13
Sejumlah abjad di benakku, mencoba menjelma.
Alur dan warna, diukir semesta, percakapan di tepi sore menjadi jalan cerita selanjutnya. Tentang kita yang sering salah paham, salah tingkah dan pamer, tentang sekumpulan di antara kita mulai pergi satu persatu, saat pemulihan lelah itu di sisa senja yang dikelabui awan. Sesederhana mungkin kusimpan dalam otakku.
Aku kemudian tak mau memaksamu untuk menjadi kekasih, atau kedekatan yang jauh dalam jangkauan benakku. Sampai pengantin kita kelak, tak terulang pengantin selanjutnya. Bukan.
Bukan aku tak tahu cara mencintaimu, atau tidak memahami, tetapi kerelaan dalam menyayangimu itu tulus.
Bukan akal bulus, yang kuendus, dan pura-pura di hadapanmu menebar cinta memekarkan bunga kelopak yang telah ada sebelum embun mencoba merayumu.
Aku belajar pada prasangka dan perasaan, terhadap naluri, kepada sikap, tersifati, dan mematri hingga tak mereka sadari. Lembayung itu mengubah suasana, seperti sejuk di antara kepahaman kita. Walau sering kali kutemui tidak bisa menjaga siasat, yang tertabiat.
Tanpa harus kupaksakan masuk kembali ke benakku. Sebab aku takut setakluk manusia lain yang menyerahkan sesuatu dengan harap-harap cemas di esok dan lusa nanti.
Tiba-tiba aku kalap, meluap-luap menumpahkan kesal, amarah dan kecamuk yang kupendam, kubantai asbak di depanku terpental jauh dekat kaki lemari, beberapa puntung rokok dan ampas berhamburan kacau ke lantai.
Karena aku sama dengan mereka, bukan paripurna, lalu aku terdiam melontarkan tahapan isyarat nadi, hingga detak jantungku begitu memburu.
Pilihan awal itu ada, antara memecahkan kaca, atau melawan gerah dan gemuruh badai penghantam jiwa. Lalu kusingkirkan lusinan hawa nafsu menyandar antri pada tembok kesukaanku di buai-buai, diujikannya, dengan segala fenomena dari dilema halaman pertama dan bersambung ke jilid berikutnya.
Sementara aku cukup tahu, tanpa haru selalu tahu tentang perangai dan keterbiasaan pembiaran kepada manusia.
Hanya kusimpan pada memori lain, pada rak yang telah kusiapkan jauh sebelum matahari bekerja siang hari. Dan, kutemui sesekali saja, seperti pengantin baru saat bertemu di atas pelaminan, seolah tak saling mengenal, padahal jauh sebelumnyaa telah kurasakan wangi parfum dan bau keringatnya.
Dalam teluk aksara ini. Securuk harapan, tanpa membiarkan orang-orang tahu dan sekadar kau baca dengan selera menulisku jauh terpuruk.
DSS 290418
***
14
Aksara cinta pada teluk bersama biduk kehidupan.
Merapalkan doa setiap pagi kepadamu kekasih, di sela biru haru keseteraan yang kaummu hadapi. Betapa indah kemilaunya.
Aku tak bisa berjanji, tetapi cukup kutadahkan hujan di gubuk sederhana, yang lama kusajikan dalam maharmu kelak. Dengan rerumputan, tempat belalang dan capung merangkai hasratnya.
Bersama daun menyambut angin pagi melintas, bawa kabar tentang kecanduan insan pada setiap fenomena baru! Dan melupakan cerita, tentang kumbang membawa sari madu ke sanak dan kawanan sesamanya.
Dalam aksara, aku ada mesti bukan pengarang, dalam filsafat dan firasat menggambarkan kebenaran, yang selalu dijadwalkan untuk dilogikakan, sementara aku tak penuh paham dalam teori yang kadang disebabkan oleh semantik.
Aku hanya memujimu cantik, anggun, pesona di setiap waktu dan kegersangan agamaku, hingga peran serta humanis yang bukan sebatas pemanis.
Sebab engkaulah aku bertahan dalam mencoba sunyi, yang dianggap bunyi yang sembunyi, dan tangkai-tangkai kecil yang tumbuh di pohon tak bernama. Akan tetapi dia punya sifat alamiah, menahan kediriannya, dalam akar-akar paradigma, yang tidak selalu dijadikan gema.
Sayang… maukah kau bersamaku memintal benang kasih, pada kesederhanaan yang dianggap jebakan untuk kasihmu yang iba?
Fisikku tak seraga yang dianggap menumpuk kesenangan dengan materialis. Namun, aku hanya perilis, memilih peran yang sesuai kemungkinan di kehidupan kenyaataan yang baru.
Aku dalam teluk aksara, dari aksara aku ada.
DSS 280418
***
15
Aksara dalam teluk di bulan Mei, tak terhindar dari cara kita memandang senja, dan menikmati alur dan skenerio-Nya.
Sebab kita merasa memiliki-Nya. Tak berhak tentunya. Tetapi manusia atau kita, milik-Nya seutuhnya. Kadang-kadang kita memaksakan kehendak, merasa jauh lebih mampu, namun masih tabu. Seperti rekayasa yang dihadiahkan untuk pesta eforia.
Sekeliling kita juga, bagai semerbak rupa dupa, kemenyan dan bara! Kini susah dibedakan. Orang baik dan orang jahat, membaur menjadi kekuatan apa saja.
Hingga pada suatu waktu, di seberang sungai, seorang merakit sampan sesuai yang berpendar seadanya meski cahaya memisahkannya. Antara bulan yang mengabulkan permintaannya. Hingga dipaksakan tunduk dan patuh.
Di sudut lain, ada seremoni manusia, mengada-adakan gumam, serta kemanusiaan yang disiasati dengan karangan bunga kamboja. Matinya idealisme, dan setapak harapan demi lembaran yang menggugurkan nestapa sejenak.
Kita bukan pemilik Tuhan. Namun Tuhanlah segala keberpihakan dan kepemilikan, kemutlakan yang azali. Sesekali kulirik senja, dan mencoba membawa sesaji diri, tetapi gugur di musim apa saja. Sebab lumbung lambungku masih terkepung hama kesesuaian. Bukan selera keinginan.
Kegilaanku kembali muncul. Dengan bermimpi di suatu malam, membangun istana yang melengkapi segala kebutuhanku. Namun sesuatu menyuruhku meraba-raba ke suatu tempat, di sana ada ruang waktu yang terekam jelas jejak-jejak manusia yang lupa diri.
Setelah dimensi itu keluar dari bayang-bayang yang membuatku hampir lupa sama dengan mereka. Tiba-tiba saya hanyut pada sebuah pohon kayu yang telah terbawa arus. Betapa ketakutan itu menjadikanku makin tidak berselera betah di tepian sungai dan kengerian di seberang itu.
Pesta kembang api, dipenuhi bara dendam yang beku dan masih samar, tetapi terjawab seperti biasa dengan kebiasaan yang telah ada pada buku tebal berjudul, “Ketika Sunyi itu Sembunyi”, menjadi bunyi yang menjawab dalam semesta teluk aksara.
DSS 110518
Kredit gambar: Mauliah Mulkin

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Ranca Cancel reply