Selain sifat sabar (telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya), sifat lain yang harus dimiliki seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat adalah syukur. Keduanya merupakan dua sisi mata koin yang tak terpisahkan, karena kehidupan yang selalu diiringi oleh nikmat dan musibah yang silih berganti.
Bersabar untuk musibah yang dihadapi dan bersyukur atas semua nikmat yang diperoleh itulah kunci kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Hadirnya kedua sifat mulia tersebut merupakan buah dari prasangka baik dan iman yang teguh.
Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita, oleh karenanya semua yang Allah berikan untuk kita adalah yang terbaik, apakah itu anugerah atau musibah.
Bagi orang kebanyakan, perasaan sabar dan syukur hadir secara bergantian bergantung situasi apa yang dihadapi, apakah nikmat atau musibah. Jika nikmat dia bersyukur, jika musibah dia bersabar. Sedangkan bagi pesuluk syukur dan sabar adalah dua sifat senantiasa hadir dalam kondisi apapun.
Bersabar tidak hanya ketika menghadapi musibah, namun juga saat memperoleh anugerah. Demikian halnya dengan bersyukur, tak hanya untuk nikmat yang diperoleh, bahkan terhadap musibah pun diterima dengan penuh rasa syukur.
Pengetahuan dan keimanan yang haqqul yaqin bahwa di balik musibah ada hikmah, karenanya selain bersabar dalam menerima musibah juga tak lepas dari bersyukur. Sebaliknya, dibalik anugerah ada ujian, karenanya selain bersyukur atas anugerah nikmat yang diperoleh, namun tidak lalai untuk bersabar agar tak terlena dengan anugerah nikmat tersebut.
Sabar dan syukur adalah sepasang sayap, yang membawa rohani seorang pesuluk dalam “menuhan” hingga sampai pada kedekatan bahkan penyatuan dengan Allah.
Secara harfiah, syukur adalah pujian yang diberikan karena kebaikan yang diperoleh seseorang. Menurut Raghib al-Isfahani, Syukur mengandung arti, “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan”. Zamakhsyari mempertegas makna kebahasaan dari syukur, yaitu; “memuji nikmat secara khusus, dengan hati, lisan, dan perbuatan.
Dalam konteks syariat, syukur sebagaimana yang dipaparkan oleh Quraish Shihab merupakan ungkapan terimakasih kepada Allah atas semua nikmat yang telah dianugerahkan-Nya. Syukur adalah kewajiban yang bila seseorang tidak bersyukur disebut oleh Allah sebagai kufur (ingkar). Identifikasi orang yang tidak bersyukur sebagai pengingkaran (kufur) ditegaskan oleh Allah dalam QS. 14:7 dan pelakunya diancam dengan azab yang pedih.
Menurut Nashr al-Din al-Thusi, syukur berkenaan dengan tiga hal. Pertama, pengetahuan tentang pemurahnya Allah sebagai Sang Maha Dermawan yang terbentang dari “puncak ufuk hingga merasuk ke dalam jiwa.”
Kedua, perasaan senang saat menerima pemberian Tuhan sebagai bentuk kemurahan-nya. Ketiga, merealisasikan usaha untuk menyenangkan Allah Sang Maha Dermawan.
Oleh karenanya, syukur berkenaan dengan keseluruhan aktivitas hati, lisan, dan perbuatan. Bersyukur dengan batin adalah kepuasaan batin dan kelapangan jiwa menerima semua pemberian Allah.
Sebagai aktivitas lisan diwujudkan dengan memuji Allah yang disampaikan dengan ucapan Alhamdulillah. Syukur dengan perbuatan adalah memanfaatkan seluruh pemberian Allah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
QS. 7:14 dengan tegas menyebut nikmat yang akan ditambahkan bagi orang yang bersyukur. Imam Ali bin Abi Thalib menerangkan hal tersebut, “Sesungguhnya nikmat itu berhubungan dengan syukur. Sedangkan syukur berhubungan dengan maziid (penambahan nikmat). Keduanya tidak dapat dipisahkan. Maka maziid dari Allah tidak akan terputus sampai terputusnya syukur dari hamba”.
Ketika seseorang sedang bersyukur, tambahan nikmat seketika hadir dari rasa syukur tersebut, yaitu nikmat berupa perasaan senang, hati yang bahagia, pikiran yang jernih, dan jiwa yang lapang, alhasil melahirkan optimisme dan semangat untuk terus berbuat dan berkarya.
Sebaliknya, ketika tidak bersyukur, secara kontan kepedihan langsung dirasakan, yaitu sempitnya pikiran, penderitaan batin, dan lisan yang penuh keluh kesah. Hasilnya adalah apatisme dan pesimisme dalam berbuat, yang implikasinya membawa banyak kemudharatan.
“Ya Allah, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu dengan sebenar-benarnya syukur, sedangkan rasa syukur itu sendiri adalah nikmat yang wajib aku syukuri, dan ketika aku bersyukur atas nikmat syukurku itu pun hadir nikmat yang wajib aku syukuri pula.”
Syukur adalah samudera nikmat Ilahi yang tak terbatas, bahkan dalam rasa syukur itu sendiri ada nikmat yang luar biasa yang mesti pula kita syukuri.
Oleh karena keterbatasan kita sebagai hamba dan luasnya nikmat pemberian Allah yang tak terbatas, maka mustahil kita dapat mengungkapkan dan mengekspresikan syukur kepada Allah sebagaimana mestinya.
Kita tak mungkin membalas nikmat Allah yang tak terbatas dengan ungkapan dan ekspresi kesyukuran kita yang terbatas. Nurcholish Madjid, menyebut bahwa bersyukur adalah salah satu pengalaman ketuhanan dan memuji Tuhan adalah salah satu formula kesyukuran yang penting.
Dalam petikan doa Kumail, seorang pesuluk akan berdoa,“Aku bermohon pada-Mu dengan kemurahan-Mu, dekatkan aku keharibaan-Mu, sempatkan aku untuk bersyukur pada-Mu, bimbinglah aku untuk selalu mengingat-Mu.”
Ramadan adalah bulan dengan limpahan karunia Allah yang tak terbatas, karena Ramadan adalah trigger yang memacu akselerasi rohani dalam gerak “menuhan”. Oleh karenanya, Ramadan adalah bulan penuh kesyukuran yang mendidik rohani untuk menyelami hakikat syukur.
Perintah menahan dalam puasa, sejatinya adalah edukasi rohani pada karakter syukur. Terkadang kita memahami arti nikmat setelah membandingkannya dengan derita.
Melalui menahan kita merasakan derita lapar dan haus sehingga kita diedukasi untuk sadar akan nikmatnya anugerah Allah melalui makanan dan minuman. Kenikmatan yang sejatinya hanya secuil dari limpahan nikmat Allah yang kita terima dan yang akan kita terima.
Puasa yang dijalani dengan kesyukuran adalah puasa orang yang tak sekadar menahan, tapi “menuhan”, dan rasa syukur itu diwujudkan dalam menahun bersama Tuhan, dengan berbuat yang terbaik kepada sesama makhluk Tuhan.
Kredit gambar: https://www.gurusiana.id/

Doktor di bidang studi agama. Peneliti pada Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN. Memiliki spesifikasi pada kajian agama dan masyarakat di Kawasan Timur Indonesia.


Leave a Reply