Penyair Celana Menemui Sang Maha Sastra

Dunia sastra kembali berduka hari ini. Sastrawan sekaligus penyair Joko Pinurbo meninggal dunia, Sabtu, 27 April 2024, pukul 06.03 WIB di RS Panti Rapih, Yogyakarta.

Benteng Roterdham Makassar, perjumpaanku denganmu kala itu kau asyik menyeterika kata dan cara pandang mendamaikan puisi dan kata.  Sesekali melirikku lirih. Dan kau tak mengenaliku dan itu pasti serta wajar. Karena saya pendatang baru di sebuah perhelatan pertemuan para penulis nasional dan internasional kala itu.

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, sebuah judul bukumu telah aku daras.  Saat pertemuan itu, suaramu renyah menutur walau masih samar bagiku. Di sanalah saya mulai jatuh cinta dengan racikan katamu. 

Joko Pinurbo dikenal sebagai sastrawan terbaik Indonesia yang lahir di Sukabumi, Jawa Barat, pada 11 Mei 1962 di sapa Jokpin ini, sudah gemar puisi sejak duduk di bangku sekolah menengah. 

Sastrawan tersohor itu sudah menelurkan daftar panjang puisi yang dia tulis. Beberapa karya Joko Pinurbo, Celana, Pacar kecilku, Di Bawah Kibaran Sarung, hingga Telepon Genggam.

Ah. Rasanya semakin menguatkan dan menguliti tata bahasa yang sudah dibangun sebagai teori bahkan aturan, atas nama rambu-rambu, namun di Jokpin begitu asyik berselencar, bersenandung dengan kata, tanpa mengebiri kata lain yang katanya sudah menjadi kebakuan yang kaku. 

Joko Pinurbo juga memiliki sejumlah antologi yang berjudul Tugu,  Tonggak, Sembilu, Ambang, Mimbar Penyair Abad 21, dan Utan Kayu Tafsir dalam Permainan.

Bagi saya, merasa belum lengkap jika tidak menempuh karyamu walau sebiji buku.  Sebab menurut saya dan mungkin kebanyakan orang pecinta sastra menyertakanmu bukan sembarangan penyair. Di sebuah percakapan menaruhnya, kalau pria asal Yogyakarta yang sukses ‘menjual kata-kata’ yang penuh satire nan rasa humor sudah melanglang buana.

Saya terbawa arus gairahmu, saat manaruh dan memilih kata, hingga beberapa prasangka awam menyanderaku terlalu nyeleneh, tetapi kau menguatkanku ketika kubaca tipikal dan daya tarikmu pada kata “celana” di sanalah namamu melejit di tengah pembaca yang tengik bin tengil.  Kau tuang rasa dan sebisa mungkin tidak harus meniru-nirumu, tetapi menjadi bagian sumber penguatan dalam menemukan, menempatkan dan mengeksekusi sebuah narasi. 

Puisi  berjudul “Celana”. Ya, sebagian orang saat kuutarakan ini, matanya nanar menatapku sangar, jiwanya terasuki intimidasi yang gengsi enggan  dan bahkan tidak mau menerima.  Sementara Jokpin, justru gara-gara buku puisi tersebut, ia mulai dikenal sebagai penyair ‘Celana’ yang lambat laun membesarkan namanya.

Menurut beberaoa sumber yang pernah berinteraksi cukup mengenalmu. Kau bukan sembarangan penyair. Kau tahu? Seseorang di laman itu mencuri tanya dan menjawabku lewat rangkaian pembacaannya, bahwa penyair satu ini pemahat  kata-kata yang cerdas.  

Sambil membumbuhi bukti lima  fakta soal Joko Pinurbo yang dia rangkum pada  redaksi detikpop:

1. Gaya Puisi

Joko Pinurbo dikenal lihai memadukan narasi, humor, dan ironi dalam setiap syair-syair yang dibuatnya. Dia juga mampu menggunakan dan mengolah citraan yang mengacu pada peristiwa dan objek sehari-hari, tapi gak kacangan juga. Di sisi lain, Joko Pinurbo juga pandai bermain kata sehingga kelihatan lebih unik.

2. Sumber Inspirasi

Dalam sebuah wawancara, Joko Pinurbo pernah ngomong kalau nilai-nilai religi banyak melatarbelakangi puisi-puisinya. Persoalan agama juga kerap disentil dari karyanya. Salah satunya ialah puisi tentang Kaleng Khong Guan yang idenya datang dari Gus Mus. “Ketika kedatangan tamu, ia menyuguhkan makanan, kalengnya Khong Guan, isinya rengginang,” tuturnya.

“Bagi saya, kita kadang kalah bijaksana dengan kaleng Khong Guan yang hadir di hari raya agama apapun, dan tidak pernah bertanya agama Khong Guan,” lanjutnya.

3. Penyair ‘Celana’

Pada 1999, Joko Pinurbo pernah nerbitin buku kumpulan puisi berjudul Celana. Gara-gara buku puisi tersebut, ia mulai dikenal sebagai penyair ‘Celana’ yang lambat laun membesarkan namanya. Bahkan ia pernah buat 40 puisi tentang celana dari 40 perspektif berbeda. Keren banget!

4. Kumcer Perdana

Tak Ada Asu di antara Kita jadi buku kumcer perdana yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU). Di dalam buku kumcer Tak Ada Asu di antara Kita terdapat lima belas cerpen yang masih ditulisnya dengan jenaka, getir, dan protes akan hal sehari-hari.

5. Banjir Penghargaan

Karya-karya Joko Pinurbo juga sukses diterjemahkan ke bahasa Inggris, Jerman, sampai Mandarin. Joko Pinurbo juga sukses memperoleh berbagai penghargaan. Di antaranya adalah Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Sih Award (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015), dan South East Asian (SEA) Write Award (2014).

Sebuah kenduri di rayakan sederet penampilan. Malam bertepi satu demi satu rangkain disajikan.  Ada sentuhan acara membuatku pada titik jenuh dan suntuk. Tetiba kau tampil dalam baju   berkera polos hitam, motif warna agak abu-abu.

Dengan celana hitam kain ala kadarnya, serta sendal khas menutupi kaki mungilmu.  Sektika kau bacakan beberapa lembar di tanganmu buah lukisan dan bumbuhan kata merangsang, lalu menindaki setiap pikiran untuk menerjemahkan. 

Cahaya lighting redup, suasana hening, suaramu datar bergetar, seiring penutup puisimu menhujam para penyair malam itu yang hadir duduk bersila merumput menyaksikanmu.


Comments

5 responses to “Penyair Celana Menemui Sang Maha Sastra”

  1. Belum kutemukan dirimu kk dalam esai tentang jokpin…

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Hahaha.

    2. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Hahaha. Siap Kakak

  2. Selamat menunaikan ibadah puisi,

    Saya menantikan bukber denganta kanda,
    Seperti kemarin di teras mungilku mengulik dan meretas makna kata

    1. Dion Syaif Saen Avatar
      Dion Syaif Saen

      Ashiaap. Kapan mauta?

Leave a Reply to Dudung Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *