Maknawi Ramadan

Puasa bukan sekadar menahan, melainkan sebuah proses menuhan, hingga menahun bersama Tuhan.” (Dr. Sabara Nuruddin)

Bulan yang dinanti telah datang di rumah kehidupan. Semenjak berlalu setahun lamanya, begitu banyak peristiwa dilalui. Jatuh bangun menghiasi kisah melata kehidupan. Susah senang pun bagian yang menyertai.

Peristiwa apa pun dilalui tidak lepas dari upaya memaknai warna warni kehidupan. Tak dimungkiri, masing-masing orang memiliki pengalaman, serta pandangan terhadap peristiwa dialaminya.

Di ujung bulan Syakban dan memasuki gerbang Ramadan, seyogianya kita kembali merefleksi makna peristiwa hidup kita masing-masing. Perenungan paling dasar, apakah gerak hidup kita cenderung pada kehendak Tuhan? Atau masih berkutat pada ego dan nafsu belaka.

Pandangan dan konsistensi, memiliki pengaruh besar terhadap gerak hidup kita. Sejauhmana apa pandangan orang terhadap sesuatu, sehingga hadir pengetahuan tentang tujuan hidup. Begitu pula, sejauhmana kita memelihara api kesadaran, hingga mengantar pada titik tujuan luhur.

Banyak hal yang mesti dibenahi, walaupun tak perlu ngotot sempurna, sebab, takdir manusia tak sempurna. Seperti ungkapan Sulhan Yusuf dalam buku, Maksim Daeng Litere, “Tak usah mencari kesempurnaan, tapi ciptakanlah, setidaknya buat kebutuhan sendiri.”

Berada pada ketidak sempurnaan, bukan berarti kita hopeless dari segala kemampuan diri. Manusia dengan segala potensinya, pun mampu melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Banyak contoh praktik kehidupan manusia menggerakkan hingga malampaui kemampuan dirinya.

Menurut Dr. Muhammad Ashar, sosiolog asal Makassar, menukas, “Cinta dapat mengerakkan seseorang melampaui dirinya. Cinta meluluhlantakkan setiap penghalang. Tak ada yang tegak dihadapan cinta. Pencinta lebur dalam keindahan kekasih, laksana laron menyerah dalam bara. Lebur menjadi baru. Wujud cinta tercermin pada hati yang menyerah pada kebenaran dan keadilan. Cinta yang meluluhlantakkan kezaliman. Di tangan pencinta sejati, kalian tunduk pada titahnya.”

Samudera pengetahuan begitu luas untuk diketahui, begitu juga persoalan dunia, terlalu kompleks untuk dipecahkan. Manusia yang memiliki kelebihan dan kekurangan, lalu membentuk semacam disiplin ilmu, agar dapat bekerja sama memecahkan persoalan dunia.

Manusia tak bisa menyelesaikan masalahnya tanpa kontribusi orang lain. Pendeknya, manusia satu sama lainnya pasti saling membutuhkan. Dari kelebihan dan kekurangan itu, seyogianya, kita senantiasa bersikap rendah hati sekaligus percaya diri akan kemampuan masing-masing.

Momentum Ramadan, adalah salah satu sarana mendidik diri, agar selalu dalam kendali akal, sehingga berada pada posisi moderat, artinya, kita senantiasa memiliki pengendalian diri. Mengutip buku, Maksim Daeng litere, menabalkan, “Berpusat di tengah saja. Demikian jalan tengah, sebagai prinsip kesederhanaan dalam segala perkara.”

Kemampuan menyeimbangkan diri dalam agama, biasa diistilakan dengan sebutan iffah. Jalaluddin Rahmat (Kang Jalal) dalam bukunya, Halaman Akhir, menabalkan, “Manusia bergerak karena tiga kekuatan: Aql, ghadhab, dan syahwat. Kekuatan itu bisa berlebih dan bisa juga berkurang. Khusus untuk syahwat, bila berlebihan, orang menderita penyakit hati yang disebut serakah, rakus, dan tamak. Bila berkekurangan, ia menderita kelesuhan, kebekuan atau jumud.” Untuk menyeimbangkan syahwat, agar senantiasa terkendali oleh akal sehat, sehingga berada pada titik tengah, itulah disebut iffah.

Datangnya Ramadan adalah momentum menata diri kembali, supaya berada pada titik tengah. Jiwa, akal dan fisik, dengan sendirinya akan ditempa, manakala kita menjalankan rutinitas puasa. Berpuasa selama sebulan lamanya, tubuh akan mengalami normalisasi, begitu pula, penyakit hati akan terkikis oleh mereka yang menjalani puasa secara subtantif.  

Perihal ibadah puasa, setiap individu menjalaninya sesuai dengan kadarnya. Hal ini dipengaruhi  sejauhmana gradasi kesadaran dan kemurnian jiwanya. Menurut ahli tarekat, setelah menyempurnakan puasa secara syariat kita dianjurkan untuk menjalani puasa secara tarekat.

Penjelasan puasa syariat dan terekat ini juga di jelaskan Kang jalal, masih dalam bukunya Halaman Akhir. Menurutnya, syariat, tarekat dan hakikat menunjukan satu kenyataan yang sama. Bukti perumpamaannya, apabila syariat tingkat pemula, tarekat tingkat menengah, dan hakikat tingkat terakhir.

Penyempurnaan tingkat pertama terletak pada tingkat kedua. Penyempurnaan yang kedua terletak pada tingkat terakhir. Tingkat menengah tak dapat dicapai tanpa tingkat pertama, dan tingkat akhir tidak akan tercapai tanpa tingkat kedua. Pendeknya, adanya tingkat lebih atas tidak mungkin tanpa adanya tingkat di bawanya.         

Karena itu, walaupun tak ada kontradiksi di antara semua tingkatan, pada dasarnya setiap tingkatan saling menyempurnakan. Sayid Haidar Amuli, seorang sufi besar abad ke-8 H, menganalogikan, salat dari segi syariat adalah kebaktian kepada Allah, dari segi tarekat pendekatan diri kepada Allah, dari segi hakikat bergabung dengan Allah.

Sejurus dengan puasa, dari segi syariat, puasa adalah menahan diri dari aktivitas makan, minum, dan seks untuk waktu tertentu. Ini lazim diketahui dan dikerjakan orang awam. Sedangkan puasa tarekat, dimulai ketika kita berusaha mengendalikan sepuluh alat indra.

Lima di antaranya alat indra lahir, seperti pembicaraan, penglihatan, pendengaran, penyentuhan, dan penciuman. Lima alat indra berikutnya, merupakan indra batiniah, yakni pikiran, ingatan, khayalan, rasa, dan indra yang menggabungkan semua.

Betapa pun sulitnya mendiamkan indra batiniah, melaui momen Ramadan, tak ada salahnya, kita merangkak kembali, agar melatih mendiamkan alat indra batiniah.

Melalui pengalaman diam, kita akan diajak mencicipi rasa nikmat ruhani. Mula-mula kita mesti mendiamkan mulut, lalu pikiran dan khayal, kemudian keinginan.

Walaupun, keinginan paling berat didiamkan, sebab, kita telah terbiasa menginginkan sesuatu yang sebenanrnya kita tidak inginkan, hanya karena jiwa masih terkungkung oleh hasrat materi. Kata Ali Bin Abi Thalib,Puasa hati lebih baik dari puasa lisan, dan puasa lisan lebih baik dari puasa perut.”

Kecenderungan puasa terekat yang lebih menitikberatkan pada batiniah. Lebih dari dari itu, masih ada puasa hakikat yang masih harus kita jelang.

Kredit gambar: https://islamsantun.org/


Comments

2 responses to “Maknawi Ramadan”

  1. Yanti Tasrief Avatar
    Yanti Tasrief

    Alhamdulillah sy sangat senang dgn tulisan nya.makna nya berarti

  2. Yanti Tasrief Avatar
    Yanti Tasrief

    Alhamdulillah sy sangat suka dgn tulisan nya bermanfaat buat orang bnyk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *