Muhasabah dan Muraqabah

Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam proses penyucian dan perjalanan rohani (spiritual), yaitu muhasabah dan muraqabah.

Muhasabah secara kebahasaan artinya menghitung, secara terminologis berarti introspeksi atau mengevaluasi diri sendiri terkait perbuatan yang telah dilakukan.

Sedangkan muraqabah secara bahasa berarti pengawasan, dalam terminologi spiritual adalah sifat seseorang yang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah.

Menurut al-Qusyairi, muraqabah adalah pengaplikasian dari ihsan, yang dijelaskan oleh lisan suci Rasulullah saw, “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika belum mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”

Muhasabah dan muraqabah juga adalah pengaplikasian riyadhah ruhaniah sebagai treatment menyucikan rohani dari noda dan dosa, hingga dapat bersiap melakukan perjalanan suci menghampiri Allah (sair wa suluk).

Menurut Nurcholish Madjid, dalam melakukan muhasabah diri diperlukan sifat keadilan sebagai karakternya. Hanya orang yang memiliki sifat keadilan yang tinggi yang mampu melakukan perhitungan.

Karena rasa keadilan yang tinggi itu yang akan membuat kita sanggup melihat segala kelemahan diri sendiri dan mengakuinya,  kemudian mengakui kesalahan dan dosa yang pernah dilakukan.

Muhasabah adalah milik orang-orang berakal, yang tunduk pada kebenaran, sebaliknya para pemuja hawa nafsu memperbudak akalnya untuk menciptakan pembenaran.

Secara praktis, muhasabah adalah memeriksa kekurangan diri dan melihat segi kelebihan orang lain dan mengakuinya.

Imam Ali bin Abi Thalib berpesan tentang muhasabah, “Barangsiapa yang me-muhasabah dirinya, maka dia telah beruntung dan barangsiapa yang lalai akan dirinya, maka dia telah merugi.”

Beruntung dan merugi yang dimaksud berkaitan dengan penyucian rohani.

Orang yang muhasabah adalah orang yang beruntung, karena muhasabah mengikis sifat-sifat buruk dan penyakit hati seperti egois, serakah, dan sombong.

Selain itu, menumbuhkan sifat-sifat baik, di antaranya rendah hati atau tawadu.

Meninggalkan muhasabah berarti lalainya rohani karena dikuasai hawa nafsu, sehingga sifat buruk semakin terpupuk, sebaliknya sifat baik terkikis habis.

Kelalaian akibat tidak memuhasabah diri inilah yang akan menjerembabkan rohani pada kejatuhan eksistensial yang merupakan kerugian yang amat nyata bagi manusia sebagai ciptaan Allah yang terbaik.

Muhasabah adalah refleksi kritis atas diri sendiri, itu sebabnya muhasabah mensyaratkan maksimalisasi kerja akal sehat dan sifat keadilan.

Melalui muhasabah kita mempertanyakan diri kita dengan jujur, mengenai siapa kita sebenarnya, apakah kita orang baik atau tidak? Apakah kita sudah menjadi hamba yang taat atau justru hamba yang ingkar.

Muhasabah adalah refleksi kritis atas diri sendiri terkait penghambaan kita kepada Allah, manfaat kita pada sesama makhluk Allah, dan bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri.

Ukuran dari perhitungan dan pemeriksaan diri dalam muhasabah adalah petunjuk akal sehat dan aturan-aturan syariat, karena keduanya adalah pemandu bagi rohani dalam penyucian dan penyempurnaannya.

Muraqabah adalah keyakinan seseorang yang kuat akan adanya pantauan Allah terhadap segala gerak-geriknya. Kesadaran ini hadir dilandaskan pada pengetahuan dan keimanan bahwa Allah dengan sifat ‘ilmu, bashar dan sama’ (mengetahui, melihat dan mendengar)-Nya mengetahui apa saja yang dilakukan kapan dan di mana saja.

Allah mengetahui apa yang kita pikirkan dan rasakan, tidak ada satupun yang luput dari pengawasan-Nya. Dengan muraqabah, manusia menyadari keikutsertaan (ma’iyah) Allah dalam setiap langkahnya.

pemahaman seperti ini maka segala niat buruk dan aktualisasinya akan dicegah oleh sistem muraqabah yang aktual dalam rohani. Dengan demikian, muraqabah merupakan mekanisme pengendalian diri yang paling efektif dan sempurna, karena energi positif ini datangnya dari dalam diri.

Pelaku muraqabah adalah orang yang melakukannya dengan segala rasa cinta (al-Hubb), harap (al-Raja’), cemas (al-Khauf) dan rindu (al-Syauq). Muraqabah juga dilandasi pada keyakinan yang mendalam akan pertemuan dengan Tuhan, serta rasa kasih sayang kepada sesama makhluk Allah (al-Syafaqah)

Muhasabah dan muraqabah menurut Nashr al-Din al-Thusi, merupakan satu paket sebagai tantangan rohani dalam menempuh jalan suluk.

Seorang salik yang menempuh jalan untuk “menuhan” harus senantiasa muhasabah dan muraqabah dalam seluruh perjalanannya, karena bila lalai sedikit saja, maka kejatuhan rohani merupakan konsekuensinya.

Melakukan muhasabah dan muraqabah, adalah tuntutan dan tuntunan bagi setiap mukmin, bahkan bagi kita yang bukan pelaku suluk. Keduanya  memantik sikap hati-hati dan cermat atau warak (wara’), yaitu sikap hati-hati secara lahir batin.

Oleh karenanya, tidak akan melakukan tindakan yang dapat menghapus semua amal baik dan menumbuhkan amal buruk. Warak adalah refleksi dari kecemerlangan akal, yang dianugerahi furqan atau kemampuan membedakan antara yang haq dan batil serta ketundukan dalam melaksanakan tuntunan dan tuntutan syariat.

Saat berpuasa adalah saat yang sangat baik dan tepat bagi kita, untuk melakukan muhasabah atau penghitungan diri atas segala kesalahan untuk memohon ampunan kepada Allah.

Lisan suci Rasulullah saw menganjurkan orang berpuasa banyak melakukan kegiatan muhasabah diri, sebagai syarat mencapai salah tujuan ibadah puasa, yaitu ampunan Allah.

Hadis yang diriwayatkan Bukhari Muslim tersebut tersebut berbunyi, “Barang siapa berpuasa penuh dengan keimanan dan muhasabah diri, maka diampuni segala dosa yang telah lalu,”

Demikian halnya dengan muraqabah, puasa merupakan treatment rohani, untuk kita berada dalam kesadaran ihsan yang aplikasinya adalah muraqabah.

Kesadaran senantiasa dilihat oleh Allah adalah kesadaran khas orang berpuasa, karena itulah tak terbesit sedikitpun niat untuk membatalkannya. kesadaran ini dipermanensi hingga ketika tidak sedang berpuasa sekalipun.

Melalui muhasabah dan muraqabah, menahan yang kita lakukan saat puasa mengantarkan kita menjadi “menuhan”, permanensinya selepas bulan Ramadan adalah menahun bersama Tuhan.

Kredit gambar: tebuireng.online


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *