Literasi dan Kehayatan Manusia

Kalau boleh dibilang, budaya paling purba bagi seorang muslim adalah membaca. Bagaimana tidak, perintah pertama agama bagi kaum muslim, adalah membaca. Manakala Sang  pencipta memberi wahyu “bacalah. Bacalah menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptkan seluruh makhluk” (Q.S.96:1-2).

Bagi Sebagian ulama meyakini surat al-‘Alaq merupakan wahyu Allah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Wahyu atau pentunjuk Allah ini mengandung makna, antara lain, menggugah manusia untuk memahami asal usul penciptaan manusia. Adapun makna umumnya, agar manusia terbebas dari buta huruf dan buta informasi.

Masih segar dalam ingatan, dahulu, di masa kanak-kanak, kemampuan membaca dan menulis adalah hal pertama diajarkan oleh guru dan orang tua, setelah itu barulah kemampuan lain diajarkan, seperti menghitung, menggambar, dst. Dari kemampuan membaca dan menulis itulah, pelbagai ilmu pengetahuan kita peroleh. Bahkan lebih jauh lagi, bangunan peradaban manusia amat ditentukan oleh aktivitas membaca dan menulis.           

Belakangan aktivitas membaca dan menulis biasa diistilahkan dengan aktivitas literasi. Kiwari, aktivitas literasi telah menjelma menjadi sebuah gerakan di pelbagai wilayah. Bukan itu saja, gerakan literasi yang makin menggulung itu, dapat diterima oleh pelbagai unsur kehayatan manusia, seperti budaya, ekonomi, politik, kesehatan, dst. Ringkasnya, bisa dibilang, literasi menjadi pengikat pelbagai unsur kehidupan manusia.

Tak dimungkiri, kemajuan suatu masyarakat dapat diukur dari kemajuan literasi di mana masyarakat itu berdiam. Makin kuat budaya literasi, niscaya peradaban manusianya makin maju. Hingga pada fase tertentu, setiap level kehidupan akan bergandengan dengan literasi.

Oleh karena literasi telah menjadi kebutuhan, maka, pada fase awal, setiap individu mesti menambatkan tradisi literasi di lingkungan rumah tangganya atau keluarga . Sudah saatnya setiap anggota keluarga akrab dengan aktivitas membaca. Apalagi di zaman modern saat ini, dengan mudah pelbagai jenis bacaan tersaji dalam bentuk digital.

Pada fase selanjutnya aktivitas literasi akan merangkak naik dari lingkungan keluarga ke lingkungan sosial. Dari situasi itulah, lambat laut aktivitas literasi bermetaforfosis menjadi budaya, yang sebelumnya hanyalah sebuah tradisi.

Pada rentetan budaya akan berkecambah pelbagai organisasi-organisasi masyarakat. Seyogianya, organisasi itulah menjadi katalisator tumbuhnya gerakan literasi. Kesemua fase literasi, idealnya akan bersinggungan dengan pelbagai komunitas, yakni komunitas rumah tangga, lingkungan social, dan organisiasi.   

Perkembangan literasi dewasa ini telah menunjukkan semacam akulturasi, bahwa, gerakan literasi mesti harus digandengkan dengan segala macam bentuk ikon budaya pop. Apa jadinya, apabila pelbagai tradisi maupun budaya mengalami tuna literasi. Menurut Wahyuddin Halim, seorang cendekia perguruan tinggi di Kota Makassar, mengungkapkan, akar dari intoleransi adalah iliterasi. Gagasan itu dituliskan oleh Sulhan Yusuf dalam bukunya, Pesona Sari Diri.

Menurut Wahyuddin, ada tiga faktor penyebab seseorang, sekaum atau sekelompok jatuh pada terungku intoleransi, yakni kepicikan geografis, kepicikan ideologis dan kepicikan literasi. Kepicikan geografis, serupa dengan gejala kurang melakukan perjalanan atau kurang piknik. Keadaan ini mengambarkan semua yang tidak sama dengan apa yang dialaminya dianggap sebagai perbedaan, dan berujung kesalahan. Pendeknya, setiap yang berbeda menjadi ancaman keberadaannya.

Sedangkan, kepicikan ideologis semacam tertutupnya pandangan dunia yang dianut, termaksud pandangan keagamaan sekalipun. Siapa yang hanya menganggap semata-mata pandangannya saja yang benar, maka di situlah benih intoleransi berkecambah. Dalam lingkungan sosial, sering kita temukan seseorang yang kukuh tehadap pandangannya, kadang memaksa dan menolak pandangan orang lain, sehingga benturan pendapat dan konflik tak terelakkan. Kepicikan jenis  ini sangat sulit menumbuhkan suasana dialogis. Padahal di ruang- ruang dialogis, pandangan dunia seseorang akan terbuka, bebas dari terungku kejumudan.

Adapun yang terakhir, yakni kepicikan literasi. Jenis kepicikan ini menyata jika seseorang membatasi dirinya pada bacaan tertentu, atau terbatas aksesnya terhadap bahan bacaan. Pada tingkat lebih tertentu, hanya mau membaca bacaan yang sesuai dengan kepentingan diri dan kelompoknya.

Semua kepicikan di atas (geografis, ideologis dan literasi) dapat terselesaikan dengan mendorong gerakan literasi. Menurut Kak Sul, panggilan akrab Sulhan Yusuf, selaku tokoh pengerak literasi di Kabupaten Bantaeng, mendakukan tindakan literasi yang paling praktis, yakni mengkampanyekan budaya baca. Orang boleh berdiam suatu wilayah tertentu, atau tidak pernah sekalipun meninggalkan wilayahnya, namun berkat bantuan buku bacaan, bisa melakukan pengembaraan, perjalanan, dan piknik ke dunia lain. Sejak dulu, buku dianggap sebagai jendela dunia. Tindakan membaca buku sama halnya dengan membuka jendela dunia.  

Pun demikian dengan kepicikan ideologis. Melalui aktivitas membaca, dengan sendirinya mendialogkan pandangan-pandangan yang kita anut. Satu hal yang pasti, jika pandangan ideologis kita terbuka, maka, semakin kaya pula perspektif kita terhadap pandangan dunia yang lain. Keragaman pandangan adalah kekayaan keagamaan. Pada konteks ini, tindakan membaca menjadi penting dalam hal pengaruh langsung terhadap keluasan pandangan.

Sementara itu, kepicikan literasi merupakan wujud nyata dari kondisi tuna literasi (iliterasi). Aktivitas membaca dan menulis adalah salah satu cara sederhana terhindar dari kepicikan literasi. Dalam wujud nyata, tindakan membaca, haruslah diterjemahkan ke dalam gerakan literasi secara luas. Arkian, gerakan literasi tidak hanya menyentuh komunitas masyarakat, namun, seluruh unsur kehayatan masyarakat mesti bergandengan dengan literasi.

Jika saja seluruh komunitas (keluarga, lingkungan sosial dan organisasi), dan unsur kehayatan masyarakat, yang mana di dalamnya hidup tradisi literasi, maka hal ini cikal bakal pembebasan dari  terungku kepicikan. Hanya dengan gerakan literasi, harapan kita mengenai kehidupan masyarkat yang toleran, terbuka, dan damai akan mewujud. Dan, saya sampai pada kesimpulan itu.   


Comments

One response to “Literasi dan Kehayatan Manusia”

  1. Syafaruddin Avatar
    Syafaruddin

    Mantap ini, sebagai pengaya ilmu tentang pemahaman literasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *