Pakkammi’

“Oee…ada pakkammi’na

“Lariiiiiii”

Aku dan Rabania berlari sekencang mungkin, napas kami saling memburu. Udara keluar masuk lewat hidung dan mulut. Langkah kaki tak beraturan, entah berlari kadang berjalan dengan gerakan yang ekstra cepat. Yang terpenting kami berdua harus tetap hidup dan selamat, karena minyak goreng di tanganku sedang ditunggu ibu.

Teriakan Pakkammi’ hanyalah akal-akalanku, agar temanku I Rabania bisa bergerak lebih cepat. Kesal aku dibuatnya, gara-gara sekelompok anak lelaki yang menggoda dia jadi berjalan bak putri raja yang terus menebar pesona.

Kalau aku sudah kaya nanti, akan kubuat jalanan khusus dari rumahku ke warung, agar jalannya tetap sepi dan tidak ada orang lain, apalagi pemuda yang akan nongkrong di bahu jalan dan membuatku risih.

“Hoshh..Bet..tunggu Bet..” kata Rabania sembari membungkuk dan mengatur napas. Kulihat jarak rumah juga sudah sangat dekat. Aku lega.

Pakkammi’ apa yang ada di sana?” tanya Rabania padaku. Pakkami’ adalah sebutan yang kurang lebih artinya penunggu di daerah tempat tinggalku, Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Rabania adalah tetangga sekaligus teman mainku sejak kecil. Rabania seorang yatim piatu, ia dibesarkan oleh neneknya dan mereka tinggal tepat di belakang rumahku. Rabania tidak sekolah karena keterbatasan biaya, setiap hari saat aku berada di sekolah, ia akan berdiri di depan pagar rumah menungguku, tapi Rabania bukan Pakkammi’.

“Ayahku bilang ada tapi tidak tahu juga apa jenisnya, yang pasti seram,” jawabku membuat rasa penasaran Rabania tentang misteri Pakkammi’ yang tinggal di ujung jalan tadi semakin membuncah.

“Iyakah”

“Iya, kenapa saya bohong, kamu takut?” tanyaku sambil memicingkan mata ke arah gadis 15 tahun di sisiku itu.

“Tidak mungkin ada Pakkammi’ di situ Bet, itu banyak kan anak muda nongkrong berarti aman saja di sana tidak ada Pakkammi’.

Pakkammi’ umumnya disandingkan dengan situasi mistis, layaknya penunggu sebuah rumah kosong, pohon besar atau benda-benda tertentu. Namun, dalam kondisi tertentu Pakkammi’ juga disematkan kepada sesuatu yang senantiasa menempel, melekat, mengekor dan ngikut kepada benda-benda tertentu.

Dan bagiku, anak-anak muda yang ada di bahu jalan setiap sore nongkrong dan bersiul ke arah gadis-gadis yang lewat adalah Pakkammi’ yang sangat menyeramkan. Apalagi beberapa di antara mereka dengan sengaja melabeli angka untuk standar kecantikan pada gadis yang lewat.

Mereka memberikan nilai sesuai indikator mereka sendiri. Si A cantiknya angka 10, si B angka 8, kalau si C malas mandi cantiknya di angka 5. Kurang lebih seperti itu, menyebalkan bukan?

“Hei Beti Beauty,”

Rabania menepuk pundakku dan membuatku terkejut. Beberapa saat memang aku melamun.

“Ternyata betul ada Pakkammi’, kamu sampai ketindisan ini kayaknya,”

“Eh bukan begitu, aku tadi cuma lagi mikir sesuatu, tapi soal Pakkammi’ itu memang ada,”

“Memangnya apa yang kamu pikirkan?”

“Aku mau cari uang buat bikin benteng di sepanjang jalan ini, biar nanti kalau aku ke warung pakkammi’ tidak lagi bisa melihatku, “ kataku sambil berlalu meninggalkan Rabania.

“Oh iya nanti kalau kamu lewat sana dan ada banyak laki-laki lagi, baiknya kamu lari yah. Ayahku bilang semua laki-laki di sana itu sudah kasosokang, kalau mereka senyum sama kamu itu artinya lagi cari tumbal,” pesanku sebelum memasuki rumah.

Aku tidak mengada-ada, aku tidak sepenuhnya berbohong. Anak lelaki yang gemar melabeli perempuan dengan angka bagiku layak disetarakan dengan makhluk absurd. Mereka patut dihindari, dan Rabania adalah teman yang kusayangi. Aku tidak mau polosnya dinodai.

“Satu lagi Rab, berhenti memanggilku Beti Beauty, namaku Baiti Jannati,”

“Iyalah..iya, dan berhenti juga sebut aku Rab Rab, aku bukan Rabbmu,”

Kami berdua kembali bergandengan tangan memasuki rumah, minyak gorengnya ini sangat dinantikan ibuku sejak tadi.

Kredit gambar: pexels


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *