Memahami teori Radiasi Budaya Arnold Toynbee, terutama tentang empat lapisan yang sangat berpengaruh, apakah suatu peradaban itu akan bertahan atau hancur, dan termasuk apakah berpengaruh dan unggul atau tidak bagi peradaban lain, kita pun akan sampai pada pemahaman dan kesadaran betapa sains dan teknologi sangat memengaruhi dinamika, pergumulan, dan pergulatan kehidupan manusia. Sekadar untuk diketahui—tidak dibahas secara utuh dalam tulisan ini—empat lapisan itu dari yang paling dalam sampai paling luar: visi spiritual, etika, estetika, dan teknologi-sains.
Saya teringat dengan Orasi Budaya Yudi Latif pada Haul Cak Nur ke-13, 5 tahun yang lalu melalui Channel Youtube, Cak Nur Society. Dalam orasi budaya itu, Yudi menjelaskan dengan baik terkait pandangan dan hasil riset Toynbee terhadap peradaban. Pada substansinya agar peradaban itu tetap bertahan maka pada lapisan terdalamnya harus selalu ada visi dan nilai spiritual. Sedangkan, agar peradaban itu bisa berpengaruh dan unggul bagi peradaban lain, maka harus unggul pada lapisan terluarnya, yaitu teknologi dan sains.
Mengapa saya mengawali tulisan ini dengan merujuk pada pandangan dan hasil riset Toynbee terhadap peradaban atau pada teori Radiasi Budaya-nya? Saya ingin menegaskan bahwa perkembangan atau revolusi teknologi memberikan pengaruh yang sangat besar, tanpa kecuali terhadap nalar manusia.
Nalar memengaruhi doing (apa yang dilakukan), relating (cara membangun relasi), meaning (apa dan bagaimana memaknai sesuatu), thinking (apa yang dipikirkan dan bagaimana cara memikirkannya), dan being (ingin menjadi seperti apa dan bagaimana caranya). Nalar yang dimiliki hari ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi tanpa kecuali apa yang terjadi di media sosial.
Hari ini, secara global, kehidupan kita telah sampai pada revolusi industri 4.0. Dari Klaus Schwab, saya memahami dengan baik bahwa revolusi industri 4.0 bisa dimaknai sebagai revolusi digital di mana cakupannya semakin luas dan semakin terintegrasi dengan banyak piranti lainnya, tanpa kecuali integrasi fisik dan teknologi. Pada revolusi industri 4.0 ini, dikenal sejumlah unsur strategis di dalamnya: Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), big data, algoritma, cloud system, dan lain-lain.
Selain perkembangan dan kemajuan teknologi yang ada, serta kemudahan, efektivitas, dan efesiensi yang dijanjikan dan ditawarkan, ternyata di balik revolusi industri 4.0 tersebut, masih menyisakan sejumlah persoalan yang memerlukan langkah solutif. Manusia dihantui dengan ketakutan dan kekhawatiran akan diambil alih perannya oleh AI. Relasi intim antara manusia dan perangkat teknologi telah menggerus dimensi kemanusiaan, psikologi atau minimal empatinya.
Sifat individualis, instan, dan pendangkalan daya analisis otak manusia adalah beberapa dampak buruk lainnya. Selain itu telah terjadi apa yang disebut matinya kepakaran, matinya sang ulama, matinya sang konten kreator dalam makna idealitasnya. Hoax, post truth, fake news, dan hate speech, dan—dalam konteks Indonesia atas hasil riset Microsoft—netizen Indonesia disebut paling tidak sopan se-Asia Tenggara dan ini sangat paradoks sebagai umat beragama, adalah gambaran buram dan dampak destruktif dari revolusi industri 4.0—kita sederhanakan dengan sebutan era digital saja.
Revolusi industri 4.0 yang bagaikan pisau bermata dua ini, terus mengalami perkembangan dan sepertinya telah menjadi suatu keniscayaan dari kemajuan peradaban adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Bahkan, Indonesia pun sedang mengejar kemajuan tersebut tanpa membangun kesan positif, langkah solutif nyata untuk mengurangi dampak buruknya.
Jepang, pada tahun 2019 membuat satu terobosan spektakuler untuk mengurangi dampak buruk, negatif, dan destruktif revolusi industri 4.0 dengan melahirkan dan memperkenalkan society 5.0atau masyarakat 5.0. Sederhananya, jika revolusi industri 4.0 menitikberatkan pada aspek artificial intelligence (AI), maka society 5.0 pada aspek manusianya. Selain itu society atau masyarakat 5.0 pada dasarnya mengintegrasikan antara dunia virtual dan dunia nyata yang berorientasi pada pencapaian keseimbangan ekonomi dan penyelesaian masalah sosial.
Sebagaimana Mujiburrahman (Guru Besar Sosiologi Agama dan Rektor UIN Antasari Banjarmasin) telah terinspirasi dari Reagel dan Eyal, saya pun terinspirasi dari mereka bertiga. Dari mereka bertiga, kita bisa memahami bahwa dalam aplikasi berbasis teknologi digital itu, tidak hanya menjadi ruang dan media penerapan teknologi. Di dalamnya pun, diterapkan psikologi dan antropologi untuk mengikat pengguna. Sebagai satu contoh pengikatan, hari ini para pengguna teknologi tanpa kecuali aplikasi media sosial mengalami FOMO (Fear of Missing Out), yaitu perasaan takut ketinggalan.
Apa artinya, sehingga saya mengungkap hal di atas? Bahwa, ketika para pengguna mengalami ketergantungan terhadap teknologi digital atau manusia sebagai perancang teknologi justru berikutnya menjadi “budak” atau dikendalikan oleh teknologi buatan manusia sendiri. Atau pun, kita bisa membahasakannya, bahwa revolusi industri 4.0 bukan hanya menjanjikan kemudahan bagi manusia, termasuk pula menggerus nilai kemanusiaan, dan lebih parah tidak sedikit menjadi instrumen penghancuran. Sebenarnya, semua itu adalah by. design bagi pihak tertentu yang berkepentingan.
Society atau masyarakat 5.0 yang diharapkan sebagai langkah solutif dari kelemahan, dampak buruk dan destruktif dari revolusi industri 4.0, saya menilai itu pun belum maksimal. Orientasi menjaga nilai kemanusiaan masih sangat dangkal. Contoh sederhana dampak positif yang dirasakan dari apa yang dipandagn sebagai society 5.0 adalah ketika hari ini tersedia aplikasi Google Maps yang bukan hanya sebagai petunjuk arah bagi manusia, tetapi bisa pula menggambarkan titik atau wilayah yang mengalami kemacetan dan menunjukkan pula rute yang tidak mengalami kemacetan.
Contoh di atas sebagai bentuk penerapan society 5.0 untuk menjadi solusi dari problem sosial yang dialami manusia dengan menggunakan pendekatan integrasi dunia virtual dan nyata. Atau bentuk penerapan teknologi digital yang berorientasi pada kepentingan manusia atau solusi bagi manusia.
Ingat, orientasi utama society 5.0 adalah sebagai solusi untuk manusia terhadap dampak ekonomi dan problem sosialnya dengan mengintegrasikan dunia virtual dan nyata. Di balik kedua orientasi ini, melalui perangkat teknologi, terutama yang berbasis media sosial, saya menemukan justru menimbulkan problem lain dan baru yang sangat parah bagi aspek psikologi manusia.
Ketika pada bagian atas tulisan ini, salah satu yang saya sebutkan sebagai dampak era digital adalah “matinya konten kreator” bukan berarti bahwa tidak ada lagi konten kreator. Justru semakin banyak, hanya saja mengalami pergeseran dari makna yang sebenarnya yang memiliki orientasi positif, produktif, konstruktif, dan kontributif dengan berbasis pada kreativitas dan inovasi tinggi.
Jika sekilas memperhatikan dua orientasi dari society 5.0 ini, maka media dan perangkat digital yang tersedia untuk dimanfaatkan oleh para konten kreator—yang membuat matinya konten kreator dalam makna idealitasnya itu—maka tentunya ini menjadi solusi dari persoalan ekonomi. Hanya saja sebagaimana saya telah menegaskannya menimbulkan problem baru.
Mereka, para konten kreator karbitan tersebut orientasi utamanya hanya monetisasi dan uang. Mereka tidak pernah memahami dan menyadari efek atau dampak dari konten yang dibuatnya apalagi jika sudah menjadi viral. Di ata,s saya sudah menjelaskan bahwa teknologi terutama melalui media sosial sangat memengaruhi nalar. Jadi, dalam jangka waktu lama, semua itu akan memengaruhi nalar dan karakter generasi muda.
Video “goyang-goyang kaki” yang viral, ditonton jutaan orang dan terus diproduksi oleh para konten kreator karbitan tersebut, maka saya yakin cepat atau lambat bisa memengarui perkembangan nalar dan pembentukan karakter generasi muda. Belum lagi, dengan kecenderungan mermproduksi video pendek yang berdurasi kruang dari dua menit, ini bisa membentuk karakter.
Ke depan, berpotensi ceramah yang diistilahkan “kultum” (kuliah tujuh menit) pun, akan tidak mau lagi diikuti oleh generasi kita. Mereka akan bosan dan menilai itu pun sudah terlalu lama. Maunya, ceramah para mubalig yang kurang dari dua menit saja. Ada banyak teori yang bisa digunakan sebagai pisau analisis untuk memperkuat hipotesis ini menjadi tesis.
Atas dasar pemikiran, pemahaman, dan kesadaran ini, saya menawarkan satu “rekomendasi” untuk membumikan nilai puasa ke dalam era society 5.0. Nilai apa saja yang bisa ditemukan dalam puasa, yang bisa dibumikan, diinternalisasikan, atau diterapkan ke dalam masyarakat 5.0 itu agar dampak dari perkembangan teknologi yang ada tidak menggerus nilai kemanusiaan adalah “pengendalian diri”, dan “empati”. Minimal kedua nilai ini, tanpa mengabaikan posisi “takwa” yang menjadi tujuan puncak dari puasa.
Puasa pada dasarnya membangun karakter pengendalian diri yang tinggi. Puasa pun membangun empat yang kuat. Ketika “pengendalian diri” selalu terpancar dari sikap dan perilaku manusia, bisa dipastikan bahwa dalam pemanfaatan teknologi pun baik yang masuk dalam kategori revousi industri 4.0 maupun society 5.0, akan senantiasa memiliki barometer dan indikator dari aspek positif, produktivitas, konstruktif, dan kontribusinya dalam kehidupan yang lebih baik dalam bingkai takwa dan akhlak mulia.
Nilai “empati” dari puasa, bukan berarti hanya berempati pada rasa lapar yang sering dialami oleh orang-orang miskin atau yang berada di bawah garis kemiskinan, tetapi termasuk pula berempati pada masa depan generasi muda pada aspek intelektualitas, moralitas, psikologis, akhlak, dan karakternya. Minimal ini.
Bentuk nyata dari nilai empati dari puasa ini dalam konteks society 5.0—bukan hanya revolusi industri 4.0—terutama dalam media sosial, tentunya kita pun akan senantiasa mengawali produksi konten itu dengan memperhatikan nilai-nilai dan dampak jangka panjangnya. Apakah memilik potensi konstruktif atau sebaliknya, destruktif (meruasak dan menghancurkan).
Ada banyak hal yang bisa dikaji lebih mendalam relasinya nilai puasa dan society 5.0. Meskipun, dari gambaran di atas, saya yakin kita sudah bisa menangkap substansi dari harapan “membumikan” nilai puasa ke dalam era society 5.0.
Kredit gambar: urnalbireuen.com

Pemilik Pustaka “Cahaya Inspirasi”, dan Wakil Ketua MPI PD. Muhammadiyah Bantaeng. Pegiat Literasi Digital dan Kebangsaan. Pimpinan BAZNAS Kabupaten Bantaeng Masa Jabatan 2025-2030.


Leave a Reply