Suatu hari saya kedatangan seorang pasien , seorang perempuan , lebih tepatnya seorang istri. Dia mengeluhkan suaminya, yang katanya seumur pernikahannya tidak pernah mengerti dirinya. Bahkan perlakuan suaminya tidak seperti yang ia harapkan.
Lalu, saya tanya. Apakah pernah KDRT? Sang istri menjawab tidak. Berikutnya, saya tanya lagi, apakah orangnya tidak baik? Dengan mata yang mulai berkaca kaca sang istri menjawab, bahwa sebetulnya suaminya baik, cuma… sayangnya, kebaikan suaminya tidak seperti yang ia harapkan.
Suaminya sangat memperhatikannya. Suaminya sangat peduli dengan kebutuhan keluarga dan sesekali memberi hadiah kepadanya. Tapi itu semua nyaris belum berarti, sebab sang istri sangat butuh waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan sang suami . Mengutarakan apa yang sedang ia rasakan.
Dari kasus ini, tampak jelas, bahwa bukan karena suaminya tidak baik, melainkan karena bahasa kasih yang berbeda. Bahasa kasih adalah sebuah bentuk perlakuan dari seseorang kepada orang yang dikasihi, atau cara seseorang mengasihi orang dikasihinya. Untuk kasus di atas, bahasa kasih sang suami adalah melayani , sementara bahasa kasih sang istri adalah waktu berkualitas.
Untuk lebih jelasnya tentang jenis bahasa kasih, pernyataan, tindakan dan yang harus dihindari pada setiap bahasa kasih, dapat dilihat dibawah ini.
Pertama, melayani. Menyatakan: Menunjukkan kesediaan untuk menolong, untuk mengambil tindakan dan meringankan beban. Tindakan: Membuatkan makanan/minuman. Mengerjakan tugas-tugas yang di rumah. Hindarkan: Mengabaikan, menunda, atau lupa mengerjakan tugas besar/kecil.
Kedua, sentuhan. Menyatakan: Menggunakan bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan sentuhan untuk menunjukkan kasih. Tindakan: Duduk dekat, tepuk, gandeng, rangkul, elus, peluk, dan kecup. Sebelum tidur, sebelum pergi, ketika datang, atau menggabungnya. Hindarkan: Mengabaikan atau menyalahgunakan sentuhan fisik. Hukuman fisik. Menerima ungkapan kasih dengan dingin.
Ketiga, waktu berkualitas. Menyatakan: Kebersamaan, bercakap-cakap secara pribadi ke pribadi dengan penuh perhatian, tanpa gangguan. Tindakan: Menciptakan momen khusus, jalan-jalan, duduk- duduk, atau melakukan sesuatu secara bersama. Hundarkan: Gangguan-gangguan ketika melewatkan waktu bersama. Lama tidak menyempatkan waktu pribadi ke pribadi secara bersama.
Keempat, hadiah. Menyatakan: Memikirkan hal-hal yang disukai/diperlukan, menunjukkan bahwa Anda menghargai dan memprioritaskan hubungan dengannya. Tindakan: Memberi hadiah yang dipikirkan dengan baik. Menyatakan penghargaan ketika menerima pemberian seperti makanan kesukaan, koleksi benda, hobi, peralatan yang diinginkan. Hindarkan: Lupa waktu-waktu khusus. Menerima hadiah dengan tidak antusias.
Kelima,kata-kata. Menyatakan: Memberi dorongan semangat, peneguhan, penghargaan, dan mendegarkan secara aktif. Tindakan: Mengirim pesan, surat, atau kartu yang tak terduga. Mengucapkan sayang. Menyatakan penghargaan dan terima kasih. Memberi selamat. Memuji (terutama di depan orang lain). Hindarkan: Tidak memberikan pengakuan atau penghargaan atas usaha/hasil yang dilakukan. Kata-kata yang mengejek, kasar dan kritik yang tidak membangun.
Demikian sahabat holistic. Jenis bahasa kasih dan penjabarannya. Saya sungguh berharap, agar bahasa kasih ini menjadi perhatian kita semua. Saya banyak menemukan konflik dalam sebuah hubungan, baik antar pasangan, orang tua dan anak, menantu dan mertua, tetangga dan yang lainnya, bermula dari bahasa kasih. Salah satu contohnya , seperti yang saya ungkap pada permulaan tulisan ini.
Lalu bagaimana mengetahui bahasa kasih seseorang? Pertama, bisa ditanyakan langsung ke yang bersangkutan. Yang kedua, melihat bagaimana orang tersebut memperlakukan orang lain. Ketika seseorang suka memuji, maka yang bersangkutan pun suka dipuji. Ketika suka melayani, bisa jadi, ia juga suka dilayani, dan seterusnya.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya kembali mengungkap satu kisah nyata, terkait bahasa kasih, yaitu seorang anak yang mendapatkan penghargaan atas prestasinya di sekolah. Oleh sang Ayah, dibelikanlah hadiah sebagai apresiasi atas prestasi anaknya.
Apa yang terjadi? Sang anak yang diberikan hadiah, bersikap dingin dan biasa saja dengan pemberian sang Ayah. Sang Ayah kemudian tersinggung dan menganggap, bahwa sang anak tidak menghargai dan tidak berterima kasih atas pemberiannya.
Ternyata oh ternyata, yang ditunggu sang anak adalah kata-kata support, kata-kata pujian dari sang Ayah atas prestasinya, bukan hadiah. Akibatnya, karena belum mengetahui bahasa kasih, hubungan di antara mereka menjadi kurang harmonis.
Agar hubungan kita dengan siapa pun itu semakin berkualitas, maka mulailah memperhatikan dan mengidentifikasi jenis bahasa kasih orang orang di sekitar kita, dan perlakukan mereka sesuai dengan bahasa kasihnya . Kalau belum menemukan di antara kelima bahasa kasih di atas, maka itu berarti ada sesuatu yang bermasalah.
Lalu bagaimana ketika kita sudah memperlakukan orang lain sesuai dengan bahasa kasihnya, tapi kita belum diperlakukan sesuai dengan bahasa kasih kita? Maka jawabannya adalah kembali ke pasal 1 undang undang kebahagiaan Pammase Puang Holistik Center, yaitu, “Terima dan senyumi”.
Kredit gambar: Pixabay

Seorang terapis. Bergiat di Sekolah dan Terapi Pammase Puang Holistik Center Makassar. Dapat dihubungi pada 085357706699.


Leave a Reply