Suatu ketika , saya mendengar perbincangan antara si A dan si B. Si A bertanya tentang kondisi si B. Kemudian si B menjawab, bahwa sedang diuji oleh Allah swt dalam bentuk sakit.
Pada kesempatan lain, saya pun kedatangan pasien, yang ketika saya tanya, jawabannya adalah sedang diuji oleh Allah swt dalam bentuk sakit. Lagi dapat cobaan. Ujian atau cobaan dari Allah Swt, itu pertanda bahwa Allah Swt mau dia sakit.
Kondisi seperti itu seseorang sakit karena ujian dan Allah Swt yang berkehendak dia sakit, sangat sering kita dengar. Sakit yang diderita dinisbahkan pada kehendak Allah Swt.
Betulkah demikian? Bisa betul, bisa tidak. Namun, saya sebagai terapis holistik, belum pernah menemukan pasien yang dia sakit karena ujian dari Allah Swt. Sekalipun sebelumnya dia berkata, sakitnya karena kehendak Allah Swt.
Lalu, kenapa bisa begitu? Pertama , karena belum bisa membedakan antara izin dan kehendak Allah Swt. Kedua, karena yang bersangkutan mengetahui penyebab penyakit, hanya karena makanan, minuman, cuaca dan kurang gerak. Sehingga ketika hal tersebut sudah tidak lagi dilanggar, dan kemudian dia sakit, maka sakitnya dianggap sebagai ujian dari Allah Swt dan itu adalah kehendak-Nya.
Mari kita ulas satu persatu. Jadi begini. Sebaiknya dibedakan antara izin dan kehendak Allah Swt. Memang betul, semua yang terjadi atas izi-Nya. Sistem semesta ini berjalan, juga semua atas Izin-Nya. Termasuk seseorang menjadi sakit, godaan dan gangguan iblis terjadi, semua atas Izin-Nya. Begitupun kebaikan dan keburukan yang dilakukan, semua atas Izin-Nya. Tak satu pun yang terlepas dari Izin-Nya.
Kenapa? Karena Allah Swt Mahakuasa atas hamba-Nya. Tapi apakah semuanya terjadi karena kehendak-Nya? Seseorang yang bermaksiat, apakah itu kehendak Allah Swt atau kehendak orang tersebut?
Seseorang yang mengalami kecelakaan karena balapan liar, apakah itu kehendak Allah Swt atau kehendak yang bersangkutan? Seseorang yang hipertensi karena sering marah-marah, apakah yang bersangkutan marah-marah karena kehendak Allah Swt? Atau karena kehendaknya sendiri? Atau seseorang yang sedih berkepanjangan, kemudian paru parunya terganggu, apakah itu juga kehendak Allah Swt?
Lalu bagaimana dengan ajaran yang melarang untuk jangan bersedih (la tahzan). Begitu juga larangan untuk tidak marah? Jika semuanya karena kehendak Allah Swt, lalu kenapa kita diberikan perangkat akal, perasaan, dan juga petunjuk berupa Al-Quran serta Rasulullah sebagai teladan, sehingga kita bisa membedakan, mana yang baik dan mana yang buruk?
Kalau semuanya terjadi karena kehendak-Nya, maka untuk apa ada catatan amal baik dan buruk, begitu pun untuk apa ada surga dan neraka? Manakala semuanya terjadi karena kehendak-Nya, maka kita tidak lagi dimintai pertanggungjawaban di hari kemudian, sebab semuanya adalah kehendak-Nya, dan kita seperti robot yang menjalani dari satu kehendak ke kehendak berikutnya.
Membedakan antara izin dan kehendak Allah Swt, termasuk dalam konteks sakit, menjadi sesuatu yang sangat penting. Sebab, ini bisa menjadi penghambat kesembuhan. Misalnya untuk penyakit hipertensi yang disebabkan karena sering marah-marah.
Bagaimana mungkin seseorang bisa beres-beres dan bersih bersih di hati dan pikiran, kalau hipertensinya dianggap sebagai kehendak Allah Swt. Yang ada adalah pasrah. Toh, semuanya karena Allah Swt mau dia sakit.
Guna mempertegas hal tersebut, ada baiknya kita lihat QS al Anfal: 51, “Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu (sendiri). Dan sesungguhnya Allah (sama sekali) tidak menzalimi hamba hambaNya”.
Saya pikir, ayat tersebut sudah cukup untuk menjadi alasan, bahwa sakit yang diderita, bukan karena kehendak Allah Swt, melainkan karena ulah kita sendiri. Karena kehendak sendiri
Selanjutnya, adalah pengetahuan tentang penyebab sakit. Bahwa tidak karena kita sudah berpantang makanan dan minuman tertentu, sudah berolahraga, minum suplemen, kemudian sakit , dan sakitnya itu dinisbahkan kepada Allah Swt.
Sahabat holistic, saya pertegas lagi, hasil penelitian 90% penyakit disebabkan oleh psikis. Salah satu penyebab psikis terganggu, karena jauh dan belum bersama Allah Swt. Apakah Allah Swt berkehendak supaya kita jauh dari-Nya? Atau karena kita sendiri?
Oleh sebab itu, saya mengajak diriku dan semuanya, untuk lebih banyak merenung, introspeksi diri, muhasabah diri, atau apa pun istilahnya. Dan kemudian jujur pada diri sendiri, mengakui bahwa sakit yang sementara saya derita, karena ulah perbuatan dari saya sendiri.
Bisa karena pola hidup (spiritual, pikiran, emosi), pola makan dan minum, pola gerak (olahraga) dan pola tidur. Berdasar pengakuan tersebut, kita tidak lagi berkata, saya sakit karena kehendak Allah Swt. Sehingga sakitnya, tidak lagi dalam bingkai ujian/cobaan.
Selanjutnya, di mana letak ujiannya Allah Swt terkait dengan sakit? Jawabnya, ketika kita sudah berdoa dan berikhtiar (usaha yang sejalan dan melibatkan Allah Swt ), tapi belum sembuh, maka itulah ujiannya Allah Swt. Sebab, kesembuhan adalah wilayahnya Allah Swt. Yang menentukan sembuh dan tidaknya seseorang adalah Allah swt, bukan dokter.
Walhasil, akan jauh lebih indah jikalau sakit yang sementara diderita, diakui, bahwa bukan karena kehendak Allah Swt, melainkan karena kehendak sendiri. Kemudian, kesembuhan yang diharapkan, di situlah kehendaknya Allah Swt.
Kredit gambar: Republika.

Seorang terapis. Bergiat di Sekolah dan Terapi Pammase Puang Holistik Center Makassar. Dapat dihubungi pada 085357706699.


Leave a Reply