10
Setangkai mawar itu, palsu.
Aku kembali ke Tuhanku, kaupun menuai doa ke Tuhan keyakinanmu. Setelah itu, kita hitung bersama dalam bentuk hitungan rabaan, atau kembali memgabjad alif-ba-ta-tsa-ja-ha-kha-. Dalam dimensi yang menyerupai tirai yang bersekat pada sekumpulan dosa-dosa kita.
Aku belum bisa berhenti mengungkit dan menjelmakan masa lalu, dalam kekinian yang terbawa akal, terhanyut buai zaman pun, aku masih masa lalu!
Dengan di ambang sore.
Serangkaian huruf merapal dan menghapal, setara pembaca terbata-bata pada konteks-konteks membaca puisi tanpa intonasi, dengan suara datar, skema mimik, gestur, presentase penyebutan artikulasi tanpa gelombang teori formal.
Aku membaca zaman di ujung jemari, ajal di titian akal, takdir di genggaman. Serta beberapa persiapan judul ganjil kucicil.
Hukum alam, hukum Tuhan dan Tuhanmu, hukum manusia, seakan memaksa kita berbuat baik, seperti para Dewa merasa terusik oleh doa-doa yang munafik.
Ajaran ibuku, seakan Tuhan menjelma menjenguk membesuk dan membasuhku. Selalu merapalkan doa dalam bening air matanya.
Pun jika kau sangkal keistemawaan manusia dalam mencari kemuliaan itu! Bukan hanya serta bumbu di tangkai bibir bertengger filsafat hidup.
Musuh sejatiku adalah diriku sendiri. Tanpa harus memecahkan cermin, menggugurkan nilai lain, mencari klarifikasi pembenaran, konpromi dan transaksi untuk sekadar nampak seperti manusia seksi, penuh ekspestasi, merawat sensasi, padahal itu tipu daya bermanipulasi.
Aksara makin berteluk menekuk, kuteguk saja bayang-bayang surga, kupeluk saja birahi neraka. Hingga aku tak bisa mengetahui lagi berbuat lebih sedikit benar.
Padahal, nanar itu menggelar luka-luka bakar bernalar tanpa menakar. Semua tiba-tiba jadi hambar.
Teluk Aksara kali ini pun menyela sumbangnya sebagian manusia.
DSS 310318
***
11
Dihiasilah kemudian.
Angan-angan itu merambah. Dengan sejumlah kenangan masa lalu. Terus teriakan mengabdi di ujung waktu. Saat buah mimisan diperebutkan, untuk mangkal tanpa pohon dan ranting.
Menuju aksara baru, manusia mengumpan dengan seri hidup masing-masing. Aksara mereka lupa,hanya luapan yang menggebu menyerbu dengan langkah seribu, mengaku pembaharu.
Aku menjadi haru, dalam muka pasih di sebuah gairah, penanda yang bertawuran dengan cerdik, bulan purnama menjadi basah di atas kubangan penghuni bumi, yang menawar-nawar luka tak bersebab.
Hanya kemunculan bunga baru, dari waktu yang memihak bertandu pecandu baru, yang hendak memetik bunga waru di tebing ilalang.
Aku hanyalah aksara berteluk dan takluk pada nilai. Dari bahasan sastra baku hingga ke lembah jiwa-jiwa, tanpa kenali aksara makna di wangi bunga kenanga.
DSS 160418
***
12
Selembut wejangan sang dewa-dewi di pengasingan jagat.
Tak ada siapa-siapa selain senyap, tanpa ada senda gurau, yang kuingat hanya gugurnya dedaun di halaman.
Kesepian berdiri melakukan tugasnya. Dia meraihku dan membawa ke suatu peristiwa. Dadaku, kurasakan disesaki sesuatu yang dapat kupahami. Kulihat sekeliling, melesap masuk dalam satu bayangan sempurna.
Aku telah terperangkap, menyulam baru, sebuah keniscayaan. Sebelum waktu mengulir butir satir berteluk menuju dermaga, di sana aksara itu selalu ada.
DSS 190418

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Dion Syaif Saen Cancel reply