Gurun Penantian dan Puisi lainnya

Gurun Penantian

aku bukanlah seorang musafir cinta

aku tak pernah berusaha mencari cinta

aku hanya seorang penanti sejati

yang menanti kepastian dalam langkah pasti

langkahku penopang ragaku

yang akan pergi ke mana pun sesukaku

hingga ada yang datang mengajaknya berlari

menggapai mimpi

aku hanya menunggu

menunggumu dalam poros di ambang kepastian

jika janji itu pasti, datanglah bersama seluruh mimpi

yang akan kita rangkai kelak

karena aku menunggumu

aku tak pernah berharap kembali ke masa lalu

namun para pengembara rindu kerap enggan

mengajakku mengarungi waktu bersama

aku juga tak pernah memilih hidup bersama kenangan

hanya saja langkah ini masih tetap ingin berputar pada porosnya

aku lelah tuan

berjalan lalu berlari di antara kerikil tajam kehidupan

berkejaran dengan waktu yang kian memuakkan

entah di mana peraduanku

***

Candu Rindu

seperti mawar yang kupetik, rela gugur di jemarimu

tahukah kau apa yang membuatnya bahagia?

sedang embun di daun jendela, mungkin ia ingin membuka jendela

dan memberimu bunga

hanya saja kau ragu menggapainya sebab durinya akan melukai jemarimu

senja dan sepercik syahdu

dari dalam hati yang merindu,

bersamamu kualunkan tembang merdu,

merayu ilalang sayu

ahh! Betapa bodohnya daku

kepada pelita malam,

puisi ini bukan menggantikanmu,

hanya kata-kata sederhana yang juga butuh cahaya

hanya ada ini, secarik puisi untuk kekasih yang entah di mana kini

daku rindu senja

kelakar khas mereka

rekah senyuman mereka

hangat semangat mereka

diriku menginginkan yang dulu wahai waktu

lembayung senja pun mengalun, bersama rintik hujan

rasa itu telah larut, terbawa hingga hanyut gelombang laut

secercah demi secercah sudah hilang

sekat-sekat pun telah tumbuh mengantarai

sampan sudah damai berlabuh

dalam alunan ombak samudera kedamaian!

***

Di Ambang Cintaku

laksana kuncup bunga saat matahari semi menjelang

yang selalu menadah percik sinarnya

agar berkenan matahari berbagi

sebab kini aku tlah kalap hati

aku seakan berdiri setegar batu karang

menghalau badai rasa yang acap kali

menghunus akal untuk berlalu dan melupakan

atau berandai bahkan menetap hanya padanya

ini tentang kau

penyemai ulung di hamparan ladang hati

yang selalu mengisi cawan kasih dengan cinta

lalu tak tahu untuk apa biji itu kau tanam

sedang aku adalah penyiram tabah

yang senang merawat canduku akan dirimu

dan hanya mampu menunggu dalam dingin sejenak hingga kau datang

di persimpang jalan tertegunku untuk berbalik arah

untuk tak mengikuti btapakanmu lagi

namun hati ini seakan tlah tabah

sedang kau di sana, tengah asyik menyemai kasih yang lain

tanpa melihatku selancip dari sudut matamu

lalu kini seakan kuterhunus rasaku sendiri

ujung belati tlah menyayat hati

hingga kini memilih patah hati

di ambang cintaku, kemanakah kau?

Kredit gambar: sesawi.net


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *