“Semua hari yang di dalamnya kamu tidak berbuat dosa, itulah hari raya sesungguhnya.” (Imam Ali bin Abi Thalib)
Kemeriahan lebaran pun tiba, selama berpuasa sebulan penuh lamanya. Sudah menjadi pengetahuan umum, tradisi menyambut hari raya, biasa disebut juga lebaran, sering dirayakan bersama kerabat dan orang-orang tercinta lainnya.
Saking pentingya tradisi ini, setiap orang berusaha sedapat mungkin merayakan bersama sanak keluaraga di kampung halaman. Biasanya, setiap orang akan berusaha pulang kampung atau mudik, selepas mengadu nasib di seantero bumi berpijak.
Kegembiraan menyelimuti hari kemenangan itu, maka layaklah dirayakan. Kata Maulana Rumi, “Jaga Idulfitri ini di dalam dirimu biarkan ia tertawa.” Beragam perjamuan disajikan, baik terencana maupun tiba-tiba.
Sebagai tradisi tahunan, momen ini dimanfaatkan sebagai ajang memupuk solidaritas sesama sanak keluarga. Meskipun, tak dimungkiri dinamika keluarga sering terjadi ketengangan, akibat perbedaan persepsi, pilihan, dll.
Apa pun perbedaan itu, akan lebur di momen lebaran, sebab lebaran bukan hanya tentang kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga tentang kemenangan hati yang mampu merendah untuk saling memaafkan.
Sungguh makin elok, jika kegembiraan lebaran ini, saya lukiskan dengan kata-kata. Supaya makin sempurna adanya. Saya akan memulai cerita dari hari per hari.
Hari pertama lebaran. Pagi hari, manakala mentari kemenangan menampakkan wajahnya, pun disambut suka cita oleh warga kampung dengan alunan tasbih, tahmid, dan takbir bertalu-talu.
Kami sekeluarga sepakat akan menunaikan salat di tanah lapang milik pemerintah desa. Meski hujan melanda di malam hari, tidak membuat semangat warga surut menunaikan ibadah sekali setahun itu.
Berbekal sejadah dan tikar, kami melangkahkan kaki menuju lapangan. Tak lupa, kami berswafoto terlebih dahulu, sebelum memasuki lapangan desa. Tasbih, tahmid, dan takbir kami lafalkan dari shaf terdepan. Kurang lebih ribuan orang berbondong-bondong memadati lapangan seluas dua kali lapangan bola.
Setelah kurang lebih memangsa waktu dua jam, menunaikan salat Idulfitri, kami tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Seperti biasanya, kami berkumpul di rumah kakak tertua, meski beliau sudah lama mangkat, anak dan cucunya masih menjaga kebiasaan itu, sekaligus mengenang masa-masa hidupnnya. Di rumah tua itu kami saling maaf mamaafkan, tak jarang air mata menjadi saksi ketulusan maaf memaafkan.
Sebelum kami melanjutkan nyekar ke makam sanak saudara yang tidak jauh dari mukim, kami menyempatkan terlebih dahulu menyantap penganan khas lebaran, seperti opor ayam, bakso, toppa lada, gantala jarang, konro dll. Penganan ini merupakan menu wajib lebaran.
Di atas pusara kami bergantian mendoakan para leluhur, kunjungan ini semacam silaturahmi kepada orang-orang mendahului kami. Kata Kang Jalal, “Silaturahmi tidak hanya ditujukan kepada orang yang masih hidup, tetapi juga yang sudah mati. Mereka mewakili masa lalu. Orang-orang modern yang yang sudah dicabut dari akar sejarahnya perlu sekali-kali kembali kepadanya.”
Hari kedua lebaran. Suasana lebaran masih terasa adanya. Beberapa kerabat, saudara, sahabat, kawan, tetangga, kami menyambutnya penuh kehangatan di mukim kami. Suasana keakraban sangat terasa di momen ini. Canda tawa menghidu suasana ini.
Sejak dulu, di mukim kami, menjadi tempat kunjungan oleh kerabat dari luar kota maupun di kampung sendiri. Bahkan, lebaran kali ini, beberapa kerabat dari Kota Makassar sengaja menginap di mukim kami, tak lain ingin lebih intens bersilahturahmi dengan kerabat-kerabatnya di kampung.
Momen lebaran, benar-benar dimanfaatkan oleh kerabat jauh. Pasalnya, jarang-jarang dapat berkumpul dengan suasana keakraban, selain hari lebaran.
Hari ketiga lebaran. Hari ini, bertepatan dengan hari Jumat perdana di bulan Syawal. Kali ini, giliran kami bertandang ke mukim kerabat, semacam membalas kunjungan mereka sehari sebelumnnya di mukim kami.
Kalau dihitung-hitung, sebanyak lima rumah kerabat kami kunjungi hari itu. Jangan bayangkan bagaimana isi perut kami, karena setiap rumah menyajikan makanan khusus menyambut kami. Untuk menyesiasati keadaan, agar perut tidak kelewat kenyang, saya makan secukupnya saja. Bermacam penganan khas, seperti legese, gantala jarang, coto, konro dll. Di sajikan tuan rumah.
Tidak hanya itu, mereka juga memberi semacam hadiah berupa amplop berisi uang, khususnya bagi anak-anak kami yang berpuasa sebulan penuh. Betapa bahagianya anak-anak kami beri hadiah itu. Bukankah amalan terbaik adalah memasukkan kebahagiaan dalam hati seseorang.
Hari keempat lebaran. Salah satu kerabat, boleh dikata keponakan dari pihak istri, mengajak kami dan keluarga lainnya, menghabiskan waktu di pendopo yang lokasinya berada di tengan-tengah empang.
Usaha sampingan yang dimilikinya ini, mengahasilkan kurang lebih lima ribu ekor ikan bandeng, sebanyak dua kali penen dalam setahun . Persis hari ini pula, waktu panennya tiba. Di atas pendopo yang di kelilingi empang dan pepohonan kelapa, semilir agin menerpa di seluruh sisi pendopo.
Berbagai acara dipentaskan, mulai karaoke, main kartu, memancing, dll, sembari menungu ikan bakar segar yang diambil langsung dari empang. Beberapa perkara kami percakapkan di tempat itu, mulai hal remeh temeh, hingga hal yang menyeringingkan dahi.
Dari semua percakapan, hal yang paling realistis, yakni, kami sepakat mengadakan liburan esok harinya di luar kota. Maka tertuju Pantai Bira sebagai lokasi liburan. Jarak Pantai Bira dari mukim kami, sekitar 90 Km, untuk mencapainnya, mesti memangsa waktu kurang lebih dua jam perjalanan.
Pantai Bira Bulukumba menjadi tujuan wisata bagi warga Sulawesi Selatan. Bagi kami bermukin di Jeneponto, tidak sulit mengakses tempat tersebut, apalagi jaraknya tidak jauh, pun tidak dekat. Pendeknya, kami bersepakat, Pantai Bira lokasi paling representatif tujuan liburan kali ini.
Hari kelima lebaran. Pagi hari, tatkala matahari memulai safarnya, kami se-keluarga pun demikian, setelah malam harinya, segala perlengkapan liburan telah dipersiapkan.
Agar perjalanan lebih mengasyikkan, kami mengada di titik kumpul, lalu beriringan menuju Pantai Bira. Memasuki Kota Bulukumba, singgah sejenak menunaikan salat di masjid kebanggaan warga Bulukumba, Masjid Datu Tiro.
Kurang lebih satu jam kemudian, kami sudah berada di lokasi Pantai Bira. Pantai eksotis yang dibaluti pasir putih dan panorama air laut yang jernih, seketika membangkitkan semangat jiwa yang hampir lelah.
Setelah istirahat sejenak, tanpa ambil tempo, kami langsung mencebur diri, menyatu dengan air laut, sambil bermain pasir di bibir pantai. Beberapa spoot permandian kami tulusuri sepanjang Pantai Bira, hingga ke arah barat, Pantai Bara.
Tak ingin melewatkan momen indah itu, kami pun abadikan dengan berswa foto. Kelak akan diumbar di akun sosial masing-masing, sebagai jejak artefak kehidupan.
Hari keenam lebaran. Mentari pagi baru semenjana terbit, kami sudah beranjak dari tempat tidur, dan berada tepat pingir Pantai Bira. Di pagi buta itu, kami ingin menyaksikan matahari pagi terbit di ufuk timur semenanjung Pantai Bira.
Walaupun cuaca sedikit mendung, tidak menghalangi sinar matahari pagi menembus awan gelap, seakan ingin menunjukkan kemegahan dan keindahannya.
Tidak mau melewatkan momen indah itu, tak sempurna jika kami tak diabadikan dengan berswa foto. Memang, sedari awal kami sudah persiapkan alat-alat pendukung swafoto maupun foto potret, semisal kursi foto stok, kamera, drone kamera, dll. Hal ini tak lain, supaya mendapat hasil yang maksimal. Kata para bijak bestari, “Abadikan setiap momenmu, karena kehidupan tidak lain hanya berbagai kenangan.”
Lanjut, setelah senam pagi, sarapan, dan berenang. Tanpa rencana, kami berhasrat melancong ke pulau yang berada di seberang selatan Pantai Bira. Belakangan, kami baru tahu, pulau itu bernama Lihukang Loeh. Jarak tempuh ke pulau sekitar 10 Km jauhnya , untuk sampai ke sana, kami menyewa kapal kayu yang disediakan warga setempat.
Perjalalan ke sana memangsa waktu kurang lebih 15 menit. Perlahan kapal kayu yang bermuatan 20 orang itu bersandar pada dermaga, setelah melewati garis pantai dengan segala panoramanya.
Menurut pendakuan juru mudi kapal, pulau Lihukang Loeh di kenal tempat penangkaran berbagai jenis penyu. Sesampai di pulau, kami langsung diajak mengunjungi tempat penangkaran penyu.
Benar adanya, kami menyaksikan penyu-penyu itu di rawat dalam penangkaran yang dibuat seperti kolam di bagian sisi pantai. Lebih serunya lagi, kami diizinkan oleh pengelola, menyentuh langsung, sembari berenang bersama penyu-penyu itu, dengan syarat mematuhi protokol yang berlaku.
Meskipun di sisi lain, seyogianya, penyu-penyu tersebut, dibuatkan penangkaran bertaraf standar, guna melindungi habitat dan ekosistemnya secara berkelajutan
Merasa puas telah menyaksikan langsung penyu-penyu itu, kami beranjak meninggalkan pulang Lihukang Loeh, kembali ke Pantai Bira. Sesampai di Pantai Bira, bukannya rehat, malah, kami makin berhasrat, mencoba berbagai wahana pantai yang terkenal dengan balutan pasir putihnya itu.
Beberapa wahana bisa kita coba, antara lain banana boat, rolling donut, snorkelling, dll. Hampir tak ada jenis wahana kami lewatkan. Meski raga lelah, namun, tidak dengan jiwa menari keriangan. Kata Maulana Rumi, “Harta karun emas itu tersembunyi dalam lokasi terpencil yang tak terkenal supaya ia aman. Bagaimana mungkin mereka menempatkan harta karun di tempat yang terkenal ? Dalam hal ini dikatakan bahwa keriangan itu tersembuyi di bawah kesedian.”
Makin ke sini, hari makin ranum, matahari pun akan mengakhiri safarnya, pun kami demikian, segara mengakhiri liburan sebelum gelap menyelimuti buana, jika terus berlanjut, maka hambar rasanya. Sebelum meninggalkan tempat, tepat di depan aula penginapan, kami berpose seluruh keluarga, mengabadikan kenangan yang akan dikenang kelak.
Kendaraan melaju pulang, sebelum mengada di mukim, salah seorang kerabat mengajak singah di suatu tempat di sebelah timur Jeneponto, sekadar menikmati semilir angin laut dan segarnya kelapa muda. Serentak kami okekan, mumpung hari belum gelap, kami pun tuntaskan.
Sebelum malam tiba, kami sudah mengada di mukim. Tentu, rasa penat terasa sekujur badan, namun rasa itu, terbayarkan dengan rasa riang yang tersembunyi dalam kelelahan.
Di sela-sela malam, terpikir esok hari akan kembali bekerja seperti sediakala. Akankan kita menemukan keriangan bekerja? seperti liburan yang baru saja berlalu. kata Sayidina Ali, “Kerjaku adalah rekrasi, rekrasi adalah kerjaku.” Defitnitnya, bekerja serupa wisata yang membuat hati riang gembira.
Kredit gambar: Tribunnews.com

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply