Ia bertajuk “Assiama” dalam dialek bahasa Makassar (Bantaeng). Ia adalah spirit yang disifati dari rangkaian asimilasi, perpaduan, peneguhan, dan penyatuan yang saling melengkapi satu dengan lainnya.
Siang itu bertepatan Jumat, saya baru siuman, tetiba tiga pucuk WhatsApp menggedor dinding kantukku. Kalimatnya cukup membuat adrenalin dan jiwa saya ciut. Bagaimana tidak, saya mengalami turbulensi karena bunyi pesan seperti ini, “Ass… tabe Pak Dion, saya Asman (polisi).”
Kecurigaanku makin kuat seketika chat susulan dari bung Opic, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ijin kanda Qt dipanggil Kapolres Bantaeng.” Semakin merambatlah rasa takut bercampur aduk.
Tibalah saya di ruangan Kapolres. Dua orang menyambut, dan kemudian seorang yang tegap dengan seragam lengkap memperkenalkan diri, kami berhadapan langsung. Percakapan kami pun mengalir sambil menyimak, mengurai makna dari sebuah kalimat yang muncul. Atas dasar dan alasan keadilan, kesenjangan dan kearifan. Meski cukup singkat, tapi pertemuan pertama kami sangat kuat. Bagai sepasang sejoli.
Pada titik hening, sematan kata “assiama” itu menempatkan persis menjadi presisi. Sebagai aksi nyata, menawarkan solusi bukan ilusi. Namun, menjadi interaksi setiap elemen, stakeholder, tokoh agama, organisasi, tokoh budaya, dalam menuai kebaikan dan kemaslahatan.
Bukan sekadar menyatu. Ia rangkaian dari ma’rifat penyatuan hubungan kodrati manusia dengan alam semesta, serta sesama makhluk.
Di sana ada hakikat Ilahia (ketuhanan), artinya di sana menyata rasa asih, asuh cinta dan saling apparikongang (empati), sikamaseang tanpa peduli strata sosial. Sebagaimana perintah-Nya di setiap kitab suci.
Assiama adalah kata kerja sesuai dalam perintahnya, saling melengkapi, saling menenun hati, pikiran, menyemai , menanam biji-biji kebaikan, akan tumbuh menjadi pokok harmoni dan kehidupan masyarakat madani.
Ia adalah telaga, menyuguhkan kesejukan, dalam menyelesaikan sengketa diri dan ego masing-masing. Tuntas diri, dan hadap diri.
Assiama melengkapi hubungan dalam dimensi ruang dan waktu. Bukan sekadar selera, tapi telah tertera pada kitab-kitab kebaikan. Bergerak dengan hati. Bukan lahir semata karena serimonial.
Namun, penyatuan kesepakatan dan mufakat. Menjadi syafaat dan hakikat hidup sebagai makhluk sosial. Saling menopang, memberi manfaat untuk kehidupan melata di muka bumi ini.
***
Saya melirik dalam lirih sepoi angin senja. Di bawah kaki langit Lompo Battang. Seorang menempuh jarak dan berpindah tugas, dilingkupi rasa yang tak bertepi. Perjalanannya dari tanah Sumba ke tanah bertuah, tanah mulia dalam peradaban bernama Bantaeng.
Seribu tanya, seharu, dan mengapresiasi sebuah hamparan keinginan pada sabana tandusnya peradaban itu sendiri. Ia menjadikan “assiama” itu sebagai penguatan untuk harapan, mimpi, dan inovasi untuk bergerak peduli sesama. Tanpa harus menjadi turunan program, atau agenda secara wacana dan seremoni.
Namun, terbangun karena sinergitas, keberlanjutan bagaimana ide dan gagasan ini muncul, pada sebuah perenungan Kapolres Bantaeng, AKBP Edward Jacky Tofani Umbu Kaledi, dalam menginisiasi gagasan assiama.
Secara filosofis, beliau mengungkapkan latar belakang mengapa mesti “Assiama Presisi” ini lahir. Ungkapnya, ditengah diskusi kami sebagai awal perkenalan saya dengan seorang Kapolres—yang sejujurnya di luar dugaan saya.
Beliau saat pertama bertugas dan berkeliling menemui masyarakat, dia diperhadapkan kepada masalah komunikasi dan bentuk keprihatinan sebagai sesama makhluk.
Ia mengurai dalam obrolan yang mengalir dengan secangkir kopi, yang semakin menguatkan keterhubungan yang tidak kebetulan. Bahwa, jabatan hanya bagian dari takdir. Namun, ia hadir untuk menjadi bagian dari penyatuan, tanpa ada sekat antara masyarakat dengan aparat (polisi).
Berangkat dari sebuah gagasan dan imajinasi, itulah harapan beliau agenda ini bukan lahir semata ide dan wacana.
Senada PJ Bupati, menguatkan dengan filosofi, bahwa secara bahasa, kata assiama ini bersenyawa dengan sipakainga (saling mengingatkan), sipakalebbi (sling menghormati), siruik menre’ tassiruikno (saling mendukung, tidak saling menjatuhkan). Termasuk sikap mabbulo sipeppa (bugis) atau mabbulo sibatang (Makassar). Beliau mengurai yang disifati.
Saya yang berjarak dan bersandar di antara mereka, sejenak diam membingkai satu dimensi, yang kemudian berusaha mengimajinasikannya. Bahwa betapa jika ini benar menyatu, maka tak ada hujan dan air mata jatuh di keranda kehidupan manusia. Negara benar-benar ada untuk rakyat. Benarlah adanya jika sejalan dengan apa yang menjadi agenda berkehidupan lebih layak.
Berharap ada keberlanjutan agar “Assiama Presisi” ini, menjadi sebuah agenda kemanusiaan, kebudayaan, dan hirarki hubungan yang bersemi, dalam kemaslahatan bersama. Sebagai pelayan masyarakat memang sepatutnya mengayomi, melindungi, dan menyelami setiap jiwa. Semua pihak harus ikut mengambil bagian dan “assiama“.
Sore menjelang buka puasa. Di ruangan Aula Endra Dharmalaksana 99 Mapolres Bantaeng. Pada acara launching “Assiama Presisi” menggema, menjadi gempa kebaikan, sebuah perjamuan menderma keluhuran setiap jiwa manusia, menyatu mulai dari tokoh agama, OKP, jurnalis, tokoh masyarakat, Ormas, tokoh budaya.
Dengan khidmat, seiring bersama “Assiama Presisi” menggugah, menguatkan semua pihak yang selayaknya mengambil peran untuk menyatu, menyelipkan peduli walau sehelai, menawar diri untuk sebuah ikatan, bukan janji atau ikrar. Tetapi ia telah mengakar menancap ke tanah menumbuhkan pokok besar yang kokoh.
Dengan kita assiama, tak lagi berjarak, bagai sejoli melengkapi ikrar seiya sekata, seintim matahari yang mencerahkan, bukan dengan cahaya hingga memunculkan terang pada malam. Tidak menjadi luruh, tapi menjadi suluh melingkupi alam semesta dan manusia.
Seraya saya membacakan di ruangan itu. Bagai gugatan yang memecah kebuntuan dan sifat ego, merasa. Saya menyatu dengan diri melupakan eforia, ego dan kemerasaan yang mendera setiap insan manusia. Yang lupa mendaras dirinya sendiri.
Kredit gambar: Pemkab Bantaeng.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Boy Cancel reply