Dari Tanah Sumba “Assiama” di Tanah Bertuah

Dari tanah Sumba dengan simbol kuda dan kayu cendana. Mengarung di pematang zaman menuju tanah penuh petuah Butta Toa Bantaeng.

Teringat seorang penyair, yang kemudian meninggalkan tahtanya, kekayaan dengan ratusan kuda. Lalu menyusuri  balada sunyi menemukan kesejatian dirimya. Ya, dia adalah Umbu Landu Paranggi, lahir di tanah tercintanya, Sumba, hingga menjadi  guru para penyair di negeri ini.  Bahkan, seorang Emha Ainun Nadjib, mengakui Umbu sebagai guru sejatinya.  Alasannya sederhana, menurut Emha guru sejati dan sesungguhnya adalah yang tidak pernah menggurui.

Tersemat pula nama belakang namamu menyata dengan “Umbu Kaledy”, sebuah sabana  sebagai pengikat dan sama dengannya mengabarkan kemanausiaan mengasihi sesama menyatu dengan alam. Sebagaimana hadirmu, “Assiama” menjadikannya solusi  bukan hanya berpangku tangan, namun mengajak kita semua mengambil peran agar menjadi penguat. Terutama bagi pemimpin, semua pihak,  stake holder, elemen dan instrumen negara, untuk hadir di masyarakat, melihat realitas yang ada.

Ya. Umbu menandai, menyeka dan membasuh yang memang butuh dan patut, lalu menyekanya:  “Menepis badai, membelah tantangan” menjawab segala tantangan pada persoalan kesenjangan  sosial.  Menyusuri, melihat langsung kondisi di lapangan.  Bukan hanya di balik meja, “Ricappa bori nabattui pa’mai surang pasiamakkang, pa’rikongan!” Di sudut dan tepian kampung, hingga di ujung  pelosok, hadir menemui, menyelami  dengan hati, peduli bukan semata sensasi.

Pengabdian itu di mana saja dan tidak harus menjadi ini dan itu. Apatah lagi kalau tersemat jabatan, pangkat dengan ikrar sumpah atas nama pengabdian. Selayaknya  pemimpin harus dengan penyatuan segala unsur, setiap progres dibangun dengan sinergi yang lebih skala prioritas. Bukan hanya di atas kertas. 

Cukup apik untuk menampik segala persoalan dan dinamika yang terjadi di negerinya tercinta. Bukan hanya selera dan suka-suka semata. Akan tetapi menata,  meletakkan dasar sesungguhnya. Bukan dibicarakan/didiskusikan, tetapi dikerjakan apa yng dibicarakan.

Begitulah prinsipnya, sesekali kusimak Umbu menguraikan filosofi hidup dan kepemimpinan.  Seketika bersua di kala senggang waktunya. Hidup dan amanah itu hanya bagian kecil dari titah Tuhan yang tersemat dipundak dan ini tanggung jawab mengembannya.

Lantas bagaimana  tatanan ranah hukum, agama, dan budaya menyata di kehidupan ummat? Beliau menuturkan. Hadirnya adalah sebuah peristiwa semesta. Di tanah bertuah beliau hadir  dan dititipkan amanah.  Kehadirannya bagai wasiat untuk menjadi lebih bermanfaat. “Tea nipuji-puji semata berharap saling sikamaseang.” Maknanya, tidak harus berharap lebih pujian, hanya ingin rasa kasih sayang.

Analisanya sebagai pengabdi dan pengayom (Polri), menutur dengan secara luhur. Saat ini kita sedang menjadi bagian kecil walau hanya serpihan debu  dalam proses transformasi Polri yang presisi. Ada 3 aspek transformasi penting baginya, (1) Instrumental: hasil pemikiran yang dituangkan dalam aturan (2) Struktural: hasil analisis berbasis dinamika sumber daya Polri (3) Kultural: ini yang paling sulit, perlu kolaborasi dalam aspek filosofi kebudayaan masyarakat dengan filosofi kepolisian. Inilah salah satu yang sedang kita bangun melalui konsep, “Assiama Presisi”. Semoga kedepan, transformasi kultural Polri bisa dimulai secara simbolis yang muncul dari sebuah kabupaten di Sulsel yang bernama  Bantaeng.

Dia  kemudian menyuguhiku sebuah isitilah kognitif: Segala aktivitas mental yang saling berhubungan antara persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi. Lima elemen di dalamnya: pertama, memori (daya ingat), berikutnya, atrention/perhatian, ada juga language  (bahasa), pengambilan keputusan  dan selanjutnya penyelesaian masalah. Dia kemudian  memasukkan unsur budaya dalam birokrasi yang amat sulit bin rumit penuh aturan, nomenkelatur, terstruktur tetapi kaku. 

Umbu menanak diri pada  amanah yang diemban.  Menyanggah dan menyuguhkan sebuah  sabana,  tanpa membedakan agamamu apa? Suku dan istiadatmu bagaimana? Namun, menawarkan atas nama  kemanusiaan.

Seperti Mahatma Gandhi yang menemukan jalan perjuangannya, dengan anti kekerasan bernama, “Satyagraha”, mengajarkan akan manusia menahan hawa nafsu. Menahan kemarahan yang akan membebaskan manusia dari penderitaan. Bicara tentang “Ahimsa” adalah bicara tentang anti kekerasaan yang mana ini menjadi inti dari ajaran Gandhi. Ahimsa adalah larangan untuk saling menyakiti baik sesama manusia ataupun mahluk lainnya.

Artinya: Dalam kondisi dan situasi tertentu, harus berani mengambil keputusan, sebagai konsekuensi. Menyemaikannya secara bajik, bijak dan cukup tanak. Artinya secara presisi dalam setiap sisi yang menghiasi segala persoalan, dinamika sosial, stabilitas, keputusan yang tegas bukan asal ngegass. Cepat, cermat, tanggas, dan tuntas.

Gandhi dan Umbu, ibarat sejawat hikayat pada kepedulian terhadap sesama bernama manusia,  memiliki ruang perjuangan tanpa harus merasa paling pejuang, namun ada sifat alamiah,  secara terukur nan luhur.   Seperti Gandhi sebutkan, selain Satyagraha dan Ahimsa ada bernama “Swadesi” merupakan prinsip cinta terhadap tanah air, ditunjukkan dengan suatu pengabdian terhadap negara berdasarkan rasa kemanusiaan.

Saya sebatas gumam! Jika itu telah dijalankan maka terasalah adanya negara.  Bukan sekadar mengatur dengan nomenkelatur yang ngawur. Tetapi negara hadir bukan sekadar terkutip pada  alinea keempat:  “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…” 

Sila dibuka atau jika dihafal dan kalau berkenan  dirapal. Seperti saat kita sekolah dulu membacanya dengan lantang, saat upacara setiap hari Senin dengan bergiliran bertugas. Saya yakin masih ada yang menghafal dan mengingat masa keramat yang dulu menjadi dogma.  

Kucermati kembali! Betapa  appiada’(menghargai) dan apparampe (sifat) menjadikanmu sesungguhnya bagian dari tanah dan ranah peradaban pertautan budaya Sumba dan Butta Toa Bantaeng, menyatu direstuai semesta.  “Ebara nusambungi anjari bannang panjai “, ibarat merajut menjadi benang penjahit,  pada ranah kesenjangan kehidupan manusia dari pelosok hingga di ujung bori kau temui.

Umbu memacu  mengharumkan kembali sebuah marga dan marwah tempatnya mengabdi. Menyatu di labirin alam, dan  pada kaki langit   Gunung Lompo Battang, deru ombak pantai seruni. 

Ya. Kembali kukutip khazanah kajian lantip. Ibarat  Lencana itu mengikrarkanmu pada  “aru tubarania”, untuk menjadi bagian dari tanah bertuah, mengabdi dan menjadi artefakmu kelak,  bukan pada bentuk fisik, berupa  tugu yang kelak mudah dirubuhkan oleh pencatut sejarah.  

Akan tetapi, ada ritus yang tercetus serupa inovasi, ide, gagasan yang kongkrit di bumi Butta Toa Bantaeng, bersama Polri bangun sinergi, mengayomi dan melindungi dari segala penjuru mata angin.

Dari arah utara angin Onto, bersemi dengan angin Sinoa, lalu di timur ada angin Gangtarangkeke dan Pa’jukakang, menyatu mendesau dengan sepoi menentramkan, menyejukkan, dan mendamaikan.

Spirit itu selalu ada, mengalir menuju muara. Lalu seorang Umbu mengejawantahkan dengan mengharumkan kembali, sebuah marga dan marwah tempatnya mengabdi. Bagai ritus dan situs yang telah diterjemahkan bernama “Assiama Presisi”

Wangi cendana Sumba, dan  bunga “biraeng” Bantaeng telah bertaut, merajut zaman, saling  melengkapi, dan  menyajikan khazanah budaya. Dengan memacu kuda zaman ke peradaban yang telah dititipkan oleh sesama leluhur.

Kredit gambar: Gramedia.


Comments

8 responses to “Dari Tanah Sumba “Assiama” di Tanah Bertuah”

  1. Terbaik Komandanku, sehat selalu dimanapun komandan berada, tetap baik dan menginspirasi banyak orang2 disekitar, Tuhan Selalu menyertai

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Makasih apresiasinya

    2. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Keberkahan selalu

  2. Compleks, dan sangat menginspirasi.
    Sehat selalu, Kak.

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Sip makasih Kakak

  3. Rangga Avatar

    Padat dan kompleks. Semoga semakin gemilang dlm berkarya.
    Dinantikan tulisan tulisan berikutnya

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Siap iye insya Allah. Terima kasih telah berkenan

  4. Juliana B Avatar
    Juliana B

    Komandan terbaik, sukses selalu kk Umbu,
    Tuhan Yesus memberkati, senantiasa diberkati bersama keluarga terkasih.
    Selamat atas jabatan barunya, kembali membangun tanah leluhur.
    Salam Hormat dari kami sekeluarga.

Leave a Reply to Rika Wahyuni Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *