Tamuku dan Puisi Lainnya

Tamuku

sore ini bersama mendung kotaku
seiring tergelincirnya senja yang khusyuk
tamuku pamit pulang ke pengutus-Nya

sebelum pisah
bait-bait doa kurapalkan
daku ingin menggelar pesta kecil-kecilan
penanda bahagia meluap-luap
di perjamuan terakhir tahun ini
burasakku-ketupakku dan aneka lauk tersaji
pesta ini layak dipentaskan sebagai kemenangan bersama

dua puluh sembilan hari yang lalu
dikau tamuku datang bersiang-bermalam
dengan limpahan aneka paket
rahmat-ampunan-pembebasan

daku masih ingat benar
di subuh dinihari kala malam pertama hadirmu
kusajikan sup ayam kampung
tak ketinggalan ayam tumis kecap dan toppa lada
doa penyambutan kurapalkan

dua puluh sembilan hari masamu kali ini
sebab kadang juga tiga puluh hari
tapi itu tidaklah masalah bagi daku
toh dikau akan tetap pamit

esok di hari fitri ketika daku dan sekaumku
berkumpul di tempat-tempat yang ditentukan
kami akan dilantik sebagai manusia baru
sewujud kulau tau yang memancar menjadi bulaeng tau

itu semua berkat didikanmu
pantaslah berbusana baru kalau punya
busana tua pun tak soal asal bersih nan suci
daku melata sebelas bulan ke depan

dengan kepala tegak
hati yang lapang
pikiran yang jernih
bersertifikasi ketakwaan

***

Airmatamu

menangislah bila itu jalan terakhir
akan kugenggam airmatamu
lalu kusakukan di sudut jiwaku

merintihlah bila memang pedih
hendak kubekukan airmatamu
di lemari pendingin pikirku

kelak nanti
kala kegersangan jiwa menjamur
aku cairkan kebekuan airmatamu itu
buat menghangatkan pelataran luka kita

***

Embun

taklah pernah ia takut
ditelan hujan subuh
dilumat mentari pagi

ia tetap mengada
walau ketiadaan
selalu mengintai

dalam ketiadaan
sosok beninglah
merasakan adanya

Kredit gambar: Mauliah Mulkin


Comments

One response to “Tamuku dan Puisi Lainnya”

  1. 💙💙

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *