Khauf dan Huzn

Dalam proses perenungan atau tafakkur (telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya) tentang hakikat diri dan keagungan Allah. Perenungan yang mengantarkan kita pada simpulan, betapa fakirnya kita dan betapa kayanya Allah, sungguh relatifnya selaku hamba dan Mahamutlaknya Allah selaku Tuhan semesta alam, dan betapa kita selaku hamba amat sangat bergantung kepada-Nya.

Hal ini memantik gelora spiritual yaitu khauf (ketakutan) dan huzn (duka cita), dua perasaan batin yang pasti hadir pada diri setiap pesuluk pada perjalanannya dalam “menuhan”. Ketakutan berkenaan dengan hal yang akan terjadi, sedangkan duka cita, berkaitan dengan apa yang telah terjadi. Duka cita tentang sesuatu yang hilang, sedangkan ketakutan mengenai hal yang akan datang yang pasti atau setidaknya mungkin terjadi.

Duka cita merupakan rasa sakit batin yang dirasakan ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, namun tidak bisa dicegah. Adapun ketakutan adalah perasaan batin akan terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan atau karena kemungkinan hilangnya sesuatu yang berharga dan tidak bisa digantikan.

Bagi kalangan awam, perasaan takut berkenaan dengan masa depan hidup setelah kematian dan pedihnya neraka yang menanti akibat banyaknya dosa. Perasaan takut ini tentu sangat bermanfaat karena berimplikasi pada ketakutan dalam melakukan dosa dan semangat untuk melakukan kebaikan.

Adapun duka cita bagi kalangan awam adalah karena fakta banyaknya dosa dan sedikitnya kebaikan yang telah dilakukan. Perasaan ini memantik semangat untuk melakukan taubat nasuha dalam rangka melakukan perbaikan diri dan memohon ampunan dosa oleh Allah.

Perasaan takut yang dirasakan oleh pesuluk adalah perasaaan takut, karena hati yang diliputi makrifat tentang Allah dengan segala ke-Maha-an dan keagungan-Nya, serta kekerdilan dan kebergantungan diri di hadapan Allah.

Hal ini tergambar dalam petikan doa Kumail atau Doa Nabi Khidir, “hati yang diliputi ilmu tentang-Mu sehingga bergetar ketakutan.” Hanya orang-orang berilmu yang takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya takut dapat kita lihat pada Firman-Nya di QS. 35:28. Hal inilah yang disebutkan pula dalam doa Kumail sebagai “takutnya orang-orang yang yakin.”

Oleh karenanya melakukan permohonan kepada Allah, sebagai “permohonan hamba yang rendah, hina, dan ketakutan.” Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan tentang takut, “Siapa yang takut kepada Allah, dia akan ditakuti oleh segala sesuatu. Siapa yang tidak takut kepada Allah, maka dia akan takut kepada segala sesuatu.”

Ketakutan yang dirasakan oleh pesuluk adalah ketakutan karena kurangnya pengabdian kepada Allah dan takut kalau-kalau Allah tidak rida kepada dirinya. Hal inilah yang memantik semangat bagi pesuluk, untuk terus melakukan pengabdian dan ibadah sebagai sarana perjalanan menuju Allah.

Berkurangnya perasaan takut kepada Allah, disebabkan kurangnya pengetahuan tentang Allah dan iman kepada-Nya. Allah menegaskan perintah tentang hadirnya rasa takut kepada-Nya dalam Firman-Nya, QS. 3:175, “Takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” Dalam hadis riwayat Bukhari, lisan suci Rasulullah saw bersabda, “Sayalah yang paling takut kepada Allah, di antara kalian.”

Huzn menurut Raghib al-Isfahani adalah suatu kenyataan hidup yang menimbulkan kesedihan. Huzn atau perasaan sedih (duka cita), karena hilangnya sesuatu memiliki dua pemaknaan yang paradoks. Di satu sisi dimaknai sebagai tanda, bahwa seseorang yang terlalu terikat pada dunia material. Duka cita jenis ini tentu saja terlarang dan dikecam pada banyak ayat Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah saw.

Pemaknaan lainnya dari huzn adalah dalam perspektif tasawuf, yaitu duka cita karena merasa tidak cukup dekat dengan Allah dan duka cita karena hilangnya kesempatan untuk melakukan banyak amal ibadah kepada Allah.

Sebagian besar sufi memasukkan khauf sebagai maqam (stasiun spiritual) dalam perjalanan suluk. Namun, Nashr al-Din al-Thusi memasukkan khauf dan huzn sebagai bagian dari tahapan pencarian kesempurnaan dan pencapaian maqam-maqam pesuluk.

Allah menjanjikan hilangnya ketakutan dan kesedihan pada kekasih-Nya, sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. 10:62, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya bagi wali-wali Allah tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan tiada pula mereka bersedih hati”.

Menurut Nashr al-Din al-Thusi, ketakutan dan duka cita akan berganti menjadi rasa tenang dan aman bagi pesuluk, ketika mereka telah mencapai maqam rida. Mengenai orang-orang yang mencapai hal ini disebutkan oleh Allah dalam QS. 6:82 sebagai “Orang yang mendapatkan rasa aman dan memperoleh petunjuk.“

Bulan Ramadan adalah bulan terhapusnya ketakutan dan duka cita kepada selain Allah, namun juga bulan yang menumbuhkan rasa takut akan hilangnya kesempatan, untuk mendapatkan pengampunan, kasih-sayang, dan rida Allah.

Oleh karenanya, di penghujung Ramadan, orang yang beriman disebut akan bersedih hati, karena berpisah dengan bulan Ramadan. Bertemu dengan bulan Ramadan adalah kebahagiaan, sebaliknya hilangnya (perginya) bulan Ramadan menjadi duka cita yang mendalam.

Ramadan mendidik bahwa sebab takut dan duka cita hanyalah Allah, bukan karena yang lain. Menahan diri dari hasrat-hasrat material selama berpuasa merupakan pembiasaan diri untuk tidak takut dan berduka atas hilangnya sesuatu yang bersifat materi.

Kesimpulan purnanya, menahan menjadi “menuhan” dalam pengertian hanya takut dan berduka cita karena Tuhan, dan akhirnya mengisi hari-hari bahkan di luar Ramadan dengan “menahun bersama Tuhan.”

Kredit gambar: Artikula.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *