Sekaum anak remaja milenial, kisaran usia 15-18, menabalkan diri sebagai Forum Anak Butta Toa (FABT) Bantaeng, tiada henti beraktivitas. Mereka melaju dengan segudang kreativitas, dikreasikan dari waktu ke waktu, sejak tahun 2012. Aktornya boleh berganti dalam satu forum, tapi ekosistem kreatifnya senantiasa menggelinding, sesuai dengan apa yang bakal didedahkan.
Per tanggal 20 Maret 2024, bertempat di Gedung Balai Kartini Bantaeng, Pemkab Bantaeng via Bappeda Bantaeng, menggelar Musrenbang Anak Tingkat Kabupaten Bantaeng. Sebagai penghadir, ada dua yang menggedor pikiran dan menggetarkan batin saya.
Pertama, tatkala Meisy Papayungan, selaku Kabid Perlindungan Anak dan Perempuan, Provinsi Sulawesi Selatan, menyatakan dalam sambutannya, yang bernuansa nostalgia, bahwa 12 tahun lalu ia menjadi saksi di Bantaeng, ketika acara serupa digelar. Kala itu, seorang anak ditanya oleh Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah, “Apa yang ananda inginkan?”
Di luar dugaan, si anak menjawab dengan lugas, “Mauja saya disayang sama mamakku.” Padahal, mungkin sekotah penghadir bakal menduga, akan begitu banyak permintaannya, berkonotasi material.
Kedua, saat Pj. Bupati Bantaeng, Andi Abubakar bertutur lirih dalam amanatnya, “Kita ingin mewariskan mata air kepada anak cucu kita, jangan sampai mewariskan air mata”. Pun, di bagian lain ungkapannya, mengharapkan apa yang menjadi suara-suara anak dapat diakomodir, khususnya dapat terwujud program di tahun 2025.
Sekadar pengingat saja, ada 11 poin suara anak diuarkan, plus puluhan harapan yang tergantung dalam pohon impian. Dan, salah satu lembaran harapan itu, dipilih Andi Abubakar, terkait ketersediaan anggaran untuk aktivitas anak-anak Bantaeng.
Selain dua amanat tersebut, pun digelar percakapan. Temanya, “Pemenuhan Hak Anak Menuju Bantaeng Sejahtera”. Ada empat orang pemantik percakapan. Tiga dari OPD Bantaeng dan satu dari pegiat sosial. Bappeda, Dinas Pegendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, dan Dinas Infokom, memaparkan segala aspek terkait dengan bidangnya masing-masing.
Selaku aktor yang didapuk sebagai representasi pegiat sosial, saya pun ikut unjuk pikiran. Tentu saya lebih leluasa mengemukakan minda. Maka tanpa tedeng aling-aling, saya mengajak sekotah penghadir, untuk memahami akar masalah yang sering menjadi pemicu masalah sosial anak.
Selain memetakan teori gelombang generasi yang sementara berlangsung di masyarakat, mulai dari generasi boomers, X, Y, Z, hingga Alpha, tak kalah menariknya, saya pun memaparkan varian generasi ikut mewarnai pertautan gelombang generasi tersebut. Varian itu sering diistilahkan dengan Strawberry Generation (generasi stroberi) dan Sandwich Generation (generasi sandwich).
Generasi stroberi menggambarkan satu tipe generasi yang menampakkan keindahan warna kulit, tapi amat mudah lecet. Generasi ini menampilkan gaya hidup penuh dengan gagasan kreatif, tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.
Adapun generasi sandwich merupakan generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup 3 generasi, yaitu orang tuanya, diri sendiri, dan anaknya. Persis penggambaran analogi makanan sandwich, terdiri dari sepotong daging terhimpit dua buah lapisan roti.
Coba bayangkan saja, bila dalam satu rumah tangga, menyata lima gelombang generasi, lalu melahirkan generasi stroberi, dipandu oleh generasi sandwich selaku penanggung jawab, kemungkinan besar bakal bermunculan masalah dalam keluarga.
Nah, bukankah pengetahuan umum sudah menyatakan, unit terkecil dari masyarakat adalah keluarga? Akibatnya, masalah bisa bermula dari keluarga sebagai hulu, mengalir ke masyarakat menjadi masalah sosial selaku muaranya.
Meskipun Musrenbang Anak Bantaeng ini digelar oleh Bappeda Bantaeng selaku penanggung jawab kegiatan, tapi aktor utama di lapangan dipercayakan kepada FABT Bantaeng, guna mengkreasikan acara. Sekali lagi, kreativitas sekaum anak remaja milenial ini unjuk kapasitas.
Sepekan berikutnya, per tanggal 28 Maret 2024, FABT Bantaeng kembali unjuk kreativitas dalam tajuk helatan, “FABT Assare 9.0 (Ajang Silaturrahmi dan Share Rejeki 9.0)”, berpusat di Aula SMA Neg. 4 (Smapat) Bantaeng.
Sebagai orang yang diundang agar hadir di helatan, saya terlebih dahulu menggali maksud hajatan. Jundi Ahmad Avatar, selaku Ketua FABT, menerangkan kepada saya, agenda acara ada dua sesi. Up Grading kepengurusan dan bagi-bagi takjil di salah satu klinik kesehatan, berdepan-depan dengan perempatan jalan, dekat lampu lalu lintas.
Lalu, apa maksud angka 9.0 itu?
“Oh, kalau itu bermakna yang ke-9 kali kak.”
Allamak, saya kira sejenis gelombang baru dari gejala kemajuan zaman, semisal 4.0 atau 5.0. Sehingga, imajinasi saya sempat melambung, hebat benar anak-anak remaja milenial FABT Bantaeng ini, sudah tiba di masa 9.0.
Sebelum bagi-bagi takjil, terlebih dahulu dihelat Up Grading Kepengurusan secara sederhana. Lebih tepatnya, percakapan ringan dengan segenap pengurus. Pemantik percakapan dihadirkan dua orang. Hamzar Hamna, mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bantaeng 2018-2023. Ia diminta untuk menyajikan kiat “Manajemen Waktu”.
Pemantik berikutnya, diamanahkan kepada saya, selaku pegiat sosial, khususnya pegiat literasi. Saya diharapkan untuk menyajikan sebentuk minda, tentang “Pengembangan Kreativitas”.
Hamzar menyajikan pikirannya dengan apik. Sebab, selain mengimajinasikan seperti apa itu waktu, dalam bentuk pertanyaan, siapa yang mengatur waktu, juga kiat-kiat praktis mengatur waktu berdasarkan pengalamannya. Sejak ia menjadi pelajar seperti para penghadir, sewaktu kuliah, dan saat mengawal KPU. Respon berbinar dari aktivis FABT Bantaeng. Manyala bang pikirannya.
Setelahnya, giliran saya. Pendekatan sajian saya pun amat ringan, merujukkan pada Rr. Martiningsih. Selain menegaskan bahwa setiap orang itu punya potensi Creative Intelegence (kecerdasan kreatif), sejenis kecerdasan, berupa kemampuan seseorang memecahkan persoalan sehari-hari.
Kecerdasan kreatif berkaitan dengan cara melakukan berbagai hal dan juga hasil yang dicapai. Suatu aktivitas bisa dianggap kreatif kalau melibatkan suatu pendekatan baru atau unik dan hasilnya dianggap berguna dan diterima.
Agar terkesan lantip, saya pun kutipkan tipe kecerdasan kreatif, sebagaimana dikemukakan oleh Alan J. Rowe. Ada empat jenis. Pertama, intuitif, menggambarkan individu yang banyak akal dan menekankan pada pencapaian hasil, kerja keras, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Kedua, inovatif, mengindikasikan individu yang selalu ingin tahu, menekankan pada daya cipta, eksperimen, dan sitematika informasi. Kapasitasnya mengatasi kompleksitas amat muda.
Ketiga, imajinatif, mendeskripsikan individu penuh pemahaman, mampu mengidentifikasi peluang potensi, bersedia mengambil resiko dengan melanggar tradisi, mempunyai pikiran terbuka dan humoris dalam menyampaikan gagasanya.
Keempat, inspirasional, menyodorkan individu penghayal, mempunyai sudut pandang positif, berorientasi aksi, bersedia mengorbankan diri, dan fokus pada perubahan untuk membantu sesama.
Kalakian, saya tabalkan minda pamungkas, apa yang dilakukan dalam dua even terakhir, memotori Musrenbang Anak Bantaeng, lalu bikin hajatan Assare 9.0, tiada lain bentuk nyata dari kreativitas. Suksesnya dua even, dikarenakan oleh kuatnya tradisi kreatif dalam forum, cerminan kecerdasan kreatif. Bergiat merupakan tangga praktis mengembangkan kreativitas.
Oh, nyaris lupa. Assare, merupakan akronim dari, “Ajang Silaturrahmi dan Share Rejeki”. Dalam bahasa Makassar, assare bisa pula dimaknai atau diartikan sebagai tindakan berbagi. Persisnya, bagi-bagi takjil penuh keunikan. Ini sebentuk kreativitas, iya kan?

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply