Alibi di Ujung Mati
sepak pedati berpacu
menanti palu menghakimi
jiwa berdebar menanti, kemana kepakan menaungi?
denting violin meremangi ruang
sayup larik berdesir di sepotong jendela
berpangku lesu raut dikibas angin
apa gerangan tak serintik hujan menyapa malam?
sedang titian senja berlenggak ayu
menciduk jingga di temaram hari
kemanakah mereka? bergegas hingga berlari
sisakan tanya pada kelopak mawar berbui sendu
adakah iming berbalut misteri,
hingga kerling kecut mampu tenangkan diri
maka terpasunglah makna, tersirat dalam hati
tentang nada sumbang yang tetap bersimponi
dan cakrawala molek yang setia menutup hari
serta terka mendidih di atas kasa pati
nantikanku di gerbang abadi
sehabis berkoar nuri pemakan sesaji
setiba kabar gegap gempita itu
nasib tinggallah sepotong alasan mati
***
Tanpa Suara
hening, renyah kelakar mereka
lampu kerlap menyeringai
ada rasa ranum di tepi titian temu
bibir bunga terkatup manja
saat semar senyum terkulum
dingin berbui sia-sia
sedang lajur sampan tak tahu arah
bermuara di dermaga amarah
ranum adegan kita bergaya khas dinasti kuno
lalu apa daya gelagat terkepak depan penonton
jikalau tak setitik lilin pendarkan cahaya
hingga tirai tak mampu tepiskan, cerita berganti alur, desahku
maafkan aku, yang menaruh bara di belanga tuamu
menyeruit benang merah pada kain dua warna
dan menampik tatap, menengadah akan harapan
ialah maksud yang urung terlisankan
selepas nirwana bersua cinta
kau hantarkan dingin malam pada kegamannganku
maaf, ada hujan di keningku dan amarah di rautmu
jika salahku, hakimilah daku!
***
Tarian Hujan
aku butiran air di bibir daun
memetik larik dalam penantian pelangi
silih berganti gerimis jatuh mencumbu ranting
sesekali menetes di atas air keruh tlah jemu
rayuan awan mematikan rembulan
satu persatu warna mulai menari hitam putih
di antara sajak-sajak yang tak terbaca lagi
kucoba berdamai dengan hujan
kubiarkan angin membawa lukaku
biarkan rintik ini yang berkisah padaku
maka tak usah bila kita
menarik benang merah pada kata rindu
katakan saja pada pengemis yang selalu ingin
diajak berbicara, saat kita tak lagi sama menulis cerita
kini nyanyianku tlah menyatu dengan tanah
diiringi derai hujan yang ikut berdendang
apakah aku hujan? Atau sekadar embun di ujung malam?
pelangi bisa tahu apa bentukku yang sejati
dan aku bahagia, karena bisa meremah hujan saat jemari berjauhan
hujan malam ini begitu tenangnya,
bahkan aku tak bisa mengeja bahasanya,
rintiknya serupa penantianku,
sedangkan gemericiknya seirama dengan syairku
wahai malam yang menua,
haruskah aku sampai padanya dengan tergesa-gesa?
Jangan berlalu, tinggallah dan lanjut berlagu
sebab tarian kita sedang berlalu
aku mulai piawai menari bersama hujan malam itu

Mahasiswa magister Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia. Gemar mengunjungi pasar dan tempat-tempat unik, sesekali menjadi relawan di komunitas pendidikan dan sedang mengasuh Sikola Jantung Pisang di pelosok Kabupaten Bantaeng. Bisa bersua melalui instagram di nswalii


Leave a Reply