Manusia menghabiskan banyak waktu, uang, dan energi untuk memberi manfaat bagi orang lain, termasuk keluarga, teman, dan orang asing. Mengapa kita melakukannya?
Pernahkah kita memedulikan orang lain demi kepentingan mereka dan bukan hanya demi diri kita sendiri? Apakah tujuan akhir kita selalu dan semata-mata hanya untuk kepentingan diri sendiri, atau apakah kita mampu memperhatikan kesejahteraan orang lain sebagai tujuan akhir? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menanyakan tentang adanya motivasi altruistik pada manusia. Opening menghentakku di sebuah laman.
Lalu bagaimana “hikmah” berasal? Seorang ahli tafsir terkenal, Prof. Quraish Shihab, mengatakan hikmah artinya juga diambil dari awal mula kata yang sama, maka dibentuklah kata yang memiliki makna kendali, yaitu sesuatu yang fungsinya mengantarkan kepada yang baik serta menghindarkan yang buruk. Untuk mencapai maksud tersebut maka diperlukan pengetahuan serta kemampuan untuk menerapkannya.
Dan dalam Al-Qur’an disertakan ayatnya, menggambarkan hikmah artinya berhubungan dengan kehidupan akal, keadilan, keilmuan, pemikiran dan kebaikan sebagai hubungan saling menyempurnakan yang tidak dapat terpenuhi kecuali atas dasar kebijaksanaan.
Sementara “apparikongang” atau kata dasar pa’rikongang adalah kepekaan, peduli, yang terkandung dalam dialek Makassar seperti kamaseang (kasih sayang) sikamaseang (saling berkasih sayang).
Kemudian kususuri sebuah laman untuk menguatkan narasi ini. Cukup menggelitik dan memantik, “Kepedulian empati dalam altruisme manusia,” oleh penulis Dan Baston menawarkan jawaban yang sangat berbeda. Ia mengklaim bahwa kepedulian empatik (emosi berorientasi pada orang lain yang dirasakan seseorang yang membutuhkan—simpati, kasih sayang, kelembutan).
Ia melanjutkan, bahwa menghasilkan motivasi altruistik (suatu keadaan motivasi dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan orang lain). Saya terjenak mengamini lalu juga ingin menjawab dalam bentuk berbeda. Bahwa di antara manusia, pada ranah sosial tanpa dikenali. Hadir sosok manusia menghapus derai, menyeka air mata, melerai perkara manusia, sosial yang kian pelik. Bukan pencitraan. Namun, ada risalah tertuang dalam hening dan bening hati seorang pengasuh jiwanya.
Saya kemudian terbawa suasana sambil mengingat dan kembali mendengarkan lagu Makassar. Di sana ada kata menghampar dengan Judul menarik dan sarat makna dan hikmah, “Alle mama tea bilang.” dilantunkan oleh Ridwan Sau, dengan suara yang khas, sentuhan penuh rasa, “Nakke teaja ningai, erokja nikamaseang, tea tonja dipuji-puji erokja ni parikongang.” Saya tidak mau semata disukai atau sekadar disenangi, hendak harapku dalam kasih dan sayang, tiada pula mau dielu-elukan atau dipuja-puji, namun lebih menempati nilai empati.
Sebuah pengejewantahan, atau tindakan berkenaan “hikmah” di balik apparikongang adalah amanah pada tujuh helai garis kehidupan, kemanusiaan hidup dalam kelayakan, ada hak untuk merasakan dunia yang dihuni yang sekian lama terasa bagai jerat dan jerit. Lalu ia hadir menyelami, bukan sebatas menyalami. Tanpa citra diri. Kepekaan itu telah lahir sejak dalam rahim seorang ibu. Menempa kepekaan pada setiap ranah kehidupan manusia sekitarmu. Ia kau sematkan sebagai guru kehidupan, membimbing meraih cinta, menuntun menjadi perangai santun dan penyantun.
Pesannya adalah peduli, tidak harus bertingkah, empati, tanpa pula berharap simpati. Secara lahiriah tak tampak, namun terjatah setiap nadi-nadi manusia yang memang patut disantuni. Sebagaimana tertera dan teryakini setiap denyut, dengan mengambil bagian kepatutan dalam sebuah syarat-syarat hukum semesta, agama bahkan Tuhan itu sendiri.
Ia hadir mengetuk di setiap rumah serta jiwa manusia, menyeka air matanya, bulir kehidupan yang layak mendapatkan.
Selepas Jumat, saya mengeja, membaca dirimu, alam jiwa semestamu. Walau setiap saat mengelak untuk sebuah dekapan, cinta kasih tanpa menanti ucap terima kasih terlebih pamrih. Itulah altruistik semesta jiwamu. Lantas haruskah kusebut namamu? Tetiba dia menolak. Pada benak kutanak dirimu penuh luhur, tanpa nomenkelatur apalagi pada angka kalkulator.
Tidak juga harus kucitrakan atau mengagungkan, pada gaun-gaun pesona ingin tampil sebagai manusia berbudi. Akan tetapi justru “hikmah apparikongang-mulah” diisyaratkan dengan uluran tangan kananmu tak harus diketahui tangan kiri. Tanpa publikasi apatahlagi hanya sensasi.
Derma tidak menjadikannya larut merasa paling mampu. Setidaknya menyeduhkan solusi. Meneguk bersama antara rasa pahit manisnya kehidupan, antara layak dan tidak layak.
Sierang dalle surang pangngai tamaminrayya. Lanri rinia’na sirantang assare, tanre namammile. Seiring rezki, seraya kasih sayang tiada pernah luntur, atas kepantasan berbagi, tanpa memilah milih kepada sesiapa. Pada yang jauh dari luput mata, kau mencari menyusuri, bereaksi lalu alam semesta menjadi saksi. Begitulah sekiranya sebagai “hikmah” apparikongang hadir.
Saya tidak harus gegabah menempatkan kata “hikmah” itu sendiri dan disertai bahasa Makassar yang kental. Agar tidak tersesat dan terjebak dalam analogi dan cocok logiku yang mini serta masih sepi referensi.
Tetiba di tengah kegersanganku, meski telah kutempatkan di awal tulisan ini makna dan syarat bagaimana “hikmah itu hadir berwujud kata, seorang Abdurrahman As-Sa’di bagai mengusap dan melengkapi pada kingkup gugupku mencari isyarat lain. Ia menafsirkan kata al-hikmah dengan ilmui-lmu yang bermanfaat dan pengetahuan-pengetahuan yang benar, akal yang lurus, kecerdasan yang murni, tepat dan benar dalam hal perkataan maupun perbuatan.”
Kemudian beliau berkata, “Seluruh perkara tidak akan baik kecuali dengan al-hikmah, yang tidak lain adalah menempatkan segala sesuatu sesuai pada tempatnya; mendudukkan perkara pada tempatnya, mengundurkan (waktu) jika memang sesuai dengan kondisinya, dan memajukan (waktu) jika memang sesuai dengan yang dikehendaki.”
“Hikmah”, serunai yang indah menempati ruang waktu, dari keruh menjadi suluh, sebagai lentera pada resah. Pada yang rusuh menjadi luruh.
“Apparikongang” lanri nia’na pacce, pa’mai sierang ampe-ampe, pangngai tanga mamilea (ketika rasa perih dam miris hadir, kebaikan hati seiring sifat penyayang tanpa memilah milih).
Kredit gambar: https://greatmind.id/

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Dion Syaif Saen Cancel reply