Ultimate goal atau tujuan utama disyariatkannya puasa sebagaimana ditegaskan dalam QS. 2:183 adalah agar orang-orang beriman menjadi bertakwa (mukmin menjadi muttaqin). Bertakwa setingkat lebih tinggi dari iman, takwa adalah realisasi iman dalam wujud kualitas rohani yang terjaga dari segala yang menjauhkan hamba dari Tuhannya.

Secara etimologi takwa (taqwa) berasal dari kata waqyan yang artinya “penjagaan” dan “pemeliharaan”. Dengan kata lain takwa adalah pemeliharaan atau penjagaan diri dari segala hal yang menghalangi kedekatan dengan Sang Khalik.

Raghib al-Isfahani menyebut takwa berasal dari kata wiqayah yang berarti menempatkan diri dalam penjagaan dari sesuatu yang menakutkan atau menyakitkan. Jika dimaknai dari perspektif syariat, maka takwa adalah penjagaan atau pemeliharaan diri, dari segala dosa dan perbuatan yang dilarang oleh Tuhan, karena akan menyebabkan kerusakan atau akan membawa pada ketakutan di akhirat nanti.

Takwa dimaknai sebagai takut, penjagaan, dan pemeliharaan, ittaqullah dapat diartikan sebagai takut kepada Allah. Makna dan rasa takut kepada Allah tentu berbeda antara tingkatan awam dan pesuluk.

Di tingkatan awam, takut kepada Allah dimaknai dan dirasakan sebagai takut akan murka dan siksa Allah. Oleh karenanya menjaga dan memelihara diri dari segala perbuatan dosa yang dapat menyebabkan murka dan siksa Allah.

Sebaliknya bagi kalangan pesuluk, takut kepada Allah dimaknai sebagai takut jauh dari Allah dan takut bila tidak mendapat keridaan Allah. Oleh karenanya, bagi pesuluk yang diperhatikan bukan sekadar menjaga dan memelihara diri dari dosa, lebih dari itu adalah upaya untuk “menuhan” dengan menjaga dan memelihara diri dari segala hal yang menjauhkan diri dari Allah serta melakukan upaya keras untuk semakin dekat dengan Allah dan menggapai keridaan-Nya.

Nurcholish Madjid menyebut takwa sebagai “kesadaran ketuhanan”, kesadaran tersebut memperkuat kecenderungan alami (fithrah) manusia untuk senantiasa berbuat  baik (hanīfiyah), sebagaimana disuarakan dengan lembut rohani kita.

Secara umum, takwa adalah kualitas rohani yang harus dicapai oleh semua manusia bila ingin mulia, selamat, dan menggapai rida Allah. Secara spesifik bagi kalangan pesuluk, takwa adalah kualitas rohani yang harus dicapai sebagai permulaan dalam melakukan perjalanan spiritual.

Nashr al-Din al-Thusi memasukkan takwa sebagai salah satu tantangan dan rintangan bagi pesuluk. Upaya senantiasa menjaga dan memelihara diri dari segala hal yang membuat jauh dari Allah adalah tantangan terbesar bagi kalangan salik.

Permanensi takwa dalam pengertian keterjagaan dan keterpeliharaan lahir dan batin secara permanen, sesaat atau sedikit saja kualitas takwa menurun, akibatnya adalah kejatuhan spiritual dan hal ini adalah musibah besar bagi para pesuluk. Rintangannya adalah faktor internal dan eksternal dalam menjaga permanensi dan kualitas takwa.

Setidaknya, ada dua tingkatan takwa dilihat dari landasan, aplikasi, dan implikasinya, yaitu takwa negatif dan takwa positif. Takwa negatif (kata negatif di sini tidak bermakna terlarang atau buruk) bersumber pada upaya menjauhkan diri dari dosa dan kemaksiatan yang diwujudkan dengan sikap menjauhi atau mengeksklusi diri dari kemaksiatan dan sumber-sumbernya.

Persis seperti seseorang yang menghindarkan diri dari penyakit dengan meninggalkan atau menjauhkan diri dari daerah yang terserang wabah penyakit. Akhirnya mengeksklusi pergaulan dari orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat agar tidak terpengaruh untuk melakukan dosa dan maksiat.

Takwa negatif merupakan ketakwaan tingkat rendah karena imunitas rohani masih lemah hingga lebih memilih menjauh. Takwa jenis ini adalah takwa yang tidak akan menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan, karena cenderung bersikap reaktif dan asosial. Takwa dalam tingkatan ini, tentu bukanlah aktualisasi takwa bagi kalangan para pesuluk.

 Selanjutnya, takwa positif bersumber pada kekuatan dan imunitas rohani yang berasal dari aktivasi potensi-potensi spiritual dan kesadaran untuk menolak segala keburukan. Jika ketakwaan negatif adalah jiwa yang masih labil, maka ketakwaan positif adalah jiwa yang stabil hingga tak akan terpengaruh meski sumber-sumber kemaksiatan itu ada didekatnya atau bahkan sekalipun ia tinggal di suatu lingkungan yang dipenuhi dengan kemaksiatan.

Takwa positif adalah kualitas rohani paripurna dengan berjalannya akal secara maksimal dan terpantiknya kesadaran fitrawi hingga membuat manusia menjadi benar-benar bisa bersikap manusiawi.

Makna menjauhkan diri dari dosa, bukan dengan sikap menjauh dari lingkungan, tapi membentengi diri dari dosa. dengan pencapaian akal dan kesadaran fitrah yang maksimal. Dengan kualitas takwa positif, maka tidak akan sungkan untuk bergaul dengan para pelaku dosa dan kemaksiatan tanpa takut terpengaruh dan bahkan ikut membantu mereka untuk menjaga dan memelihara diri dari dosa dan kemaksiatan dengan aktif menebarkan kebaikan dan pencerahan. 

Pesuluk yang sejati bukanlah orang yang menepi dari keramaian dan sibuk dengan dirinya sendiri, menjadi asosial dengan menjauh dan acuh terhadap kebobrokan realitas. Kekuatan dan kualitas takwa membuatnya bersikap positif dengan terlibat aktif memperbaiki kerusakan yang ada. Hal inilah yang dimaksud “menahun bersama Tuhan “atau “bersama Tuhan di dalam makhluk.”

Terkait takwa sebagai ultimate goal dari puasa, takwa adalah capaian seseorang yang puasanya bukan sekadar proses menahan, namun puasa dengan derajat “menuhan”.  Puasa adalah proses di mana manusia mehahan diri dari segalap potensi yang dapat mendehumanisasikannya, sehingga orientasi puasa adalah memanusiakan manusia dengan menjadikan Allah sebagai tujuan sejatinya.

Oleh karena itu, tujuan dari menahan adalah proses “menuhan” dengan takwa sebagai capaiannya yang diimplementasikan dalam sikap menahun bersama Tuhan. Berpuasa dengan hanya sekadar menahan hanya berefek pada lapar dan dahaga, puasa sebagai proses ”menuhan”, maka takwa dengan segala kemuliaannya akan menjadi imbalannya.

Kredit gambar: depositphotos


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *