Malam itu, di sudut dapur, di antara meja makan, seorang anak perempuan yang telah menjadi ibu mempercakapkan keluh kesahnya kepada ayahnya, seorang kakek berusia 57 tahun. Percakapan ini terjadi tanpa kesengajaan. Hanya diawali, pertanyaan dari si Ayah, kapan kue katabang diantarkan. Lalu, cerita berlanjut ke sana ke mari hingga ke tetangga.
Mulailah si ibu bercerita jika dirinya dari segi umur, di lorong tempat tinggalnya tergolong cukup tua. Di usia 30 tahun memiliki seorang anak. Sedangkan, para ibu-ibu tetangga berkisar usia 20-25 tahun telah mengasuh anak. Bayangkan saja, di usia seperti itu saya masih berkuliah dan bekerja, kata si ibu terkejut. Saya lalu menyadari jika itu suatu privilege. Bisa berkuliah dan bekerja terlebih dahulu. Si Ayah membenarkan pernyataan itu, karena ya, memang tidak semua orang mampu untuk lanjut berkuliah dan bekerja. Ada yang sudah harus menikah begitu selesai SMA. Lambat laun cerita ibu berubah menjadi curhatan.
“Tapi bagaimana ya, Ayah? Perasaanku sekarang ini lagi di masa jenuh dengan rutinitas. Mudah capek. Kadang merasa kapan anakku besar. Apalagi kalau mengingat dulu saya bisa bebas untuk bekerja dan nongkrong”. Dengan mudahnya si kakek berkata, “Sematkan saja rasa bahagia itu, ketika melakukan semuanya. Bersikap ikhlas.” Ya, mudah saja mengatakan hal itu. Seperti mudahnya memesan makanan secara online.
Bagaimana caranya? Ya, maksudnya seperti apa? Setengah linangan air mulai menggenangi mata. “Bagaimana kita bisa senang dengan semua rutinitas ini, senang dengan mencebok, kalau ia menangis, kalau ia menolak makan. Rutinitas memberikan makan, memandikan, dan menidurkan. Hanya itu-itu terus saja kulakukan. Belum lagi kalau ia sedang rewel-rewelnya. Sementara saya sendirian di rumah, belum makan, kalau ingin BAB bahkan harus membawanya ke kamar mandi juga. Mendengar tangisannya sambil mengejan BAB, tetap harus tenang sedangkan badan sudah begitu letih.”
Kamu ini, katanya, sambil menyuruhku membayangkan seekor kupu-kupu, sedang menjadi kepompong. Dulu sebelumnya kamu sudah menjadi ulat, memakan apa saja, bebas melakukan apa saja. Menjadi kupu-kupu, bersinar terbang ke sana kemari, berkarir menjadi seorang kepala sekolah. Sekarang, di fase ini kembali menjadi kepompong. Di dalam rumah, melakukan semuanya secara fokus. Mengasuh anak, membesarkan, dan melakukan pekerjaan rumah.
Nah, ada saatnya kepompong itu akan terbang lagi menjadi kupu-kupu. Di saat Shanum telah besar, kamu pun sudah akan kembali bisa terbang hilir mudik. Dalam proses pengompongan itu, kamu melakukan yang terbaik untuk Shanum seperti sekarang ini. Shanum adalah gurumu sekarang. Ia membuat pengetahuanmu menjadi nyata. Dengan tambahan pengalaman yang saat ini. Dari keduanyalah, ketika tiba saatnya kamu sudah bisa menjadi kupu-kupu. Memberikan influence, pengaruh bagi sekitar.
Sembari mencerna kupu-kupu ini, Ayah menambahkan. Saat ini, kamu juga sedang “diimunisasi”. Diberikan sesuatu yang menyakitkan, membuat sakit dan demam, tapi sebenarnya membuat imun kuat. Begitupun dengan keadaan nanti, setelah diimunisasi, kamu pun tumbuh dengan makam yang lebih tinggi, dengan tingkat spiritual yang lebih lagi.
Hubungannya dengan spritual? Apalagi itu? Posisi duduk sang Ayah berubah, artinya ia mulai serius. Jadi begini… ayah memulainya.
Menurut Pierre Teilhard de Chardin, manusia itu pada dasarnya adalah makhluk spiritual. Meminjam badan, menjadi manusia. Roh kan ditiup pada manusia? Apa jadinya kalau manusia tidak ada rohnya? Mati kan? Tidak bisa ngapa-ngapain. Nah dari situlah, perjalanan roh itu dimulai. Dari ditiupkannya roh kepada segumpal daging. Lalu lahirnya manusia. Jadi bukan sebaliknya, manusia mencari spiritualitas, melainkan roh spiritual inilah yang masuk ke dalam manusia. Si ibu hanya bisa menganggukkan badan, memilih menyimak dengan saksama. Untung saja masih ada kopi menemani pikiran berat ini.
Lanjut cerita, maka bayi itu termasuk makhluk spiritual. Sebelum akil balig, ia adalah seorang makhluk yang suci. Nanti ketika ia telah akil balig, manusiawinya mulai mengambil alih. Secara fisik pun sudah mulai meningkat, biasanya spiritualnya mulai menurun. Nah, sebelum itu bayi ini karena manusiawinya masih belum ada apa-apanya, spiritualnya masih tinggi. Bahkan, ia “sejajar” dengan nabi dan para imam. Karena termasuk makhluk suci. Jadi secara tidak langsung mengasuh bayi itu sama dengan mengasuh makhluk suci.
Terjadilah jeda, karena saya baru saja mengalami guncangan pikiran. Rasanya mindset saya dalam melihat seorang anak, seketika itu berubah. Saya pun mulai mengingat-ingat lagi, ketika saya kesal dengannya, bagaimana ketika ia menangis. Kala ia sudah bangun sedangkan saya masih begitu mengantuk. Memberinya nenen berkali-kali di tengah malam, sambil memikirkan ia cepat-cepat tumbuh besar agar saya bisa kembali tidur nyenyak.
Si Ayah melanjutkan, itu adalah hal wajar. Itu manusiawinya kita melihat itu. Jika kita dulunya melihat seorang anak hanya sebatas manusia saja, makhluk biologis. Sekarang ini, jika kita melihatnya sebagai makhluk spiritual, makhluk suci, maka perlakuan kita pun akan beda. Karena cara pandang itu tadi.
Apalagi anak menjadi akil balig itu tidak lama. Memasuki golden age-nya. Disitulah, tumbuh pesatnya pengetahuan otak dan tubuh anak. Namun, sebenarnya di situ pulalah tingkat spiritual anak mulai naik. Di saat itu pula, wadah tangki spritualnya sudah harus penuh. Sebagai modal, bekalnya ia ketika memasuki akil balignya nanti. Saat itu, ia akan memakai perangkat yang telah kita isi, otaknya, mentalnya, dan tumbuh kembang lainnya.
Lagi-lagi sambil menyimak ini, saya membayangkan Shanum ketika ia bertingkah lucu. Saya memperagakan di depan kakeknya, cucunya menggeretakkan bibirnya sembari mengeram, ketika kita minta dibuat takut. “Bayangkan, bayi saja sudah membuat kita begitu bahagia. Bagaimana pertemuan dengan seorang Nabi?” Katanya. Begitupun ketika ia menolak makan sambil menggeleng, ketika menangis minta digendong. Kadang rasa kesal dan lelah begitu menghampiri. Padahal yang sedang kita hadapi ialah makhluk suci.
Melanjutkan obrolan mengenai makhluk spiritual ini ialah perjalanan roh dalam badan manusia. Si kakek menganalogikan seperti sedang berjalan-jalan, bertamasya. Si roh ini melalui badan manusia melakukan persinggahan di berbagai tempat, seperti sedang melakukan perjalanan, berlibur. Nanti suatu saat akan kembali pulang ke tempat asalnya, alam roh. Semua ini melalui siklus kehidupan, kelahiran-pernikahan-kematian.
Ketiga fase ini, akan berulang terus. Dimulai dari masyarakat primitif hingga masyarakat modern saat ini. Bahkan, di mana-mana ketiganya itu dilakukan suatu perayaan, upacara atau ritus. Karena, dianggap sebagai fase kehidupan yang penting. Ingat, dalam upacara pernikahan terutamanya dalam Islam ketika mengucapkan akad nikah, itu adalah perjanjian dari kedua roh di hadapan Tuhan. Alam raya, Tuhan menyaksikan itu. Bagaimana, seorang bapak atau walinya itu menyerahkan anaknya yang dianggap satu kesatuan sebelumnya kepada seorang lelaki, yang kelak akan menjadi suatu penyatuan roh yang baru dari dua roh yang berbeda sebelumnya.
Nah, berangkat dari pemahaman kita ini manusia yang memiliki roh sedang dalam melakukan perjalanan maka semua yang kita lihat, kita lakukan ialah tajali. “Apa itu tajali?” Kataku keheranan. Itu adalah cerminan Tuhan. Sembari menunjuk barang-barang di meja makan, cangkir, meja bahkan itu semua termasuk tajali, cerminan Tuhan.
Termasuk pasangan juga? Iya, itu termasuk. Apalagi itu juga termasuk makhuk ciptaan Allah, itu adalah cerminan-Nya. Tapi bagaimana dengan pasangan yang melalukan KDRT? Oh itu tenttu saja bukan cerminan sifat Allah, itu adalah sisi kemanusiawiannya yang mengeluarkan tindakan itu.
Jadi, karena kita menyadari ini semua adalah suatu perjalanan dari sebuah roh. Dengan melihat pandangan di sekitar yang ada dan terjadi adalah cerminan Tuhan. Dan dari sebuah perjalanan akan ada akhirnya, maka kita tidak akan mudah melakukan suatu tindakan yang dianggap jahat. Kalaupun iya, kita akan menyadari kalau itu adalah bentuk dari sisi manusiawinya kita. Roh kita sedang melakukan berbagai persinggahan, yang kelak akan menetap di suatu tempat. Setelah kehidupan. Kematian, tempat abadi dari perjalanan roh.
Setelah obrolan soal menyoal roh, spritual itu. Ayah dan anak melanjutkan obrolan lainnya yang tak elok jika disampaikan di sini, anggap saja sedang bergosip. Curhat dengan iringan cerita dari orang lain, di sela candaan.
Jadi begitulah, percakapan antara ayah dan anak, ibu dan kakek. Berawal dari kue katabang hingga bermuara pada alam roh dan cerita lainnya. Keduanya pun mengakhiri malam dengan berpamitan untuk tidur.

Seorang ibu pembelajar sepanjang hayat. Ketua Balla Literasi Indonesia. Bisa dihubungi di IG: @nurulaqilahmuslihah


Leave a Reply