Sangat sering kita mendengar pernyataan untuk berpikir positif, termasuk berpikir positif terhadap kondisi sakit. Tulisan kali ini akan mengulas beberapa pikiran positif atas kondisi sakit, di antaranya;
Pertama, sakit itu zikrullah. Mereka yang menderitanya akan lebih sering menyebut asma Allah dibandingkan ketika dalam sehatnya.
Kedua, sakit itu istighfar. Dosa-dosa akan mudah teringat ketika datang sakit. Sehingga hati, pikiran dan lisan terbimbing untuk memohon ampunan. Berdasarkan riwayat, orang yang sakit dan rida dengan sakitnya, maka itu menjadi wasilah pengampunan atas dosa dosanya.
Ketiga, sakit itu tauhid. Karena saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibah yang akan terus diucapkan.
Keempat, sakit muhasabah. Ketika sakit, akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali kepada Allah Swt.
Kelima, sakit itu jihad. Ketika sakit , diwajibkan terus berikhtiar, penuh semangat dan optimis berjuang demi kesembuhan.
Keenam, sakit itu ilmu. Karena ketika sakit, kita akan memeriksa, berkonsultasi, belajar dan pada akhirnya bisa merawat diri. Dengan adanya ilmu, kita akan semakin mudah terhindar dari penyakit.
Ketujuh, sakit itu nasihat. Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat menghibur yang sakit agar bisa menerima, menjalani , bersyukur, dan bersabar atas kondisi yang sedang diderita. Allah cinta dan sayang keduanya.
Kedelapan, sakit itu silaturahim. Ada banyak orang yang silaturahimnya terputus, tapi mendengar info bahwa ada yang sakit, maka yang bersangkutan kembali berusaha bersilaturahim kepada si sakit, baik melalui telepon, WA maupun membesuknya. Sakit adalah perekat ukhuwah.
Kesembilan, sakit itu mustajabnya doa. Dulu, seorang ulama besar bernama imam As-Suyuthi, berkeliling kota mencari orang sakit, kemudian ia meminta didoakan oleh yang sakit. Jadi, saat membesuk orang yang sakit, selain mendoakan orang yang sakit, sebaiknya, kita pun meminta untuk didoakan oleh orang yang sakit.
Kesepuluh, sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan jin/iblis. Ketika sakit, fisik yang selalu keluyuran dan gemar berbuat maksiat, akan tertunda, bahkan sakit tersebut bisa menjadi wasilah untuk pertobatan.
Kesebelas, sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis. Satu sikap ke-insyaf-an yang disukai Nabi dan para makhluk langit.
Keduabelas, sakit itu meningkatkan kualitas Ibadah. Rukuk, sujud akan lebih khusyuk, Bertasbih dan beristighfar lebih sering, Bermunajat dan berdoa jadi lebih lama.
Ketigabelas, sakit itu memperbaiki akhlak. Kesombongan akan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadu.
Keempatbelas, dan pada akhirnya, sakit itu membawa kita untuk selalu ingat akan kematian.
Kondisi sakit tidak selalu berhubungan dengan penyakit, tapi bisa saja kondisi tersebut adalah sistem alami tubuh, misalnya detoksifikasi. Pada saat detoksifikasi, terkadang gejala kembali terulang persis seperti gejala sebelumnya yang membuat minum obat-obatan kimia. Bukankah obat-obatan kimia adalah racun bagi tubuh.
Saya sungguh berharap, agar tulisan ini membuat lebih tenang dan nyaman serta rileks di saat sakit sekalipun. Sebab, dengan kondisi tersebut, kita akan terhindar dari penderitaan dan akan sangat membantu proses kesembuhan, insyaallah. Apatah lagi jika dihadapi dengan senyuman.
Kredit gambar: Edukasinewss.com

Seorang terapis. Bergiat di Sekolah dan Terapi Pammase Puang Holistik Center Makassar. Dapat dihubungi pada 085357706699.


Leave a Reply