Genangan air berwarna hijau, tenang menenangkan. Waima terik baskara barulah semadya adanya. Lebih serupa kolam besar, tinimbang cekdam. Mungkin karena debit air sedikit.
Biasanya, tatkala musim hujan awet, volume air cekdam meninggi. Daya tampungnya kurang lebih 84.000 kubik. Luasa areal cekdam 10 hektar. Tak lama kemudian, hujan turun perlahan. Perubahan cuaca, dari terik ke hujan amat cepat. Teringat pada filosofi hidup, hanya perubahan yang abadi.
Begitulah keberadaan Cekdam Balangsikuyu, Kelurahan Karatuang, Kec. Bantaeng, Kab. Bantaeng, kala dihelat satu hajatan Peringatan Hari Bumi Sedunia, 22 April 2024 di Bantaeng. Fungsi utama cekdam ini, sebagai pengendali air, sebentuk terminal, sebelum air tumpah ke sungai, yang membelah kota Bantaeng. Terutama saat musim hujan tiba, terlebih lagi bila curah hujan tinggi. Sekali waktu, tahun 2020, cekdam jebol, banjir bandang pun melumat Kota Bantaeng.
Para penghadir hajatan, di antaranya, Pj. Ketua TP. PKK Kabupaten Bantaeng, Andi Raodhayanti, bersama unsur Forkopimda, Kepala OPD, camat, lurah, jajaran Pemkab Bantaeng, pers, pecinta alam, LSM, tokoh masyarakat, tokoh agama, pramuka, pelajar, pemuda, dan mahasiswa, serta unsur masyarakat lainnya. Saya pun hadir selaku undangan, berlatar pegiat literasi, khususnya literasi lingkungan.
Pj. Bupati Bantaeng, Andi Abubakar, ketika memberikan sambutan, mencoba merangkum masa tugasnya selama enam bulan, tiba pada simpai simpulan, bagaimana ia jatuh cinta pada kota mungil ini. Jika disederhanakan alurnya, maka Kabupaten Bantaeng, memilki pegunungan, dataran, dan pantai. Gunung Lompobattang, Kabupaten Bantaeng, dan Laut Flores.
Perbatasan antara kabupaten tetangga, baik Jeneponto maupun Bulukumba, keduanya dibatasi oleh sungai. Ada 27 aliran sungai melewati Bantaeng, dan 9 sungai mengarah ke kota, sebelum air itu tiba di laut. Artinya, Bantaeng akan masuk dalam suasana dilemma, manakala air tidak dikelola dengan baik. Di satu sisi menjadi potensi, tapi saat lainnya berupa bencana.
Daerah Aliran Sungai (DAS) saat ini berada dalam kondisi kurang menggembirakan. Pasalnya, di beberapa daerah pegunungan mengalami penggundulan. Akibatnya, tatkala musim hujan tiba, apatah lagi curahnya tinggi nan awet, maka air akan membawa serta tanah, lalu menjadi masalah baru di tepi laut.
Harapan terdalam Andi Abubakar, keberadaan pohon membantu untuk menjaga kesuburan tanah, mengurangi polusi udara, menahan laju air dan erosi, mencegah banjir, hingga menambah keindahan pemandangan.
Tak lupa pula mengingatkan, betapa eratnya hubungan manusia dengan bumi dan tanggungjawab untuk melindunginya. Di satu sisi, kalau tidak rawat, akan memberikan potensi bencana bagi masyarakat. Namun, kalau dijaga dan dirawat, maka hasil jangka panjangnya jauh lebih baik dari apa yang dipersiapkan hari ini.
Kalakian, Andi Abubakar menyampaikan pula akan ada penanaman massal pohon sukun dan nangka madu, sejumlah masing-masing 100 ribu pohon, sehingga ada 200 bibit pohon. Eloknya lagi, Pemprov Sulawesi Selatan akan ikut menguatkan, lewat bantuan 200 bibit. Jadi, total bibit yang bakal ditanam secara bertahap 400 pohon. Sasaran pertama dari penanaman ini, di daerah aliran sungai.
Nah, pada konteks inilah arti penting Peringatan Hari Bumi Sedunia, sebab tidak sekadar seremonial belaka. Melainkan, ada tindakan nyata, sebentuk pembumian aksi penebaran bibit ikan dan menanam pohon.
Merujuk pada laporan Ketua Panitia, sekaligus Kadis Lingkungan Hidup Bantaeng, Nasir Awing, menabalkan, Peringatan Hari Bumi tingkat Kabupaten Bantaeng tahun 2024, ditandai dengan kegiatan tabur benih ikan nila gesit sebanyak 6.000 ekor di Cekdam Balangsikuyu, plus penanaman pohon sebanyak 500 pohon di areal Cekdam Balangsikuyu.
Selain itu, penanaman serentak di 4 wilayah kecamatan sebanyak 2.000 pohon. Penanaman serentak yang dilaksanakan KPH Bialo bersama kelompok tani dan masyarakat di 4 kecamatan, yakni Kec. Uluere, Eremerasa, Tompobulu dan Bantaeng. Pun, penanaman serentak di seluruh tingkatan pendidikan dengan estimasi sejumlah 25.000 pohon.
Satu tindakan lantip dari Nasir Awing, sebab pada momen kali ini, ada satu jenis pohon endemis Bantaeng diperkenalkan, sekaligus menjadi simbol penanaman pohon oleh Pj. Bupati Bantaeng. Pohon endemis Bantaeng, orang tempatan menamakan Puca dan Angkaeng, tumbuh subur di Hutan Kota Kayulompoa, Kelurahan Bontorita, Kecamatan Bissappu.
Kejelian sang Kadis, patut diapresiasi. Menurutnya, bibit pohon endemis Bantaeng tersedia secara alami di Hutan Kota Kayulompoa. Puca dan Angkaeng beranak-pinak secara alamiah. Artinya, alam telah menyediakan secara gratis bibitnya, sisa bagaimana upaya melestarikan dengan menyebarkan ke tempat lain. Kelebihan pohon ini, kemampuan mengikat air terjadi sepanjang tahun. Terbukti di kawasan Kayulompoa, tidak pernah kering sumber airnya.
Ke depannya, pohon endemis ini akan menjadi salah satu primadona yang ditanam sepanjang daerah aliran sungai. Pohon Puca dan Angkaeng, akan kami persiapkan untuk ditanam lebih banyak pada Peringatan Hari Lingkungan Hidup se Dunia, 5 Juni 2024, tutur Nasir Awing.
Sepulang dari helatan Peringatan Hari Bumi Sedunia, saya mampir memenuhi undangan pernikahan seorang sahabat. Di arena pernikahan ini, bersua beberapa kisanak dan nyisanak. Saya tak lupa berbasa-basi, sekadar menjelaskan keberadaan kostum saya yang kurang pas dengan konteks pesta. Pasalnya, saya pakai rompi dan topi rimba.
Lebih dari itu, pakaian saya sedikit basah dikarenakan sejak sambutan Andi Abubakar di Cekdam Balangsikuyu, hujan mulai merintik, lalu menderas setelah tebar benih ikan dan penanaman pohon. Berkah dari langit turun membumi, seolah menyepakati tindakan segelintir manusia Bantaeng yang bertekad merawat bumi.
Seiring kemeriahan pesta, dihibur oleh sekelompok pemusik berlatar otri-irama keroncong, saya bercerita tentang apa yang saya saksikan sekaligus aksikan di Cekdam Balangsikuyu. Mungkin karena aura helatan Peringatan Hari Bumi Sedunia masih menghidu saya, sehingga nyaris menjadi seorang pewarta menguritakan peristiwa besar, yang memang akbar buat masa depan.
Sebelum saya meninggalkan pesta, tak lupa menyentil kawan-kawan penghadir, apa yang dibikin oleh tuan rumah, menghelat pernikahan, juga bagian dari aksi menanam pohon. Sepasang pengantin, akan bercocok tanam, berupa pohon hidup untuk kehidupan berikutnya. Lalu, saya pungkasi dengan tanya, apa yang kisanak dan nyisanak imajinasikan dengan 25.000 pohon yang ditanam hari ini?

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply