Kristalisasi Tut Wuri Handayani dalam Kehidupan

Pendidikan dan kehidupan adalah dua hal yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Kehidupan akan mengalami perubahan dan transformasi menuju dan/atau menjadi peradaban, ketika pendidikan berjalan dengan baik.

Ketika kehidupan hanya mengalami perubahan dan kemajuan yang bersifat atau berbentuk material, fisik dan infrastruktur, dan masih diwarnai asas ketidakadilan atau ketimpangan, maka bisa dipastikan pendidikan itu belum berjalan dengan baik. Jika merujuk pada konsepsi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, ada hal penting yang terlupakan atau minimal belum diimplementasikan dengan baik dalam kehidupan.

Hal penting yang saya maksudkan telah terlupakan dari konsepsi pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah semboyan yang sangat dikenal sampai hari ini, meskipun hanya satu penggalannya. Jarang diketahui secara utuh, apatah lagi diimplementasikan. Semboyan itu, “ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah memberi semangat), tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan) (Yudi Latif, 2020: 133).

Sebagaimana Ki Hadjar Dewantara yang telah mempraktikkan dan membumikan nilai-nilai semboyan tersebut di atas dalam proses belajar-mengajar di Perguruan Taman Siswa-nya, idealnya hari ini, kita pun melakukan hal yang sama dalam dunia pendidikan dan kehidupan empiris. Urgensitas dan signifikansinya, bisa dilihat dari dua pandangan pemikir besar dunia yang telah dikutip oleh Agus Suwignyo ke dalam bukunya, Dasar-Dasar Intelektualitas (2007).

Agus Suwignyo mengutip pandangan seorang pedagog, Paulo Freire dan Mangunwijaya, “Pendidikan dapat menjadi suatu proses penyadaran dan pemerdekaan hanya jika para guru, dosen dan pengelola institusi pendidikan telah mengalami penyadaran atau pemerdekaan itu lebih dahulu”. Dirinya pun mengutip pandangan pendiri Mazhab Frankfurt.

Yang dimaksud oleh Agus Suwignyo pendiri Mazhab Frankfurt adalah Herbert Marcuse. Pesannya adalah “Agenda-agenda perubahan sosial hanya mungkin terlaksana jika agen-agen perubahan sosial telah mengalami perubahan radikal di dalam diri mereka”.

Bahkan Suwignyo menegaskan pula “Tanpa para guru/dosen dan pengelola institusi pendidikan mengalami penyadaran dan pemerdekaan cara berpikir, tak usahlah berharap murid/mahasiswa akan menjadi insan merdeka. Selain itu ditegaskan pula “Tanpa dosen melakukan penelitian, jauhkanlah asa bahwa mahasiswa akan menjadi peneliti ulung”.

Senapas dengan yang ditegaskan oleh Freire, Mangunwijaya, Marcuse, dan Suwignyo di atas, semboyan Ki Hadjar Dewantara memang sangat penting untuk membumikan nilai-nilai dan wujud praksisnya dalam kehidupan. Hanya saja, terkadang kita masih menggunakan dalil antitesis yang sekilas terkesan bernilai penting dan sangat inspiratif, padahal sesungguhnya mengandung hal paradoks dan memicu banyak problematika kehidupan.  

Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan)

Secara praksis di dalam kehidupan ini, tanpa kecuali dalam lingkup dunia pendidikan formal, semboyan pertama ini belum terimplementasikan secara maksimal dan baik. Padahal ini sangat penting. Ada sejumlah pandangan selain yang diungkap oleh para pemikir besar di atas yang memiliki relevansi dan mempertegas pentingnya keteladanan dan/atau memberi teladan.

Secara teologis, melalui QS. Al-Ahzab [33]: 21, kita bisa memahami urgensi keteladanan atau suri teladan. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasululllah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”.

Dari ayat di atas, kita bisa mendapatkan penegasan bahwa dalam diri Rasulullah dalam memberikan tuntunan kepada kita selaku umatnya untuk menjalankan ajaran agama Islam, bukan hanya mengajarkan Al-Qur’an, menyampaikan sabda-sabdanya, termasuk pula ada suri teladan.  Ada keteladanan yang baik. Saya yakin, karena keteladanan inilah pula sehingga Michael H. Hart menetapkan Rasulullah Muhammad Saw sebagai “tokoh” paling berpengaruh di dunia.

Ketika bangsa dan negara kita, sulit mengalami kemajuan-kemajuan kolosal, terjadi problem kepemimpinan, dan mengalami—sebagaimana yang diistilahkan dan dipertegas oleh Hajriyanto Y. Thohari cultural lag (kecekakan budaya) dan cultural shortage (ketekoran budaya), bagi saya itu pun karena krisis keteladanan.

Mengapa Yudi Latif rela menghabiskan banyak waktu, modal material dan immaterial untuk menulis dan menuntaskan buku karyanya Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan (2014)? Yudi Latif menemukan dan sangat merasakan bahwa “Ada keluhan panjang dan luas tentang krisis keteladanan. Banyak yang meratapi ketiadaan panutan di tengah masyarakat, sebagai mercusuar peradaban”.

Banyak tokoh, pemikir, cendekiawan yang sudah lama meninggal, dan masih berpengaruh sampai hari ini, bahkan untuk dalam jangka waktu yang lama ke depan atau pada masa yang akan datang, itu karena pemikiran dan keteladanannya. Dalam buku Yudi Latif yang saya sebutkan di atas itu, salah satu substansi dan bahkan tujuan penulisannya adalah memantik pemahaman dan kesadaran betapa pentingnya menuliskan kembali untuk mentransmisikan kisah keteladanan para “pahlawan”, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup.

Dalam kehidupan sosial termasuk dalam ilmu sosiologi ada yang dikenal dengan istilah “Entropi budaya”, ini bisa disebut pula toxic culture. Pemahaman sederhana dari istilah ini, bahwa energi yang ada atau yang sering digunakan tidak lagi mencapai tingkat produktifitas yang normal. Ibarat mobil, awalnya bahan bakar minyak (BBM) satu liter sudah bisa menempuh perjalanan sepuluh kilometer, tetapi karena terjadi entropi, yang ditempuh tersisa enam sampai tujuh liter, sebagai contoh saja.

Jika memahami pandangan Buya Ahmad Syafii Maarif dalam buku Agus Suwignyo yang saya sebutkan di atas, kita bisa berkesimpulan bahwa yang menyebabkan entropi budaya di antaranya dan pengaruhnya sangat besar adalah “disposisi sikap yang rendah”. Buya Syafii menegaskan bahwa “disposisi sikap rendah” itu adalah ketika tidak ada kesesuaian antara “kata” dan “perbuatan”. Secara teologis, saya memahami bahwa konsepsi keimanan pun menegaskan pentingnya “disposisi sikap yang tinggi” yaitu kesesuaian antara “hati” “kata” dan “perbuatan”.

Hanya saja, sering kali oleh sebagian mubalig dan jumlahnya tidak sedikit menyampaikan pesan –yang bagi saya—aneh, antitesis, dan paradoks dari penegasan para pemikir besar dunia, termasuk yang ditegaskan dalam ayat yang saya kutipkan di atas. Pesannya kurang lebih seperti ini jika diparafrasekan ulang, “Jangan lihat orangnya, tetapi perhatikan apa yang disampaikannya”.

Bagi saya, pesan ini selain antitesis, paradoks dan menjadi salah satu faktor ketidakefektifan dakwah atau kurang menggugah, ini pun adalah dalil spekulatif untuk menutupi kekurangan mereka. Meskipun tidak semua yang menyampaikan ini memiliki kekurangan atau dosa, tetapi saya menduga awal mula munculnya pesan ini, adalah menutupi kekurangan dan dosa.

Padahal, selain banyak hal yang telah ditegaskan di atas tentang urgensi keteladanan, jika kita memahami teori retorika Aristoteles, yang terdiri dari ethos, phatos, dan logos, maka ada hal penting untuk mengkritisi pesan mubalig tersebut di atas. Ini demi fungsi dakwah untuk menggugah umat.

Dalam tiga unsur penting teori retorika Aristoteles, ethos menegaskan pentingnya kepribadian, jati diri, karakter, atau bisa disimpulkan keteladanan para orator atau pembicara dalam berkomunikasi atau menyerukan informasi, kebenaran, kebaikan dan/atau pesan-pesan dakwah. Ketika unsur ethos tidak terpenuhi, meskipun phatos dan logos-nya terpenuhi, maka ada ketidakefektifan komunikasi atas tujuan dari komunikasi, agar suatu informasi dan pesan bisa diterima dan memengaruhi komunikan (baca: orang lain).

Saya pribadi selaku penulis, pernah merasakan di mana ada seorang mubalig yang jika tinjau dari unsur logos retorika (baca: penguasaan materi, skill bicara, retorika) sudah mantap, begitu pun phatos telah memenuhi kategori baik/berkualitas, tetapi saya mengetahui kepribadian mubalignya, yang perbuatannya paradoks dengan nilai-nilai dan ajaran agama, khutbahnya itu terasa masuk di telinga kanan, keluar di telingah kiri. Atau, mungkin sama sekali tidak masuk. Ini karena unsur ethos (kepribadian, keteladanan) tidak terpenuhi pada dirinya.

Belum lagi, jika kita berbicara dan menggunakan basis pemahaman dan ilmu DNA, yang memiliki mekanisme on/off. Salah satu yang bisa mengubah dan memengaruhi mekanisme on/off DNA adalah faktor lingkungan. Keteladanan tentunya bagian dari sesuatu yang dimaknai lingkungan. Jadi, keteladanan dan sebaliknya bisa memengaruhi orang-orang di sekitarnya, yang berawal melewati mekanisme apa yang terjadi dalam DNA.

Saya teringat sedikit substansi suatu cerita, jika tidak salah ingat saya membacanya di antara buku-buku karya Emha Ainun Najib. Singkatnya dan jika saya parafrasekan, ada orang tua (suami-istri) mengeluh sikap anaknya yang tidak mau berhenti merokok. Sudah seringkali dinasihati, tetapi tidak terjadi perubahan. Akhirnya kedua orang-tuanya mendatangi—kita sebut saja—seorang guru.

Ketika kedua orang tua anak bersama anaknya tiba di rumah sang guru, langsung mengutarakan maksud kedatangannya, agar sang guru bersedia menasihati anaknya tersebut. Pada saat itu, sang guru berkata “Pulang dulu, tiga pekan kemudian datanglah kembali ke rumah ini.” Itulah pesannya.

Setelah cukup tiga pekan, maka kedua orang tua tersebut bersama anaknya, datang kembali ke rumah sang guru. Ternyata pada saat itu, sang guru hanya memberikan pesan—yang menurut mereka sangat sederhana—“Nak, kamu jangan merokok. Merokok itu merusak kesehatan, apatah lagi umurmu masih sangat mudah.” Atas pesan dan nasihat sederhana ini, anak itu berhenti merokok.

Orang tuanya heran, bertanya, dan sedikit protes ke sang guru. “Pak guru, jika pesan dan nasihatnya hanya seperti itu, mengapa pada saat kedatangan pertama kami, tidak langsung saja dinasihati?” “Mengapa kami harus menunggu tiga pekan?” Sang guru menjawab singkat “Untuk menasehati anak itu, saya harus terlebih dahulu berhenti merokok. Jadi selama 21 hari ini, saya pun telah berhenti merokok.” Bapak dari anak itu ternyata perokok berat.

Ing madya mangun karsa (di tengah memberi semangat)

Perubahan kehidupan apatah lagi untuk harapan menjadi peradaban, yang terjadi haruslah perubahan individual dan kolektif. Baik secara individualitas maupun kolektifitas, kepemimpinan bisa menjadi jawaban karena di dalamnya pun ada sikap dan perilaku yang terus memberikan semangat.

Jika kita mengetahui dan memahami pemahaman progresif dari QS. at-Taubah [9]: 128, itu dipandang mengandung sifat kepemimpan profetik. Di antara sifat kepemimpinan profetik yang dimaskud seorang pemimpin, selain sence of cricis (kepekaan), dan kasih sayang, yang dibutuhkan pula adalah sence of achievement (semangat yang menggelora). Di sinilah urgensi, signifikansi dan implikasi dari pesan kedua dari semboyan Ki Hadjar Dewantara dalam konsepsi pendidikannya.

Tut wuri handayani (Di belakang memberikan dorongan)

Dalam kehidupan keluarga, bangsa, dan negara pesan ketiga dari semboyan Ki Hadjara Dewantara ini sangat penting. Memberikan dorongan bisa pula dimaknai sebagai bagian daripada konsepsi regenerasi. Sedangkan regenerasi adalah indikator utama dari keberhasilan pemimpin dan kepemimpinannnya.

Dorongan yang diberikan oleh siapa saja dan kepada siapa saja, pada umumnya bermakna positif, konstruktif, dan produktif. Dorongan pun mengandung semangat. Sedangkan semangat bisa dipastikan di dalamnya mengandung harapan.

Jika membaca dengan baik cara pandang Karen Amstrong dalam buku karyanya, Sejarah Tuhan (2011), tentang pemahamannya terhadap agama Islam, kita bisa menemukan satu di antara sekian banyak substansi ajaran Islam adalah harapan. Ketika semangat dan dorongan yang diberikan oleh pemimpin, orang tua baik orang tua secara biologis maupun psikologis, ideologis, dan sosial mengandung harapan, maka pada saat yang sama sesungguhnya hal itu akan menjadi instrumen strategis laksana pelampung agar generasi tidak tenggelam dalam samudera kehidupan.

Yang membuat atau menyelamatkan Viktor E. Frankl dari penderitaan hidupnya yang telah menelan korban istri dan anak-anaknya, adalah harapan. Harapan adalah cara terbaik bertahan dalam hidup. Harapan akan semakin kuat jika disemangati dan didorong pula oleh orang-orang yang ada di sekitar kita.

Kredit gambar: Markazinayah.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *