hanya 10% saja memengaruhi pernyataan dan perilaku seseorang. Selebihnya, 90% dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar.

Salah satu kondisi yang membuat sebuah peristiwa terekam dengan baik, adanya emosi yang menyertai kondisi tersebut. Misalnya, seseorang yang disakiti dan betul-betul merasa terzlimi, hingga yang bersangkutan merasa sangat bersedih, kecewa dan marah, maka hampir dipastikan, bahwa peristiwa  tersebut akan terekam dengan baik, dan setiap saat muncul dalam pikirannya dan pada gilirannya akan kembali memengaruhi perasaannya.

Apakah kondisi seperti ini bisa selesai dengan kalimat “lupakan saja?” Dari beberapa kasus yang ada, tidak akan pernah selesai dengan kalimat lupakan saja. Justru, hal tersebut bisa menjadi semakin menguat ketika dipaksakan untuk melupakannya.

Ini sesuai dengan hukum fisika, yaitu aksi = reaksi. Semakin berusaha melupakannya, maka semakin teringat. Sama dengan orang yang belum bisa tidur, kemudian memaksakan untuk tidur, maka matanya semakin terang benderang.

Lalu apa yang mesti dilakukan dan dari mana mesti mulai? Jawabannya ada pada beberapa langkah, pertama, menerima bahwa semuanya hanyalah kondisi saja yang bersifat netral,  tapi cara pandanglah yang akan mengubah kondisi netral tersebut. Jika dipandang dari sisi negatif, maka menjadi masalah, dan jika dipandang dari sisi positif maka yang tadinya masalah, justru menjadi anugerah. Menerima secara sederhana adalah tidak mempersoalkannya. Tidak mempersoalkan bukan berarti membenarkan, melainkan untuk lebih bisa berdamai dengan kondisi tersebut.

Kedua, hadirkan/bayangkan apa pun yang mengganggu di pikiran, dan mengusik di perasaan, kemudian senyumi? Jikalau terasa berat untuk tersenyum, paksa saja. Insyaallah,  pelan-pelan akan mampu beradaptasi. Senyuman ini bermanfaat untuk meminimalisir efek emosinya.

Ketiga, Karena sudah melalui proses menerima dan tersenyum atas kondisi tersebut, maka suasana akan lebih nyaman untuk langkah berikutnya, yaitu pemetaan kondisinya. Pikiran bisa lebih jernih untuk melakukan pemetaan. Pemetaan kondisi dilakukan di atas kertas, supaya lebih mudah melihat dari segala sisi. Hal ini  juga agar kerja otak bisa lebih maksimal. Pemetaan kondisi bisa dimulai dengan mengidentifikasi, misalnya si A yang merasa disakiti oleh si B. Betulkah si B yang bersalah? Atau hal tersebut justru efek dari perbuatan  si A sendiri.

Keempat, memberikan solusi bisa dilakukan setelah pemetaan. Misalnya, setelah  terpetakan kondisinya, dan ternyata itu hanya miskomunikasi, maka hal tersebut harus dijelaskan agar tidak terulang lagi kesalahpahaman. Atau, jikalau si B yang memang bersalah, maka bisa dengan memaafkan. Begitupun ketika si A menyadari bahwa hal tersebut terjadi karena perbuatannya sendiri, maka ini menjadi pelajaran bagi si A untuk berbenah, sehingga kejadian serupa tidak lagi terjadi.

Kelima, manakala teringat kembali  dan masih mengganggu di pikiran, maka segeralah beristighfar agar pikiran negatif tersebut tidak berlanjut, kemudian senyumi? Insyaallah dengan istighfar dan senyuman, maka kondisi kembali akan terkendali.

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa untuk melupakan pastilah tidak bisa, sebab sudah terlanjur terekam pada pikiran bawah sadar kita. Pola penanganan di atas, sama sekali tidak bermaksud untuk melupakan,  melainkan ketika teringat, maka sudah tidak berefek pada pikiran dan perasaan. Sudah tidak lagi berpengaruh, ibarat angin lalu saja.

Mengapa? Karena sudah tidak ada lagi emosi negatif yang menyertainya, maka insyaallah, semuanya menjadi baik baik saja.

Kredit gambar: Facebok Rahmi Raka


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *