Menatap lekat wajah anakku, Shanum yang sedang tertidur dengan mulut sedikit terbuka. Kucoba untuk menutupnya, namun terbuka kembali secara perlahan. Andai saja, mulutnya juga begitu mudah terbuka ketika makan. Mungkin saja, ibu akan lebih tenang.
Persoalan makan bayi atau MPASI kerap kali perkara tiada habisnya. Wajar saja, para orangtua ketika memasuki usia makan anak akan merasa was-was. Bahkan bisa bergenre serial horor. Tidak sedikit pula, untuk menghentikan ke-hororan itu, para orangtua mengambil jalan pintas, seperti memberikan gadget, mengganti dengan minum ASI atau susu formula saja, mengajak makan sambil melihat kucing, bahkan sambil digendong.
Bagi yang pernah atau tengah merasakan pengalaman itu, pasti akan relate betapa stresnya dan betapa menggiurkannya mengambil jalan-jalan pintas itu. Butuh kekuatan, ketabahan, dan pendirian yang kuat agar tidak tergiur dan tetap yakin dengan apa yang telah dilakukan. Sembari memikirkan seribu cara lagi, alasan dan penyebab anak tidak mau makan. Seperti pengalaman kami, sebagai orangtua baru.
Menuju usianya yang kedelapan bulan. Saya dan suami dibuat berpikir bak detektif terkait makannya Shanum. Dulu di usia 6 bulan, kami sibuk dengan ulek saring menggunakan saringan super halus. Rekomendasi dari seorang kawan yang memiliki anak lelaki seusia Shanum, berjarak sekitar lima bulanan.
Ayah bertugas untuk memasak dan ulek saring. Jangan dikira itu pekerjaan yang mudah. Ulek saring benar-benar membutuhkan tenaga. Tangan seringkali lecet. Belum lagi, jika bertemu dengan protein hewani yang mengajak “berkelahi” seperti ikan dan ayam, karena teksturnya. Hasilnya pun kadang tidak sesuai harapan. Entah airnya kebanyakan karena ingin tekstur ikannya halus, yang berakhir anak menolak makan, karena terlalu encer. Tidak mungkin juga kan, Shanum hanya kami beri telur saja, yang mudah dimasak.
Dalam proses pemberian makan kami juga berusaha menerapkan feeding rules dan belum memberinya gula garam. Perkara pemberian garam sebenarnya ada dua mazhab dalam dunia per-MPASI-an ini. Ada dokter yang mengatakan tidak apa memberinya sedikit garam, biar anak tahu rasanya dan tidak hambar. Ada juga yang berpendapat, di bawah satu tahun tidak diberikan garam dulu. Biarkan anak mencoba rasa asli dari masakan dan bumbu. Apalagi lambungnya masih begitu kecil, lebih membutuhkan banyak hidrasi.
Selain kedua mazhab itu, ada juga genre pembuatan MPASI secara homemade atau instan, terkait juga pemberian bumbu-bumbu, cemilan yang dibuat dan dikhususkan untuk bayi, seperti MSG, biskuit, dan bubur instan.
Persoalan peralatan pun demikian, ada yang menggunakan slow cooker, saringan khusus, dan sebagainya. Bagi kami pribadi, pemberian MPASI kami usahakan menggunakan real food yang dibuat sendiri, termasuk cemilannya, tanpa gula, garam, apalagi bumbu-bumbu MSG, walaupun khusus untuk bayi. Kami mengusahakan untuk menerapkan feeding rules.
Penggunaan peralatan pun asal bukan aluminium, akan kami gunakan. Bagi para orangtua yang memilh tidak seperti pilihan kami, pastilah telah mempertimbangkan yang terbaik untuk anak mereka. Jadi ini semua lebih pada referensi dan keyakinan orangtua saja.
Saya percaya, menjadi orangtua mengeluarkan sisi terbaik dari diri kita, yang bahkan kita pun tidak tahu itu ternyata ada dalam diri.
Lanjut cerita, jadilah, kami begitu sibuk observasi, evaluasi, perencanaan. Macam akan membentuk suatu undang-undang. Barangkali saja, undang-undang lebih mudah dibentuk daripada proses MPASI ini. Hehe, Bercanda undang-undang.
Alhamdulillah, bulan pertama makan di usia 6 bulan bisa kami lewati dengan masih mengelus dada. Memasuki tujuh bulan, Shanum diberi cobaan dengan pertumbuhan dua gigi bawah depan. Perlahan-lahan gigi itu menembus gusinya, merobek, terlihat bercak merah. Tentu saja membuatnya jadi rewel. Ia jadi senang menggigit. Saya memberinya pijatan gusi, buah seperti wortel dan apel untuk ia puasi gigit. Pernah juga, lengan saya ia gigit. Bekas dua giginya bahkan masih ada. Menjadi kenang-kenangan. Akhirnya gigi itu telah bermunculan dengan indah. Ketika ia tersenyum, giginya pun terlihat.
Tujuh bulan dua minggu, menjadi penanda ia sudah tidak menggunakan hasil makanan ulek saring yang begitu halus. Saringannya berubah menjadi lubang lebih besar. Masa transisi ini, kami lalui masih dengan mengelus dada sembari mengucap istighfar. Memberi anak makan dan melalui prosesnya membuat kami secara tidak sadar turut berzikir. Apalagi jika makannya sedikit, bahkan menolak makan. Doa-doa pun begitu kencang kami lantunkan. Ternyata masa MPASI anak, membuat kami lebih dekat dengan Tuhan. Manaikkan level makam kami sebagai orangtua.
Proses untuk mengetahui tekstur dan konsistensi, keinginan anak dalam makan, tidaklah mudah. Walau sudah ada petunjuk dari buku KIA KEMENKES bahkan telah mengikuti webinar MPASI. Itu hanyalah berupa petunjuk-petunjuk saja. Begitu banyak variabel terkait alasan mengapa anak tidak mau makan. Seperti halnya yang tengah kami alami ini. Usia 7 bulan dua minggu menuju usianya 8 bulan. Kami kira, saringan kasar sudah sesuai dengan keinginannya. Ternyata itu hanya bertahan sekitar satu minggu saja. Selanjutnya, seperti bisa ditebak ia kembali menolak dan kami pun kembali berperan sebagai detektif.
Setelah melalui proses observasi, kami mencoba untuk menaikkan teksturnya. Memberi makan tanpa menggunakan saringan. Ternyata oh ternyata, Shanum telah siap makan tanpa disaring. Padahal usianya belum juga genap 8 bulan. Anjuran dari buku KIA, panduan MPASI, masih menggunakan ulek saring. Hanya konsistensinya saja yang dilebih dikentalkan. Karena panduan itulah, kami berkutat di situ saja. Padahal Shanum telah siap untuk naik tekstur. Cukup lama kami baru menyadarinya. Kekhawatiran kami adalah ia akan tersedak ketika makanannya tidak disaring.
Belum lagi, saya pernah mencoba memberinya telut dadar yang dipotong panjang, membuatnya hampir tersedak. Seketika itu, saking paniknya saya bernazar akan salat taubat. Betul-betul proses MPASI ini membuat kita mau tidak mau menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Di masa itu, pernah juga kami membuatnya dengan model dipanggang. Namun, masih menolak. Saking putus asanya, pernah saya memberikannya dengan remah roti. Dengan pikiran, mungkin saja tekstur kasar seperti ini membuat ia tertarik untuk menguyah.
Kami mengira, sudah tepat memberinya makanan tanpa disaring. Berharap inilah yang menbuatnya lahap makan. Namun, itu hanya bertahan sehari saja. Padahal sebelumnya, ia makan banyak sekali dan seperti orang kelaparan. Lagi, kami menjadi kebingungan. Apa bedanya dengan tekstur kemarin dengan hari ini. Apakah karena menunya sudah bukan telur lagi? Menu hati kami kembalikan ke menu telur. Masih saja menolak. Hari itu, kami membuatkannya tiga jenis menu dengan variasi lauk. Nasi tim hati, nasi panggang telur, kentang telur, bermacam-macamlah. Hingga sorenya, kami menyudahi pencarian ini.
Esok hari kami akan mencoba menawarkan makan lagi. Karena di hari itu, sepanjang hari saya hanya berdua dengan Shanum, pagi dan siangnya saya menyuapinya dengan nasi tanpa saring buatan ayahnya. Pagi hari makanan masuk dengan berbagai distraksi, sudah melanggar feeding rules yang kami usahakan untuk patuhi. Siangnya sudah menolak sama sekali.
Berbekal curhatan dengan kawan dan kembali mengekspor dunia MPASI ini. Sorenya saya membuatkannya telur dadar dan kentang rebus. Ternyata, ia makan denga lahap. Kentang ia pegang, makan sendiri, ia kunyah. Begitupun telur dadar. Dengan tangan mungilnya ia menyuapi dirinya sendiri. Terharu sekali melihat proses ini. Entah kenapa, saya merasa Shanum sudah begitu dewasa.
Setelah ketahuan, apa yang ia inginkan. Kami pun mengeskplor lagi secara spesifik menu apa saja yang bisa kami buat. Beberapa hari selanjutnya, Shanum lahap dengan kentang rebus, ikan masak, telur dadar kuah tomat dan semacamnya. Namun, tepat 8 bulan semangat makannya kembali menurun. Menu-menu yang dahulu ia senangi, kembali tidak menarik perhatiannya. PR kami untuk memberikannya menu yang lebih variatif dan mengulik lagi apa yang ia senangi.
Ya, begitulah jika berbicara soal MPASI bayi. Jika dilanjutkan, tulisan ini tidak akan pernah selesai. Akan selalu ada tantangan yang dihadapi. Perlunya support system terutama dari pasangan membuat orangtua menjadi tetap “waras”. Dengan harapan anak pun tetap merasakan kasih sayang. Jangan sampai hanya karena persoalan makan, membuat anak menjadi terluka dan trauma. Orangtua yang berbahagia akan menjadikan diri anak berbahagia pula.
Maka jangan remehkan jika persoalan anak memerlukan pertimbangan dan persiapan. Terutamanya mental menjadi orangtua. Tidak menjadikan anak serta merta hadir dan berharap tumbuh dengan sendirinya. Bahkan, ada pepatah yang mengatakan untuk membesarkan seorang anak diperlukan satu desa. Bayangkanlah itu! Semoga menjadi orangtua membuat kita menjalaninya penuh dengan kesyukuran, pengkhidmatan, dan pembelajar sepanjang hayat.

Seorang ibu pembelajar sepanjang hayat. Ketua Balla Literasi Indonesia. Bisa dihubungi di IG: @nurulaqilahmuslihah


Leave a Reply