Saya sudah lupa, kapan terakhir kali anak-anak di sekolah mendengus kecewa karena tiba waktu istirahat atau jam pulang. Selalu, sejauh yang saya saksikan, mereka justru bersorak gembira dan berteriak-teriak ketika bel penanda itu berdering. Seolah suara itu sudah lama mereka nanti, membebaskannya dari muramnya perasaan mereka di kelas. Atau, jika sudah teramat bosan, mereka akan rajin mengingatkan guru terkait waktu, “Istirahat maki, Bu?” atau, “Berapa menit lagi, Pak?”
Saya lalu ingat cerita dua pasangan suami istri, Muhammad Nur Rizal dan Novi Poerpita Chandra. Ketika menempuh pendidikan doktoral di Melbourne, Australia. Mereka mendapat kesempatan menyekolahkan ketiga anaknya di sana, dari situ mereka merasai kesenjangan antara pendidikan di Indonesia dan Australia.
Di sana, mereka melihat keceriaan di wajah anak-anaknya. Sekolah menjadi tempat yang menyenangkan, membuatnya betah berlama-lama belajar, bahkan anak-anaknya tidak sabar kembali ke sekolah saat libur. Sekolah membuat mereka rindu, sebuah perasaan yang mungkin hilang dari anak-anak di Indonesia.
Itulah yang membuat Rizal dan Novi mendirikan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), sebuah gerakan akar rumput yang mendorong transformasi pendidikan yang memanusiakan untuk seluruh anak Indonesia melalui pendekatan berbasis komunitas.
GSM mempromosikan dan membangun kesadaran para guru, kepala sekolah, orangtua, dan pemangku kebijakan pendidikan untuk membangun ekosistem dan budaya sekolah yang menyenangkan, kolaboratif, inklusif, dan setara agar para murid menemukan potensi dirinya dalam menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat dan tak menentu.
Sebagai bentuk transformasi pendidikan, Rizal mendorong hadirnya third space di sekolah, yakni interaksi dan diskusi di mana guru dan murid dapat dengan secara egaliter saling berbagi inspirasi, pengetahuan, nilai, dan pembelajaran hidup guna menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Jauh sebelum itu, di Tokyo tenggara tahun 1937, Sosaku Kobayashi di Jepang sudah mendirikan Tomoe Gakeun, sekolahnya Tetsuko Kuroyanagi, penulis buku Madogiwa no Totto Chan—ditulis dari pengalamannya bersekolah—yang menaruh perhatian besar pada ide-ide sekolah yang memanusiakan, membebaskan, dan tentu saja menyenangkan.
Tomoe didirikan dari alas pikir bahwa tiap anak dilahirkan dengan watak baik, yang mudah rusak karena lingkungan, atau karena pengaruh buruk orang dewasa. Tomoe tak mengenal label anak nakal. Kobayashi selalu berupaya menemukan “watak baik” setiap anak dan mengembangkannya, agar anak-anak tumbuh menjadi orang dewasa dengan kepribadian khas.
Itulah yang mendorong Kobayashi merancang kurikulum sendiri yang berbeda dengan sekolah pada umumnya kala itu. Kurikulum Tomoe memberikan kebebasan pada muridnya melakukan apa yang mereka sukai di awal pelajaran, sesuai dengan passion mereka. Kobayashi berpendapat bahwa anak-anak harus memulai dari apa yang mereka sukai, karena hal tersebut akan melatih mereka berkonsentrasi. Tomoe juga meminta muridnya menggunakan pakaian usang agar mereka tidak usah khawatir baju kotor atau rusak saat bermain dan mengeksplor pembelajaran.
Kepala sekolah dan guru di Tomoe, rajin membangun percakapan dengan murid-muridnya, menjalin interaksi yang positif sehingga anak-anak tidak sungkan mengutarakan pendapat. Ketika Totto Chan pindah ke Tomoe, Kobayashi meminta Totto Chan berbicara sepuasnya tentang apa saja, dan ia berjam-jam dengan antusias mendengar tanpa rasa kantuk. Hal itu sangat bermakna bagi Totto Chan, karena ia merasa didengar dan dihargai, meski yang diutarakan hanya perkara remeh. Mendengar adalah kecakapan yang mesti dikuasai guru.
“Di Tomoe tak ada anak yang ingin pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai. Dan di pagi hari, kami tak sabar ingin segera sampai ke sana. Begitulah sekolah kami.” Ungkap Kuroyanagi di catatan akhir bukunya. Kobayashi sering berkata kepada guru-gurunya agar tidak memaksa anak-anak tumbuh sesuai bentuk kepribadian yang sudah digambarkan. “Serahkan mereka kepada alam,” katanya, “Jangan patahkan ambisi mereka. Cita-cita mereka lebih tinggi dari pada cita-cita kalian.”
Lima belas tahun sebelum Tomoe Gakeun berdiri, di Yogyakarta tahun 1922 hadir Tamansiswa bentukan Ki Hadjar Dewantara, yang menentang sistem pendidikan Belanda yang dianggapnya intelektualis, materialis, dan…kolonial itu.
Beliau menaruh minat besar pada pendidikan yang “menghamba” pada murid. Sebuah model pendidikan yang berpihak dan menempatkan murid dalam posisi yang terhormat, melihatnya sebagai manusia utuh yang mesti dimanusiakan dalam proses pembelajaran. Ia menawarkan sistem among, di mana unsur asah, asih, dan asuh amat kuat guna menuntun murid tumbuh dan berkembang pikiran, jiwa, dan raganya.
Ki Hadjar percaya bahwa mendidik itu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Sebuah cita-cita yang sederhana: selamat dan bahagia.
Mimpi yang sudah nyata di dalam kepalanya sejak masa perjuangan kemerdekaan itu, sepertinya masih terus kita perjuangkan hingga kini, entah apa yang membuat mimpi itu sepertinya menjauh dari pelupuk mata. Kurikulum berganti sekian kali, tapi sepertinya doa kebahagiaan anak-anak bersekolah belum juga terkabulkan. Jangan-jangan, kita terlalu sibuk mengurus pikiran dan melupakan batin-jiwa anak-anak kita. Waktu istirahat dipermak, agar bisa mengejar ketuntasan materi. Kita merenggut waktu bermain anak-anak—yang juga bagian dari pendidikan batin—untuk memperoleh nilai bagus.
Dalam pidatonya di Universitas Gadjah Mada, 07 November 1956, Ki Hadjar menegaskan, “Tiap-tiap hari, tiap-tiap triwulan, tiap tahun pelajaran kita terus terancam oleh sistem penilaian dan penghargaan yang intelektualis. Anak-anak dan pemuda-pemuda kita sukar belajar dengan tentram, karena dikejar-kejar oleh ujian-ujian yang sangat keras. Mereka belajar bukan untuk perkembangan hidup kejiwaannya, tapi untuk dapat nilai-nilai yang tinggi di school raport atau untuk dapat ijazah. Dalam soal ini, kita harus mencari bagaimana caranya memberantas penyakit exam cultus dan diploma jacht itu.”
Kita lupa pesan Ki Hadjar, bahwa tugas guru hanya menuntun, tapi kita justru menuntut tiap anak untuk menguasai semua pelajaran, nilainya harus di atas KKM. Muaranya tujuan pendidikan yang sejati dikaburkan oleh angka-angka di atas kertas.
Padahal, tiap anak sudah memiliki “kodrat”-nya masing-masing, padi tetap akan tumbuh jadi padi, jagung akan tetap menjadi jagung. Guru hanya dapat memperbaiki kondisi tanah, memberi pupuk dan air, membasmi ulat dan jamur, agar padi dapat tumbuh dengan baik.
Saya yakin, sekolah yang menyenangkan itu bisa mengambil bentuk third space-nya Rizal, atau pengalaman kepala sekolah Kobayashi, atau dari pikiran-pikiran Ki Hadjar Dewantara. Satu hal yang pasti, bahwa sekolah yang menyenangkan adalah keharusan, sebab jika tidak, setiap hari anak akan belajar sembari memikirkan jam pulang. Bersekolah sambil menanti libur panjang. Dan ketika libur, mereka ingin libur lebih lama agar tak usah kembali ke tempat yang tak menyenangkan itu.
Kredit gambar: Liputan6.com

Guru PJOK dan pegiat literasi di Bantaeng. Penulis buku kumpulan esai, Jika Kucing Bisa Bicara (2021) dan anggota redaksi di Paraminda.com.


Leave a Reply to Safrudin K. Cancel reply