Kematian: Kebutuhan yang Dirindukan dan Dicintai

Ada dua kata yang digunakan terkait dengan kematian, maut dan wafat. Kedua kata tersebut, berasal dari bahasa Arab yang telah menjadi bahasa Indonesia. Keduanya digunakan dalam al-Quran.

Dalam bahasa Arab, kata wafat berkonotasi makna sempurnanya waktu kehidupan dijalani oleh setiap manusia. Sempurnanya waktu kehidupan tersebut berbanding lurus dengan sempurnanya reski yang diterima manusia. Jadi, apabila seorang manusia, telah menjalani waktu kehidupan secara sempurna dan reskinya juga telah sempurna dia terima, maka ia pasti wafat.

Adapun kata mati berkonotasi makna disfungsinya tujuan sesuatu diciptakan. Misalnya tanah disebut tanah mati, karena tanah tersebut disfungsi menjadi lahan tumbuhnya tanaman. Dengan kata lain, tanah tandus dan gersang dinamai tanah mati dalam al-Quran. Maka ketika air langit atau air hujan turun kepada tanah tersebut, kemudian tanaman tumbuh padanya, maka tanah tersebut dinamakan tanah yang hidup setelah mati.

Dengan konotasi makna al-maut yang demikian, maka manusia yang disfungsi tujuan penciptaannya, yakni tidak menegakkan agama Allah atau tidak menegakkan penghambaan kepada Allah dalam hidup dan kehidupannya, pada hakekatnya manusia tersebut telah mati meskipun belum wafat.

Sebaliknya, apabila manusia menegakkan agama Allah dan menegakkan penghambaan kepada Allah ketika ia hidup dan dalam kehidupannya di dunia, maka manusia seperti itu tidak pernah mati, meskipun ia telah wafat.

Konsepsi yang demikian, dipahami dari kandungan QS. Albaqarah/ 2: 154 dan QS. Ali Imran/ 3: 169. Kedua ayat ini menegaskan bahwa jangan pernah mengira dan mengatakan bahwa orang yang mati (wafat) di jalan agama Allah adalah mati. Tidak, ia tetap hidup meskipun sudah wafat.

Bahkan dalam ayat 169-172 surah Ali Imran disebutkan, bahwa orang-orang yang menegakkan agama Allah di dunia, menegakkan penghambaan kepada Allah, setelah kewafatan mereka, mereka memperoleh anugrah reski di sisi Allah.

Mereka bergembira atas keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Mereka menggembira dan bergirang hati melihat sanak keluarganya, anak istri dan suaminya serta handai tolangnya yang belum wafat, masih menjalani waktu kehidupannya di dunia dengan menegakkan agama Allah, berjihad di jalan Allah, menegakkan penghambaan kepada Allah.dengan ikhlas.

Mereka tidak merasakan ketakutan sedikit pun dan tidak bersedih hati. Mereka benar-benar dalam kegembiraan dan kebahagiaan atas rahmat dan anugrah Allah untuk mereka, sebagai balasan atas keimanan mereka dan gerakan penegakan agama Allah serta penghambaan kepada-Nya.

Itulah sebabnya dalam QS. Ar-Ruum/ 30: 43, ditegaskan perintah Allah, agar manusia menegakkan agama Allah yang lurus, sebelum datangnya hari kewafatan yang tidak dapat ditolak dan ditunda oleh siapa pun.

Menurut penulis, ayat 43 surah ke 30 ini, mengisyaratkan makna, yakni hendaknya manusia dalam menjalani waktu kehidupannya menegakkan agama Allah yang lurus. Jangan biarkan waktu kehidupan telah sempurna dijalani, namun agama Allah tidak tegak pada dirinya.

Apabila hal demikian ini terjadi pada seseorang, maka sesungguhnya ia adalah berada pada musibah yang sangat besar. Yakni musibah kematian agama. Manusia seperti ini terancam kesengsaraan abadi di akhirat. Dia sudah mati sebelum wafatnya.

Imam Ali ketika ditanya, tentang musibah apa yang paling besar yang menimpa manusia? Beliau menjawab musibah dalam urusan agama, “lamma suila ‘ani asyaddil mashaib: al-mushibatu bi ad-diin.”  Pada kesempatan yang lain, beliau juga berkata, “Dhamu al-mashaib al-jahl.”  Artinya, musibah terbesar adalah kebodohan (akan agama dan tidak mengenal Allah).

Berdasarkan perkataan Imam Ali tersebut, dapat ditegaskan bahwa kemiskinan, kelaparan, penyakit, dan kematian, bukanlah musibah terbesar. Semua itu, hanya bentuk atau soal ujian hidup dan kehidupan.

Apabila soal-soal ujian tersebut dicahayai dengan cahaya penegakan agama Allah, yakni diterima dengan rida dan rela sebagai takdir ketetapan Allah, lalu bersabar, selanjutnya dikembalikan dan diadukan kepada Allah lewat penegakan ibadah salat, maka semua bentuk ujian kesulitan hidup, pasti menjadi jalan kenikmatan dan kebahagiaan, bukan jalan kesengsaraan. Inilah hakekat makna, “Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.” dan makna firman Allah, ”Wastainu bishshabri wa ash-shalah.”

Kesimpulan sementara yang dapat ditarik dari uraian di muka, kematian bukanlah musibah yang menyengsarakan bagi manusia, selama manusia tersebut  menjalani hidup dan kehidupannya dengan agama.

Kembali Imam Ali berkata, “laa hayaata illa biddiin wa laa mauta illa bijuhudil yaqin.”  Berarti, tidak ada kehidupan tanpa menegakkan agama dan tidak ada kematian, kecuali pengingkaran terhadap keyakinan agama.

Bagi penulis, perkataan hikmah Imam Ali itu, mengisyaratkan makna, hakekat kehidupan adalah menjalani waktu kehidupan bersama agama, yakni menegakkan agama Allah. Sedangkan hakekat kematian adalah kematian agama. Yakni, menjalani waktu kehidupan tanpa menegakkan agama Allah.

Bertolak dari uraian di atas, juga penulis ingin tegaskan, kematian merupakan kebutuhan bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, kematian dirindukan dan bahkan dicintai bukan dibenci, ditakuti dan dijauhi.

Rasulullah saw. pernah berpesan kepada Abu Dzar, dunia ini sejatinya penjara bagi orang mukmin, kubur adalah tempat yang aman dan surga merupakan tempat kembalinya. Adapun bagi orang kafir, dunia ini surga, kubur adalah siksanya dan neraka tempat kembalinya. Ibnu Mas’ud berkata, “Mati adalah hadiah dan impian yang ditunggu-tungguh oleh setiap orang mukmin.”

Kematian dikatakan sebagai kebutuhan yang dirindukan, diimpikan dan dicintai, karena kematian merupakan jalan terbaik yang mengantar seorang mukmin kepada kesenangan tertinggi dan sempurna, yakni berjumpa dengan Allah. Keyakinan yang demikian, dapat dipahami dari QS. Ali Imran/3: 198. Kandungan ayat menegaskan bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.

Terkait dengan kematian sebagai kebutuhan yang diimpikan, dirindukan dan dicintai, juga dapat dipahami dari wasiat Rasulullah saw. Yakni, “Jika kamu menjaga wasiatku, maka tidak ada sesuatu yang aku lebih sukai darimu selain mati.” Pada sabda beliau yang lain, Rasulullah saw. bersabda kepada sahabatnya Makhul; hai Makhul apakah kamu menyukai surga? Makhul menjawab ya Rasulullah siapa di dunia ini yang tidak menyukai surga? Rasulullah saw. kemudian berkata; maka cintalah mati, sebab sesungguhnya kamu tidak akan melihat surga sehingga kamu mati (HR. an-Naim).

Sabda Rasulullah saw. juga menegaskan, mati merupakan cita-cita tertinggi bagi seorang mukmin. “Rasulullah saw. selalu berdoa; Ya Allah senangkan hati orang kepada mati bagi yang mengetahui bahwa aku adalah utusan-Mu. Demikian keterangan bahwa kematian adalah kebutuhan manusia yang dirindukan, diimpikan dan dicintai serta menjadi cita-cita tertinggi.

Berikutnya, bagaimana rasa kematian itu sendiri, ketika seseorang mengalami dan menghadapi sakratul maut? Bukankah setiap jiwa atau manusia akan merasakan kematian? Seperti ditegaskan dalam QS. Ali Imran/3: 185. Apakah kematian itu indah dan menyenangkan? Ataukah buruk, menyedihkan dan menyengsarakan?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tesebut, dapat dipahami dari istilah “sakarat al-maut.” Kata sakarat yang mengikuti kata al-maut bermakna mabuk. Dengan demikian, dapat dipahami, ketika manusia mengalami peristiwa sakarat, ia dalam keadaan mabuk, baik karena mabuk kenikmatan dan kebahagian, maupun ia mabuk karena kesulitan, kesengsaraan dan siksaan.

Dalam al-Quran dibedakan rasa kematian seorang mukmin dengan nonmukmin, atau orang belum mencapai derajat mukmin, masih zalim dan kafir. Bagi orang yang mukmin thayyibiin, ketika mengalami dan menghadapi sakaratul maut, malaikat berkata kepadanya keselamatan atasmu dan masuklah ke dalam surga berdasarkan apa yang engkau kerjakan. Seperti dijelaskan dalam QS. an-Nahl/16: 32.

Sedangkan QS  an-Nahl/16: 28 menjelaskan, ketika orang-orang yang zalim atas dirinya sendiri menghadapi sakaratul maut, kepadanya diperlihatkan dan diperintahkan masuk neraka sebagai balasannya. Demikian pula QS  al-Anfal/ 8: 50 menegaskan, orang kafir ketika menjalani sakaratul maut, malaikat memukuli wajah dan punggung mereka, lalu dikatakan kepada mereka secara tegas, rasakanlah siksa neraka yang membakar. Kandungan yang senada juga ditemukan dalam QS. al-An’am/ 6: 93.

Keterangan terkait dengan kesedihan dan kesengsaraan kaum yang zalim dan kafir, saat mengalami sakaratul maut, mengakibatkan mereka membenci dan menjauhi kematian. Mereka ingin hidup seribu tahun di dunia, padahal itu mustahil.

Mereka sungguh mencintai dunia dan menjadikan sebagai surga kenikmatan, akibatnya mereka melupakan akhirat. Berbeda dengan orang mukmin yang benar-benar mukmin dalam pandangan Allah. Dunia baginya adalah penjara. Akhirat adalah sebagai oreintasi kehidupannya. Karena mereka yakin bahwa akhirat lebih baik dan lebih sempurna dibanding dunia. Wa Allah a’lam.


Comments

One response to “Kematian: Kebutuhan yang Dirindukan dan Dicintai”

  1. menearik kajian berbasis ayat ini, tks sharing ilmunya shg kami tahu perbedaan mati dan wafat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *