Langit terang kala itu, tapi sejuta kepala tertunduk. Suasana haru menyelimuti kala mendengar kau dirawat karena sebuah musibah. Jauh dari bayangan kami. Kau harus berjuang saat usai penanganan operasi. Tiada bisa menduga. Berharap mukjizat Tuhan. Namun, ketika detik berlalu, tangis dan doa pecah ke langit. Seraya Tuhan menambatkan dan menempatkanmu di surga-Nya.
Kabar duka menyelimuti Butta Toa Bantaeng, wabil khusus pada dunia pendidikan. Sosok pendidik penuh keteduhan tersemat bagiku padamu, setiap jiwa mengenalmu adalah bagai sabana menyejukkan.
Pak, engkau adalah telaga, selalu hadir menyuguhkan dan membasuh suasana dari setiap ranah dan risalah. Tanpa basa-basi, tiada pernah menolak, selalu ada jalan, menjadi mentor, motivator. Dan sesaat kemudian seperti saat ini, begitu pun detik ini, kau pergi secepat itu, meninggalkan kami semua.
Pak, namamu memengaruhi perjalanan hidup dan karirmu. Nama terindah yang diberikan oleh kedua sosok kau cintai (ayah ibu) yang menyematkan nama “Syafrudin” sebagaimana kebanyakan arti, isyarat dan syarat nama melekat, pemikat, dan doa. Namamu mengiringi perjuangan dan perjalanan (prosesi kehidupanmu) ia memiliki arti: memiliki kepribadian peduli sesama, dermawan, tidak mementingkan diri sendiri, patuh terhadap kewajiban, ekspresif/kreatif.
Semua yang pernah dekat, mengenal, mencintai, dan menyayangi tercekat seketika. Pasti merasakan kebersamaan, serta kebiasaanmu. Seketika terdera lara, dan tak terasa air mata ini jatuh di antara kelopak, mengalir menjadi saksi betapa kehilangan itu sesuatu yang tiada bisa menjangkau nalar, kecuali berserah kepada-Nya.
Jujur. Sampai sekarang menganggapmu hanya pergi sementara, lalu kembali mengabari kami dengan sejuta ide dan imajinasi sebagai inovasi di sudut ruangan itu, atau mentraktir kami bakwan, di kantin serta secangkir kopi. Dengan memberikan kami tantangan dalam begiat kolaborasi bersama Osis, eskul sebagai sinergitas antara alumni dengan tujuan bersama.
Ada nilai dan khas dari sosokmu, cara menyapa, menjabat tanganku. Cara jalanmu, tutur kata, bahkan senyuman yang kini masih melekat, meski dalam perjalanan menuju tamasya cinta-Nya, kami sungguh sangat merindukan.
Selaksa kehidupan, serunai dan perangai yang menempati setiap ruang-ruang jiwa dan hati yang mengenal, dan berinteraksi denganmu.
Kami cukup mengenalmu, sejak kami masih duduk di bangku awal sekolah menengah atas, bahkan pernah menjadi wali kami. Dan bukan hanya kami punya kenangan, tetapi setiap siswa sampai alumni, begitu dekat, akrab, bukan semata sebagai guru, tapi sahabat, teman, orang tua. Engkau hadir membasuh setiap jiwa-jiwa.
Pak Syafruddin, S.Pd., MM, sejawat tersemat prestasi dan penuh dedikasi. Pemimpin yang tahu menaruh amanah, menempa, dan merangkul semua kalangan. Jejakmu menandai sejuta kenangan yang sampai sekarang.
Setiap bulir menjatah doa dari air mata menghantar ke singgasana perjamuan dengan yang Maha Memiliki. Namamu tersemat di antara taburan bunga doa, kami belum bisa percaya, berusaha menguatkan, seolah-olah hanya pergi di suatu tempat, dan kembali membawa pesan dan senyuman khasmu menyeka kegundahan kami. Sebagaimana kunamai sosok manusia yang penuh solusi, inovasi, edukasi, dan dedikasi.
Di pundakmu banyak tanggung jawab. Tetapi tiada pernah mendengar keluh, kau adalah suluh pada suasana keruh. Beberapa ptestasi sebagai Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bantaeng periode 2020 – 2025 pada Ahad siang 14 april 2024, pada saat matahari menyapa bumi dan mulai menanjak, kabar kepergianmu membuat semua bergetar di RSUD H.A. Sulthan Daeng Radja Bulukumba.
Teringat sosok nama yang bukan sekadar kebetulan sama tersemai namamu, di mana saat Moh. Hatta yang telah menduga Soekarno dan dirinya bakal ditahan Belanda segera memberi mandat Syafruddin untuk melanjutkan pemerintahan, agar tak terjadi kekosongan kekuasaan.
Syafruddin Prawinegara adalah orang yang ditugaskan oleh Soekarno dan Hatta untuk membentuk PDRI, ketika ibu kota negara di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, sementara itu Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta juga ditangkap pada tanggal 19 Desember 1948, dan kemudian diasingkan ke Pulau Bangka.
Pada tahun 1939–1940 Syafruddin menjadi editor di Soeara Timur, jurnal yang disponsori oleh Soetardjo Kartohadikoesoemo. Namun, Syafruddin yang berjiwa nasionalis, menolak untuk bergabung dengan Stadswacht (penjaga kota), meskipun pada tahun 1940 dia bergabung dengan Departemen Keuangan Belanda.
Dia mempertahankan pekerjaannya di bawah pendudukan Jepang, bekerja sebagai inspektur pajak. Setelah kemerdekaan Indonesia, ia menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada tahun 1945, yang bertugas sebagai badan legislatif di Indonesia sebelum terbentuknya MPR dan DPR. KNIP diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara. Syafruddin menikah dengan Tengku Halimah Syehabuddin, putri Camat Buahbatu dan keturunan Raja Pagaruyung pada tanggal 31 Januari 1941. Mereka dikaruniai delapan orang anak.
Tanpa bermaksud berlebihan nama Syafruddin Prawiranegara, nanun tidak ada salahnya saya mencoba merekonstruksi sebua narasi di esai ini. Menyusuri jejak nilai perjalanan karirmu. Dua priode sebagai Ketua PGRI dan beberapa kali sebagai menempati posisi kepala sekolah, di mana di sana engkau memenuhi segala konsekeunsi, merefleksi dengan edukasi, segala potensi dalam dunia pendidikan. Segudang prestasi dan penghargaan kala itu dibacakan, melepasmu dengan tangis yang pecah di ujung senja.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Taufik Akbar Cancel reply