Tersebutlah sebuah nama: Saskia. Berayahkan H. Iwan Setiawan dan beribukan Puskesmas. Lahir di satu wilayah ketinggian Kabupaten Bantaeng, Sinoa. Merujuk pada akte kelahirannya, bernama lengkap, Inovasi Bendera Saskia, lahir di Puskesmas Sinoa.
Apa pentingnya Inovasi Bendera Saskia? Singkat saja saya tabalkan, inovasi inilah merupakan pondasi dari puluhan inovasi berikutnya di Kabupaten Bantaeng. Menginspirasi berbagai inovasi, guna berlaga di berbagai ajang kompetisi inovasi, baik lokal, regional, dan nasional.
Eloknya lagi, daya pukau Inovasi Bendera Saskia direplikasi oleh beberapa puskesmas di Bantaeng, baik replikasi langsung, maupun melakukan proses adaptasi berdasarkan kebutuhan setiap puskesmas. Paling tidak, replikasi inovasi yang tercatat dalam buku, Binar dari Selatan, terdapat 5 inovasi yang telah ikut berlaga di berbagai ajang kompetisi.
Bahkan, ada yang sampai keajang nasional, Top 45 KIPP Nasional tahun 2022, Saskia PD (Peduli Disabilitas). Replikasi lainnya, Saskia Tangguh, Saskia Manis, Saskia Puber, dan Jedar Saskia.
Inovasi Bendera Saskia, diinisiasi oleh H. Iwan selaku Kepala Puskesmas Sinoa. Kini, H. Iwan sudah menjadi Sekretaris Dinkes Bantaeng. Saskia sendiri, serupa akronim dari, “Satu Bendera Satu Sasaran Kesehatan Ibu dan Anak”, disingkat Saskia. Akronimnya, mungkin terinspirasi dari seorang artis yang lagi naik daun waktu itu: Saskia Gotik (?)
Kehadirannya sebagai solusi untuk menandakan adanya ibu hamil, bayi, dan balita. Juga sebagai jalan keluar dari masalah kesehatan ibu dan anak, ketika status kesehatannya tidak terpantau secara berkala, serta kurangnya kepedulian keluarga, masyarakat, dan pemerintah desa.
Inovasi Bendera Saskia dipasang oleh bidan dan kader posyandu. Terdiri dari empat warna. Hijau, biru, merah muda, dan merah tua. Warna-warna tersebut berdasarkan usia kehamilan mereka, sedangkan warna merah tua khusus untuk ibu hamil berisiko tinggi.
Khusus buat bayi yang tidak datang ke puskesmas buat imunisasi, dipasangkan warna kuning dan untuk rumah dengan status balita berstatus gizi kurang dipasang bendera warna ungu. Jadi, totalnya ada 6 bendera dengan fungsinya masing-masing.
Terkesan amat sederhana inovasi ini, tapi menjadi solusi terdepan di wilayah kerja Puskesmas Sinoa. Dan, kesederhanaan inilah yang mengantar Inovasi Bendera Saskia ke ajang kompetisi tertinggi Top 45 KIPP Nasional 2020.
Sebagai inovasi yang mewakili Kabupaten Bantaeng, akhirnya meraih juara dan mendapat hadiah, sejumlah uang, 7,1 milyar. Hadiah milyaran ini, peruntukannya untuk merehabilitasi Kantor Dinas Kesehatan Bantaeng, sekaligus didapuk sebagai gedung inovasi. Pun, buat menguatkan fasilitas puskesmas dan bidan desa.
Tahun 2024, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) RI, kembali menyelenggarakan kompetisi inovasi bernama, Pemantauan Keberlanjutan Replikasi Inovasi (PKRI), sebagai pengganti KIPP Nasional. Keunikan kompetisi ini berdasarkan undangan, termasuk katagori Replikasi. Salah satu yang diundang adalah replikasi Inovasi Jedar Saskia. Berdasarkan seleksi tahap awal, Jedar Saskia masuk dalam 36 besar dan akan memperebutkan posisi berikutnya, 18 besar sebagai tahapan tertinggi.
Seperti apa Inovasi Jedar Saskia? Lebih elok bila saya kedepankan saja pokok-pokok narasi yang bakal dipresentasikan oleh inovatornya, Kapus Pa’Bentengang, drg. Surya Fatma Haeruddin, bersama PJ.Bupati Bantaeng, Andi Abubakar dan Kadis Kesehatan Bantaeng, dr. Andi Ihsan, pada Senin, 15 Juli 2024.
Dinarasikannya, Inovasi Jedar Saskia lahir atas adanya masalah dan tantangan dalam pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Pa’bentengang, khususnya pada permasalahan (a) rendahnya persalinan di faskes (b) rendahnya cakupan IMD dan ASI Eksklusif dan (c) sulitnya menemukan rumah sasaran.
Permasalahan tersebut disebabkan, karena ibu hamil lebih senang melakukan persalinan di rumah, yang tentunya menggunakan alat dan fasilitas seadanya. Selain itu, sebagian besar kondisi geografis di wilayah kerja Puskesmas Pa’bentengang, aksesnya sulit dijangkau oleh kendaraan roda empat. Hal lainnya, rumah sasaran sulit ditemukan karena tidak adanya penanda khusus.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka lahirlah inovasi ini dengan keunikan, berupa adanya bendera penanda di setiap rumah sasaran, tersedianya kendaraan jemput dan antar yang didampingi petugas kesehatan
Progres dari replikasi Inovasi Jedar Saskia, awalnya inovasi ini bernama Jedar (Jemput dan Antar) pada tahun 2017, hanya melayani jasa jemput dan antar ibu bersalin. Fasilitas yang tersedia berupa 1 ambulans.
Kemudian, pada tahun 2020, dilakukan replikasi Inovasi Bendera Saskia, melahirkan sebuah inovasi modifikasi, diberi nama “Jedar Saskia”, ditandai dengan MoU bersama Puskesmas Sinoa, beserta pemerintah desa terkait penggunaan ambulans desa.
Setelah replikasi, layanan inovasi meningkat dari tahun ke tahun, baik dari sisi jumlah kendaraan, maupun fasilitas pendukungnya, berupa penambahan alat pemeriksaan tanda vital, dan USG mobile serta personal pendampingan.
Bentuk replikasi inovasi ini, berupa Inovasi Jedar Saskia, merupakan gabungan dan modifikasi antara Inovasi Jedar dari Puskesmas Pa’bentengang dengan Inovasi Bendera Saskia dari Puskesmas Sinoa. Jadi, menyata perkawinan dua inovasi dari dua puskesmas yang berbeda, maka lahirlah sang anak: Jedar Saskia.
Adapun perbedaan kedua inovasi ini ada pada (1) jumlah bendera penanda, di mana jumlah bendera saskia 6 buah, sedangkan Jedar Saskia 4 buah (2) sasaran inovasi Bendera Saskia adalah ibu hamil dan anak, sedangkan Jedar Saskia mengkhususkan pada ibu bersalin dan (3) Jedar Saskia difasilitasi dengan mobil jemput dan antar secara gratis.
Dampak yang ditimbulkan setelah berjalan pada tahun 2020, Inovasi Jedar Saskia telah membawa perubahan yang signifikan. Meskipun mengalami ketidakstabilan data (naik turunnya jumlah persalinan), tapi setiap ibu hamil yang ingin melahirkan ditangani langsung dengan melakukan layanan jemput antar.
Sehingga jumlah persalinan di fasilitas kesehatan, yang sebelumnya berada pada angka 0% dengan jumlah persalinan sebanyak 161 orang, kemudian mampu mencapai 100% persalinan faskes di tahun 2021 pada angka 180 persalinan, dan tetap bertahan di angka 100% sampai tahun 2023.
Agar inovasi berjalan sebagaimana adanya, maka dikedepankan strategi keberlanjutan. Pertama, Pemkab Bantaeng telah menerbitkan Perbup No. 34 tahun 2021, tentang Replikasi Inovasi Bendera Saskia.
Kedua, Dinas Kesehatan Bantaeng berkomitmen mengalokasikan anggaran tahunan untuk penguatan layanan inovasi.
Ketiga, telah melakukan kerjasama dengan pemerintah desa dalam penyiapan anggaran operasional kendaraan.
Keempat, penambahan jumlah SDM bidan dengan menghadirkan bidan di setiap dusun dan secara berkala ditingkatkan kapasitasnya.
Kalau saja presentasi dan wawancara nantinya menghasilkan penghargaan, serupa juara yang diharapkan, maka dapat saya pendapatkan, Jedar Saskia, sang anak dari Bendera Saskia, telah mengikuti jejak orangtuanya. Meskipun dengan bentuk dan katagori yang berbeda. Intinya, masuk 16 besar nasional.

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply to Sulhan Yusuf Cancel reply