Setiap peristiwa apa pun itu akan berlalu, baik berupa peristiwa haru biru maupun peristiwa cinta sekalipun. Setiap orang membawa makna tersendiri dari peristiwa dialaminya. Kadang, makna itu menjadi pengalaman nan indah, sehingga tak lekang dari ingatan, atau menjadi falsafah hidupnya. Semua itu tidak lepas pada makna yang didapat dari sebuah peristiwa dialami.
Di zaman digital kiwari ini, algoritma pikiran telah mampu direplikasi dalam sebuah linimasa media sosial. Peristiwa-peristiwa lampau mengingatkan kita kembali melalui gambar atau tulisan, muncul di beranda media sosial.
Peristiwa itu bisa saja berlangsung 10 tahun hingga 20 tahun lalu. Kendatipun demikian, kekuatan daya pikir manusia lebih hebat, sebab, pengetahuan manusia semasa hidup mampu membuat peradaban dari zaman ke zaman. Sedangkan, algoritma digitalisasi hanya sebatas mengingatkan jejak perjalanan manusia dari zaman ke zaman.
Berangkat dari kehidupan yang berbeda-beda, setiap insan memiliki pengalaman masing-masing, dari pengalaman itu, bertransformasi membentuk karakter diri dari pilihan-pilihan hidup yang akan lalui.
Soren Kierkegaard, seorang filsuf dan teolog abad ke-19, menukas, “Bereksistensi bukan berarti hidup dalam pola-pola abstrak dan mekanis, namun harus terus menerus menciptakan pilihan-pilihan secara personal dan subjektif, karena menurut yang ia butuhkan bukanlah kumpulan pengetahuan sistemik mengenai kebenaran objektif, melainkan bagaimana hidup, membuat pilihan dan mengambil keputusan yang benar.”
Pengetahuan sistemik bukan berarti tidak punya daya arti apa pun, tapi, setidaknya pengetahuan tersebut memberi pedoman operasional terhadap pilihan-pilihan rasional individu.
Parameter kualitas manusia tidak lepas dari sejauh mana efektifitas pilihan, bahkan lebih jauh, esensi leadership bertolak dari pilihan-pilihan rasional individu. Apapun pilihan individu niscaya mempunyai konsekuensi, apakah berdampak baik atau sebaliknya.
Di balik pilihan-pilihan rasional itu, bukan berarti manusia tidak memiliki otoritas penuh menentukan masa depannya, sebab, terkadang pilihannya tidak selaras dengan kehendak semesta, di situlah batasan kemampuan manusia. Seperti falsafah stoikisme menabalkan, “Alam semesta tidak pernah terburu-buru, tapi semuanya tercapai”
Pilihan manusia menentukan eksistensi dirinya, itu berarti manusia diberi daya ukur mengunakan segala potensi dimilikinya. Selain kemampuan akal yang sering digunakan, manusia juga memiliki daya super dahsyat, yakni kekuatan batin.
Ukuran batin manusia tidak berkaitan dengan objek di luar dirinya, karena, di dalam dirinnya terdapat semesta alam tak terbatas nilainya. Kata Rumi “Jangan pernah merasa kesepian, semesta alam ada dalam dirimu.” Saat manusia melewati masa sulit, hingga kau pikir akan menyerah, maka masuklah ke ruang batinmu, kau akan menemukan kekuatan luar biasa.
Esensi manusia ada dalam dirinya. Untuk menemukan esensi dirinya merupakan pilihan bebas manusia, pada umumnya, manusia meski melepaskan seluruh kemelekatan diri, semisal ego, hawa nafsu, amarah dll, kesemuanya adalah gulma diri yang menjadi tirai dari esensi diri.
Yakinlah, menemukan esensi diri bukan kemustahilan, tapi bukan hal sederhana, sepertinya dibayangkan atau diucapkan. Menemukan esensi diri merupakan pencarian sepanjang hayat. lumrah adanya jika dalam fase pecarian, manusia kadang jatuh dan bangkit kembali demi menemukan esensi dirinya.
Terdapat beragam cara menemukan esensi diri, tentu, sejalan dengan beragam corak karakter manusia. Difinitnya, manusia melepaskan segala identitas dirinya, semacam ke –aku-an.
Tak bisa dimungkiri dalam diri manusia terdapat semacam sisi gelap dan terang, seolah keduanya memperebutkan kursi kekuasaan. Jika dirimu memilih berdiri di kursi ruang gelap, maka kau akan temukan dirimu berada pada kehinaan. Sebaliknya, jika secara sadar kau memilih berdiri di kursi di ruang terang, maka kau berada pada pilihan yang benar, keselamatan akan menyelimutimu. Kerikil-kerikil tajam menjadi aral melintang.
Apabila dirimu bisa melewati dengan keteguhan hati, harapanmu akan menyata, dirimu dalam genggamanmu, tak ada lagi persoalan remeh temeh dengan dirimu, tabir sudah tersingkap, hidup sudah merdeka.
Sejarah manusia membentang panjang menceritakan perjalanan manusia dari zaman ke zaman. Dengan bimbingan Nabi dan Rasul dan atas amanah Tuhan manusia diajak menuju kebenaran. Hanya sedikit manusia mau ikut, sebagian banyak membangkang dari kebenaran.
Bukankah Al-Qur.’an sebagai pembawa berita gembira sekaligus peringantan. Kata Allah. “Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS Al-Furqan 25:56)
Banyak hal dapat dipetik dari sejarah manusia, terutama mengenai faktor membangkangnya manusia dari kebenaran. Sejumput pembangkang adalah orang-orang merugi, serta lalai dari amanah Ilahi. Mereka lebih mengikuti hawa nafsu demi kepuasaan lahiriah.
Karakter manusia pembangkang merupakan warisan sosial yang terajadi dari masa ke masa. sejarah manusia merekam jejak manusia pembangkang, hingga mereka ditenggelamkan di Laut Merah (baca:kisah firaun).
Pembangkangan terhadap Tuhan pertama kali dilakonkan oleh iblis, manakala Tuhan memerintahkan iblis tunduk patuh kepada manusia, namun dengan angkuhnya iblis menolak perintah Tuhan, hanya karena iblis merasa suci tinimbang manusia. Iblis mencela manusia yang dicipta dari seonggok tanah, sedangkan dirinya berasal dari api.
Sikap pembangkang manusia itu tidak lain berakar dari sifat takabur, merasa diri mulia, paling hebat, pandai, dan sebagainnya. Sifat ini cenderung sombong dan angkuh menganggap remeh selain dirinya.
Sejatinya, sifat takabur sering kali muncul sebagai sifat dasar manusia, terlepas disadari atau tak disadari. Dari sifat takabur ini beranak pinak menjadi sikap riya’, sumah dan ujub.
Jika sifat tersebut menguasai diri ,maka akan merusak diri sendiri, lebih-lebih orang lain. Sebagaimana Allah berfirman, “Barang siapa mengerjakan kebajikan, maka itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri; kemudian kepada Tuhanmu kamu dikembalikan.” (QS 45:15)
Pertentangan baik dan buruk tak terelakkan dalam diri, keduanya saling berebut kursi kekuasaan. Pada perjalanannya, konsekuensinya, manusia memperoleh kesalamatan, pun sebaliknya, memperoleh kesesatan. Semuanya tergantung pada keterjagaan fitrah diri manusia.
Sejak diciptakan Tuhan, manusia memiliki jiwa-jiwa suci, namun, pada perjalanannya tirai-tirai gelap menutupi cahaya suci jiwa, lama-kelamaan tirai itu berlapis seiring nafsu diri makin memuncak. Akankah tirai itu tersingkap? Dan fitrah diri kembali menjadi penguasa dirinya sendiri? Tak ada hal mustahil jika Tuhan berkehendak.
Kredit gambar: https://www.kaskus.co.id/

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply