Manusia senantiasa merasa mandiri dalam hidup dan kehidupannya. Dia merasa tidak butuh bantuan selain dirinya. Manusia seperti ini, dalam pandangan al-Quran adalah manusia istaqna. Yakni manusia yang merasa cukup dengan dirinya sendiri dan tidak membutuhkan manusia lainnya. Tipe manusia istaqna akan menjadi manusia thaga. Yakni manusia yang merasa hebat, berkarakter sombong, angkuh dan merasa lebih baik dari orang lain. (QS. al-Alaq)
Prototipe manusia yang disebutkan di atas, dalam beramal usaha, dia bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri. Manusia mandiri seperti ini, akan terjatuh pada dua ujung yang negatif, merugikan dan menghancurkan dirinya sendiri. Yakni apabila amal usahanya berhasil, maka ia merasa hebat, angkuh dan sombong. Sebaliknya, apabila ia gagal dalam amal usahanya, maka ia akan kecewa bahkan dapat berakhir dalam keputusasaan.
Protipe manusia pertama ini –dengan karakter keangkuhan, kesombongan, merasa lebih baik dari orang lain, iri hati, senantiasa kecewa dan berputus asa, ketika ia anggap dirinya gagal, karena harapannya tidak terwujud dan terpenuhi– menjadi petanda bahwa manusia tersebut jauh dari rahmat Rahiimi Allah.
Berbeda dengan manusia yang dalam beramal usaha bersandar kepada Allah dan bukan bersandar kepada dirinya sendiri secara murni. Manusia tipe kedua ini, apabila ia berhasil dalam amal usahanya, ia akan bersyukur kepada Allah. Adapun sekiranya amal usahanya gagal, maka ia akan bersabar dan bertawakkal kepada Allah.
Manusia tipe kedua ini tidak akan pernah merasakan kekecewaan, ketika beramal usahanya dan bahkan dalam hidup dan kehidupannya. Mengapa? Oleh karena semua urusannya telah ia kembalikan kepada Allah dan tidak disandarkan kepada dirinya sendiri.
Manusia yang telah mampu mengembalikan dan menyandarkan hidup dan segala urusan kehidupannya kepada Allah, merupakan manusia yang telah dewasa secara spiritual. Manusia seperti telah dianugrahi rahmat Rahiimi. Dia telah mampu menjadikan rahmat Rahmaani menjadi rahmat Rahiimi.
Berbeda dengan manusia tipe pertama yang telah diuraikan di atas. Manusia tipe pertama tersebut mengalami stanting spiritual atau kekerdilan spiritual, sekalipun usia kehidupannya telah dewasa dan bahkan sudah tua dan lemah.
Sesungguhnya tidak ada alasan yang dapat dibenarkan, buat manusia yang beragama dengan cara beragama yang benar dan baik, serta serius, terjatuh dan menjadi tipe manusia pertama. Oleh karena agama Islam dengan tegas mengajarkan, bahwa mereka yang imannya haqqan tidak akan merasakan kekecewaan dalam hidup dan amal kehidupannya. Laa khaufun alaihim wa laa yahzanuun.
Jika hidupnya diuji dengan kelonggaran dan amal usahanya sukses membahagaikan, maka ia menenggelamkan dirinya dalam kesyukuran kepada Allah, atas ujian nikmat kelonggaran dan kebahagian tersebut.
Kemampuannya bersyukur juga merupakan nikmat spiritual yang mesti ia syukur. Dengan demikian, ia hanya hidup dan berpindah dari satu kesyukuran menuju kesyukuran yang lain. Karakter syukur telah menghiasi relung-relung kalbunya.
Sebaliknya, jika hidupnya dalam ujian kesempitan dan amal usaha kehidupannya, tidak berhasil yakni tidak sesuai dengan harapannya, maka ia menenggelamkan diri dalam kesabaran ilahiah, bertawakkal kepada Allah. Selanjutnya, terus menelusuri lorong-lorong hikmah di balik ujian kesulitan dan kesempitan hidup tersebut.
Hikmah pertama yang ia sadari dan pahami dari ujian ketidaksuksesan amal usahanya adalah, ia sangat yakin bahwa amal usahanya yang tidak berhasil alias gagal tidaklah sia-sia di sisi Allah. Oleh karena ia telah bersandar kepada Allah di awal amal usahanya. Dia telah mendahului amal usahanya dengan basmalah.
Dalam konteks makna ini, menarik dikemukakan kata hikmah Athaillah dalam kitab al-Hikam, yakni: “Min ‘alaamaati al-najhi fi al-nihaayaat al-ruju’u ila Allah fi al-bidaayaat.” Artinya; di antara tanda keberhasilan di akhir adalah kembali kepada Allah di awal.
Makna kata hikmah yang lain, Ibnu Athaillah juga berkata, “Fainna al-bidaayaat majallaat al-nihaayaat wa inna man kaanat bi Allah bidaayatuhu kaanat ilaihi nihayatuhu.” Artinya sesungguhnya permulaan itu bagaikan cermin yang memperlihatkan akhir. Barangsiapa yang permulaannya selalu bersandar kepada Allah, pasti akhirnya akan sampai kepada Allah.
Di antara makna dari kedua kata hikmah di atas adalah, bahwa amal usaha yang diawali dengan kembali kepada Allah yakni bersandar kepada-Nya, tidak akan pernah mengalami kesia-siaan, meskipun amal usaha tersebut secara lahir dan kasat mata gagal.
Namun, kegagalan tersebut telah menjadikan kalbu spiritual ilahiah seseorang yang bersandar kepada Allah semakin jernih dengan kecemerlangan cahaya ilahiah. Dia semakin mengenali Allah dengan mengenali kelemahan, kerendahan dan kehinaan dirinya di satu sisi dan di sisi lain ia menyadari kebesaran, keagungan dan keperkasaan Allah di hadapannya. Dengan kata lain, ujian kegagalan telah mengantarnya memakrifati Allah.
Dia semakin sadar bahwa sekuat apa pun amal usahanya, tidak akan pernah menembus takdir Allah, seperti kata hikmah Ibnu Athaillah “Sawabiqu al-himam laa takhriqu aswaara al-aqdaar.” Manusia hanya sebatas berusaha, hasil akhirnya adalah ketetapan Allah.
Manusia beriman dengan iman yang haqqan mesti meyakini seyakin-yakinnya bahwa tidak ada takdir Allah yang salah, batil dan buruk serta sia-sia. Semua ketetapan takdir Allah baik dan bermanfaat. Allah tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya.
Dengan demikian, biarkanlah keinginan, kehendak dan keputusan Allah yang berlaku atas diri kita. Sungguh keinginan seorang manusia tidak akan pernah mampu diletakkan di atas keinginan dan kehendak Allah.
Oleh karena itu, lebih baik fokus pada ketulusan niat dan keikhlasan, dalam upaya dan usaha melakukan suluk kepada Allah, dengan menegakkan agama-Nya dalam hidup dan kehidupan kita. Renungkanlah QS. ar-Ruum/30: 54.
Sebaliknya, amal usaha yang tidak diawal dengan kembali kepada Allah yakni bersandar kepada Allah dengan tidak membaca basmalah, tidak akan pernah bernilai di sisi Allah, alias sia-sia meskipun secara kasat mata sukses, berhasil membahagiakan.
Namun, kesuksesan dan kebahagiannya hanya menyenangkan bagi nafsunya bukan dan tidak bagi hati nuraninya. Bahkan dengan senantiasa menyenangkan hawa nafsu maka hatinya menjadi terkotori, dhulmani, gelap gulita kosong dari cahaya ilahi. Iyazu billaah min zalik.
Makna spritual basmalah telah memberikan kekuatan yang dahsyat dalam diri seorang mukmin haqqan, untuk menghadapi segala bentuk ujian hidup dan kehidupannya. Dengan basmalah, dia menyakini bahwa dirinya sungguh telah memulai dan mengawali hidup dan amal kehidupannya dalam cahaya ilahi, cahaya rahmat Rahmaani dan ia yakin akan berakhir dalam cahaya ilahi pula yakni cahaya rahmat rahimi.
Ibnu Athaillah dalam kalimat hikmah berkata, “Man asyrakat bidayatahu, asyrakat nihayatahu.” Artinya, siapa yang di awalnya bercahaya maka di akhirnya pun akan bercahaya.
Orang mukmin haqqan yang bersandar kepada Allah, tidak akan fokus dan intens secara maksimal untuk menyibukkan dirinya, terkait dengan apa yang telah diurus dan dijamin oleh selain dirinya yakni Allah. Misalnya, ia tidak akan sangat mobile terkait dengan reski hidup dan kehidupannya, karena reskinya telah dijamin dan ditentukan oleh Allah.
Bagi mukmin haqqan, ketentuan Allah sudah pas, baik dan menguntungkan dirinya. Sebaliknya dia lebih fokus dan intens secara maksimal kepada sesuatu yang diserahkan kepada dirinya untuk ditegakkan yakni segala sesuatu yang dituntut dari dirinya sebagai kewajiban yang pasti dimintai pertanggung jawaban. Seperti menegakkan perintah dan menjauhi larangan Allah.
Berbeda dengan manusia yang tidak bersandar kepada Allah, akan tetapi bersandar kepada dirinya sendiri, ia dalam hidup dan kehidupannya, akan sangat sibuk mengurus apa yang telah dijamin oleh Allah, yang mana pasti Allah akan memberikannya.
Namun, ia melalaikan apa yang dituntut darinya untuk ia tegakkan. Kewajiban ubudiyahnya ia lalaikan dan tinggalkan karena sibuk mengurus apa.yang telah dijamin Allah. Tipe manusia seperti ini menurut ibnu Athaillah adalah manusia yang mata hatinya telah buta dan disfungsi.
Kiranya patut untuk melakukan gerakan “hadap diri“, untuk mengetahui posisi diri kita masing-masing. Apakah kita manusia dalam beramal usaha di kehidupan ini, masih bersandar secara kuat kepada kekuatan diri sendiri? Apabila jawabannya positif, maka tidakkah sudah saatnya kita mengubah sandaran kita dalam beramal usaha di kehidupan fana ini? Yakni, berpindah bersandar kepada Allah. Maka dengan begitu hidup kita tidak dalam kesia-siaan.
Ibnu Athaillah menegaskan, bahwa ciri dan indikator utama seseorang masih menyandarkan diri kepada selain Allah adalah kekecewaan masih sangat kuat menggalaukan kalbunya, kehilangan harapan hidup dan berputus asa, ketika ia berada dalam kegagalan hidup dan dosa maksiat. Yakni, “Min alaamat al-i’timaad ‘ala al-‘amali nuqshaan al-rajaai ‘inda wujuud al-zilal.”
Kredit gambar: Gramedia.com

Doktor di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Al-Qur’an. Dosen di Unhas Makassar dan UIN Alauddin Makassar


Leave a Reply