Terungku Masjid

Jelang pertengahan Ramadan, ia ikut salat Tarawih. Si anak remaja semi heran, tatkala melihat sang ayah tidak langsung pulang, setelah tunaikan salat Isya, tak seperti biasanya. Sudah tiga malam, si anak mengamati prilaku ayahnya.

Suatu sore, baskara sudah nyaris menyentuh kaki langit, terjadi percakapan ringan. Si anak menyelidik latar laku sang ayah. Bagai polisi menginterogasi, si anak mengajukan pertanyaan, “Mengapa ayah sudah ikut salat Tarawih dan memilih pula masjid dekat mukim? Tidak ke masjid yang lebih megah di seberangnya?

Sekadar gambaran saja, di dekat mukim sang ayah, ada dua masjid. Pertama, Masigi Caddia, begitu orang tempatan menyebutnya, berarti masjid kecil. Kedua, Masigi Lompoa, bermakna masjid agung, masjid termegah di kabupaten.

Posisi Masigi Caddia dan Masigi Lompoa, nyaris berhadap-hadapan, hanya dibelah oleh jalan utama dalam kota. Riwayat Masigi Caddia, dibangun sekitar awal tahun 1950-an, secara swadaya oleh warga, tanahnya merupakan wakaf dari seorang dermawan, dipelopori oleh dua orang kiyai, salah satunya, sang kiyai kampung, ayah dari sang ayah, kakek si anak remaja.

Adapun Masigi Lompoa, dibangun oleh pemerintah daerah, sekitar tahun 2000-an. Persisnya, diresmikan penggunaannya tahun 2008. Perbandingan luas tanah dan bangunan antara keduanya, satu berbanding sepuluh. Bak cicak dan buaya.

Sewaktu Masigi Lompoa sudah mulai difungsikan, Masigi Caddia berada di persimpangan fungsi. Ada yang mengusulkan, agar mengubah fungsinya, menjadi tempat pendidikan atau amal sosial lainnya. Tidak lagi ditempati salat berjememaah, dengan pertimbangan sudah tersedia Masigi Lompoa yang jauh lebih dari segalanya.

Namun, tidak sedikit orang tempatan keberatan atau tidak setuju. Masigi Caddia, harus ditempati sebagai tempat salat, meski tidak lagi difungsikan untuk salat Jumat. Tak jua pula diturunkan statusnya sebagai musalla. Pasalnya, Masigi Caddia ini, termasuk masjid tua. Kalau tidak salah, masjid kedua atau ketiga yang didirikan di kabupaten.

Orang tempatan yang sudah tidak muda lagi, tetap bertahan agar ditempati beraktivitas selaku masjid. Meskipun tidak digunakan salat Jumat. Salah satu alasan terdepannya, tanah wakaf dan bangunan di atasnya, diperuntukkan buat masjid, bukan lainnya.

Alasan berikutnya, bagaimana dengan aliran amal jariah dari orang terdahulu, manakala dihentikan fungsinya sebagaimana niat awal pendiriannya? Nah, pertanyaan ini pernah memicu perdebatan tentang status amal jariah. Dan, tak berhasil meyakinkan perpindahan produksi amal jariah, ketika tidak lagi berfungsi sebagai masjid.

Lebih dari itu, masih kuat hubungan emosional antara orang tempatan dengan Masigi Caddia. Masjid sebagai lambang heroisme dalam kebersamaan, genangan kenangan dalam stori dan histori. Mereka menubuh dengan masjid, begitupun sebaliknya. Mendisfungsikannya, sama saja mencabut mereka dari akar sosialnya.

Itulah sebabnya, Masigi Caddia, tetap eksis dan berjaya hingga kini, dengan segenap jemaahnya yang militan menegakkan muruah masjid, sebagai warisan para tetua warga, plus jejak dakwah para kiyai, baik yang mendirikan maupun pelanjutnya.

Sang ayah selaku putra kelima dari sang kiyai kampung, memandang kedua masjid yang berdepan-depan itu, sebagai simbol peradaban warga kabupaten. Satu hasil gotong royong, berdiri tegak berkat sokongan dari bawah, satunya lagi berjaya megah karena bikinan pemerintah. Persandingan antara giat bottom up dan  top down.

Sebelum menjawab pertanyaan si anak remaja, sang ayah malah balik bertanya, “Kamu sendiri, kenapa memilih Masigi Caddia sebagai tempat menunaikan aktivitas ramadanmu?”

“Jemaahnya tidak ramai, mudah saling kenal, cepat salat Tarawih karena tidak ada penceramah, cukup permintaan sumbangan dari pengurus masjid. Dan, ada juga AC-nya.” Enteng bin polos jawaban si anak remaja.

Kalau ayah bagaimana?

Ayah lebih memilih Masigi Caddia, sebab di masjid inilah ayah dididik segalanya, dalam bingkai pendidikan nonformal. Mulai dari masa cilik, hingga menjadi remaja belia. Setiap Ramadan tiba, ayah tak kuasa lari dari terungku masjid ini.

Sekadar amsal, metode meminta sumbangan ke jemaah tergolong unik. Seperti pertunjukan drama. Kepiawaian seorang peminta sumbangan, sangat menentukan jumlah perolehan dana yang masuk.

Sewaktu dulu,  sang kiyai kampung punya cara unik meminta sumbangan. Ia terlebih dahulu mematok, berapa jumlah yang ia minta pada malam itu. Lalu, bila sudah mencukupi, tapi masih ada jemaah yang akan menyumbang, maka ia tolak. Sang kiyai kampung menyilakan agar menyumbang esok malam saja.

Di Masigi Caddia, ayah masih menemukan ritus-ritus beribadah yang penuh dengan semangat kesederhanaan. Sebagai misal, kala salat Tarawih. Pangumpu’na, maksudnya bacaan surah setelah Al-Fatihah adalah surah-surah pendek dari Juz Amma di rakaat pertama, sedang rakaat kedua surah Al-Ikhlas dan akan berubah ke surah Al-Qadr, jikalau sudah malam ke-15 Ramadan dan seterusnya.

Pun, cara imam salat Tarawih memimpin amat sederhana. Tilawahnya nyaris datar, tidak terkesan dibuat-buat, laiknya pertandingan musabaqah tilawatil Qur’an. Dan, eloknya lagi, sekotah jemaah nyaris hapal semua surah pendek yang dibaca. Sehingga, urutan bacaan surah-surah pendek, sekaligus menjadi penanda jumlah rakaat salat Tarawih. Tentu selain panduan zikir jeda, di setiap dua rakaat.

Rupanya, percakapan si anak remaja dan sang ayah, menguak misteri pergeseran gelombang generasi, dalam menyikapi prilaku pilihan salat Tarawih berjemaah di masjid yang sama. Meskipun antara si anak dan sang ayah, masih di bawah bayang-bayang sang kiyai kampung.

Azan berkumandang dari toa masjid. Baskara sudah tenggelam di kaki langit. Saat berbuka tiba. Dua lelaki beda generasi, anak dan cucu sang kiyai kampung, menuai dua kenikmatan. Kala berbuka dan tegakkan Magrib.  


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *