Riyadhah

Guna membentuk jasmani yang sehat, diperlukan treatment tertentu. Di antaranya mengisi tubuh dengan asupan gizi yang sesuai, serta dengan latihan-latihan fisik seperti olahraga.

Demikian halnya bila ingin menyehatkan rohani, perlu treatment khusus. Asupan gizi yang dibutuhkan oleh rohani adalah ilmu dan iman, serta olah rohani melalui amal saleh.

Dalam terminologi tasawuf, treatment olah rohani disebut riyadhah. Dalam konstruksi keyakinan agama apa pun termasuk Islam, meyakini kesejatian rohani dibandingkan jasmani, karena roh adalah esensi kehidupan.

Rohani merupakan dimensi spiritual yang bersifat Ilahi dan abadi, sedangkan jasmani adalah dimensi material yang bersifat fana (hancur). Perhatian lebih kepada aspek rohani, merupakan ajaran setiap agama, termasuk Islam. Inti ajaran agama adalah membebaskan rohani dari kungkungan jasmani.

Islam sangat menekankan visi rohaniah dan memandang visi jasmaniah, sebagai sesuatu yang rendah dan tercela. Visi rohaniah mengarahkan manusia untuk cenderung pada kesucian, dengan mendekatkan diri kepada Allah (bu’du malakuti).

Dimensi inilah yang membuat manusia cenderung untuk selalu berbuat kebaikan. Sebaliknya, visi jasmaniah mengarahkan manusia untuk selalu memuaskan naluri kebinatangannya (bu’du bahimi).

Dimensi inilah yang membuat manusia cenderung berbuat keburukan dan aniaya. Kedua dimensi ini disebutkan dalam Allah dalam QS. 91:8 dengan istilah fujur dan takwa.

Manusia memiliki potensi kepada keduanya, jika memperturutkan visi jasmaniah, maka manusia tergelincir pada fujur, yang membuat manusia mengalami kejatuhan eksistensial, diumpamakan dengan binatang ternak bahkan lebih sesat lagi (QS. 7:179), karena jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya setelah diciptakan dengan sebaik-baik bentuk (QS. 95:4-5).

Menjadi fujur cukup mensyaratkan sedikit kelalaian, hingga membuat kita tergelincir dan jatuh. Sedangkan jalan takwa adalah jalan pendakian, yang mensyaratkan upaya keras dan kedisiplinan untuk menapaki jalannya.

Oleh karena itu, untuk menempuh jalan takwa dibutuhkan latihan dan pendisiplinan rohani, yang disebut riyadhah ruhaniah. Semua manusia sejatinya membutuhkan riyadhah ruhaniah, sebagai upaya untuk menyehatkan rohaninya.

Terlebih jika berkeinginan menempuh jalan spiritual (suluk), riyadhah menjadi laku keseharian dengan pendisiplinan yang ketat. Riyadhah bagi salik (pejalan spiritual) tentu berbeda tingkatannya dengan kalangan awam.

Jika untuk kalangan awam, riyadhah cukup dengan mendisiplinkan diri untuk menunaikan hal-hal wajib dan menjauhi yang haram. Riyadhah bagi kalangan salik berisi treatmenttreatment khusus, lebih dari sekadar menjalankan yang wajib dan meninggalkan yang haram.

Secara bahasa, riyadhah berarti melatih diri, maksudnya latihan rohani untuk menyucikan jiwa, dengan memerangi keinginan-keinginan jasmani. Secara praktis, riyadhah menurut Ibnu ‘Arabi adalah pembinaan akhlak, yaitu proses menyucikan dan membersihkan rohani dari segala hal yang tidak pantas untuk rohani itu sendiri.

Dalam tasawuf, riyadhah kerap digandengkan dengan istilah mujahadah yang artinya sungguh-sungguh. Tujuan riyadhah adalah mengontrol diri agar rohani tetap suci, karena itu riyadhah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh (mujahadah) dan penuh kerelaan (rida).

Mengenai mujahadah sebagai jalan suluk menuju Allah, sebagaimana diisyaratkan dalam QS. 29:49, “Dan mereka yang mujâhadah /bersungguh-sungguh mencari Allah, maka sungguh kami (Allah) akan menunjukkan jalan (tarekat) kepada kamu.”

Menurut Nashr al-Din al-Thusi, riyadhah bermakna pendisiplinan diri, untuk menahan kecenderungan jiwa kebinatangan, agar tidak tampil secara dominan. Jiwa yang cenderung mengikuti hawa nafsu kebinatangan, akan melahirkan jiwa yang buas, berimplikasi pada perangai yang buruk.

Riyadhah sejatinya adalah mendidik jiwa, untuk menjadi nafs muthmainnah, yang tunduk pada akal dan cenderung pada kebaikan, dalam tingkatan awam, riyadhah bertujuan untuk menyelamatkan diri dari fujur atau kefasikan.

Sedangkan dalam tingkatan salik, riyadhah mujahadah menurut al-Thusi memiliki tiga tujuan. Pertama, menghilangkan semua rintangan yang menghambat perjalanan rohani menuju Allah. Kedua, menundukkan jiwa binatang pada akal praktis yang mendorong jiwa untuk bersungguh-sungguh menggapai kesempurnaan.

Ketiga, membiasakan rohani manusia agar selalu siap untuk menerima pancaran Allah (tajalliat), sehingga rohani dapat mencapai kesempurnaannya. Konsisten (istiqamah) dalam pendisiplinan riyadhah merupakan salah satu tantangan terberat bagi seorang salik.

Riyadhah rohani yang dilakukan dengan sungguh-sungguh (mujahadah) adalah jalan “menuhan”. Pembiasaan dan pendisiplinan diri dalam rangka membebaskan rohani. Pembebasan rohani dalam rangka terbebas dari rintangan yang menghalangi perjalanannya menuju Allah.

Pembebasan rohani merupakan perjalanan “menuhan” yang “titik akhirnya” adalah terbentuknya kualitas pribadi manusia “menuhan” (insan rabbani atau insan kamil).

Firman Allah dalam sebuah hadis qudsi menjadi dalilnya. “Senatiasa hamba-Ku tetap berupaya mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dipakainya untuk mendengar, dan penglihatannya yang dipakai olehnya untuk melihat serta tangannya yang dipakainya untuk menggenggam.”

Menurut Nurcholish Madjid, pembebasan rohani berkaitan langsung dengan upaya melepaskan rohani dari kungkungan jasmani. Ritual menahan dalam syariat puasa, sejatinya adalah riyadhah bagi pembebasan rohani dari keterkungkungan pada hasrat kesenangan jasmani.

Sekalipun bagi kita yang bukan pesuluk, puasa adalah riyadahah dalam tingkatan awam, untuk membuat kita terbiasa disiplin, dalam ketaatan pada Allah dan mengendalikan dorongan hawa nafsu.

Puasa pada hakikatnya adalah sebuah proses pembebasan rohani, dari penjara jasmaniah akibat kecenderungan yang kuat dalam memperturutkan hasrat instingtif pada kesenangan material-duniawi.

Membebaskan rohani menjadi penting untuk mengembalikan rohani pada kesejatiannya, sebagai entitas yang akan menghadap Tuhannya dengan tenang (nafs muthmainnah).

Imam Ja’far Shadiq menjelaskan tentang hakekat puasa, “Jika kamu berpuasa, maka berniatlah menahan dirimu, dari nafsu-nafsu jasmaniah dan memutuskan hasrat-hasrat duniawi, yang muncul dari setan dan kawan-kawannya.”

Puasa sebagai jalan pembebasan rohani dari kungkungan jasmani, adalah proses menahan untuk “menuhan”, ketika rohani telah terbebas dan berhasil “menuhan”, selanjutnya adalah “menahun” bersama Tuhan di dalam makhluk, yang direalisasikan dengan berkhidmat kepada sesama makhluk Tuhan.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *