Setelah zuhud, maka tantangan lain dalam laku spiritual (suluk) menurut Nashr al-Din al-Thusi adalah menjadi fakir (faqr). Dalam definisi material, fakir dikaitkan dengan orang yang tidak memiliki harta benda atau setidaknya orang yang sangat kekurangan dari segi harta.

Sedangkan dalam definisi tasawuf menurut al-Thusi, fakir adalah orang yang tidak memiliki kecintaan terhadap hal-hal yang bersifat duniawi. Fakir merupakan sifat menggantungkan diri kepada Allah.

Kebergantungan manusia kepada Allah adalah kebergantungan eksistensial, kebergantungan akibat pada sebab, kebergantungan mahiyah atas wujud. Menggantungkan diri kepada selain Allah, sejatinya akan mengantarkan manusia kepada kejatuhan eksistensial yang membuat rohaninya jatuh sejatuh-jatuhnya.

Lisan suci Rasulullah saw bersabda, “Kefakiran adalah kebanggaanku, aku bangga menjadi orang yang fakir.” Memilih menjadi fakir serupa upaya, untuk membebaskan diri dari hal-hal yang bisa mengalihkan tujuan dalam menempuh jalan suluk, demi mendekatkan diri kepada Allah.

Menurut Hamzah Fanshuri, fakir adalah orang merdeka dari selain Allah. Fakir berkaitan dengan jiwa yang fana, lenyapnya jiwa yang rendah karena jiwa yang dikuasai cinta dan kecenderungan pada Ilahi.

Kata fakir dalam konsep tasawuf merujuk pada QS. 35:15, “Hai manusia, kamulah yang fuqara (memerlukan). Sedangkan Allah, Dialah yang Mahakaya dan Maha Terpuji.”

Dengan menghiasi rohani dengan sifat fakir, merupakan bagian dari proses penjernihan hati (tashfiyah al-qalb) dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Dengan hadirnya sifat fakir, manusia hanya akan merasa kaya hanya dengan Allah, sehingga gemerlap dunia tidak akan melalaikannya.

Nurcholish Madjid setelah menyitir QS. 47:38, “…Dan Allah-lah yang Mahakaya (tidak memerlukan apa pun yang lain), dan kamulah yang fakir (memerlukan kepada yang lain, terutama kepada Allah)…” Cak Nur mengungkapkan keperluan manusia terhadap Allah, diwujudkan dalam ibadah kepada-Nya.

Orang yang butuh tentu akan mendatangi sumber pemenuhan kebutuhannya, sumber pemenuhan kebutuhan manusia sejatinya adalah Allah. Karena itulah, ibadah adalah jalan manusia untuk memenuhi kebutuhan sejatinya, yaitu menyempurnakan dirinya.

Tiada jalan kesempurnaan, kecuali mendekatkan diri pada Allah, selaku yang Mahasempurna dengan meneladani manusia yang paling sempurna, yaitu Muhammad saw.

Perasaan fakir memantik struggle rohani di jalan kesempurnaan, yang jalannya meneladani sosok Muhammad saw sebagai patron dan tipologi ideal kesempurnaan dalam sosok manusia.

Filosof dan penyair Pakistan, Muhammad Iqbal, memaknai fakir sebagai pribadi yang kuat karena cintanya kepada Allah. Menurut Iqbal, seorang fakir dalam konsepsi spiritual adalah manusia merdeka dan manusia unggul karena kesadaran intelektualnya yang dalam dan rohaninya yang hidup.

Sifat fakir adalah hasil dari refleksi kesadaran intelektual manusia  yang menemukan konsepsi kesejatian diri yang sepenuhnya bergantung kepada Allah selaku Sang Wujud Absolut. Sifat fakir merupakan modal untuk menyadari kedirian sebagai hamba, yang butuh untuk “menuhan”. Fakir adalah pengakuan kerelatifan diri dihadapan kemutlakan Allah.

Oleh karenanya, seorang yang fakir pastilah ahli sujud, karena sujud yang membenamkan wajah ke tanah sebentuk simbol perendahan diri di hadapan Allah yang Mahatinggi.

Manusia yang enggan atau malas bersujud kepada Allah, sejatinya adalah mereka yang enggan mengakui kerelatifan dan kerendahan dirinya di hadapan Allah yang Mahamutlak dan Mahatinggi.

Fakir dalam konsepsi spiritual, bukan berarti harus fakir pula secara ekonomi. Fakir bukan dilarang memiliki harta, tapi yang terlarang adalah merasa benar-benar memiliki harta tersebut. Karena fakir adalah “tidak ada sesuatu yang benar-benar menjadi milik kita.”

Harta, keluarga, bahkan diri kita adalah milik Allah, semua yang kita miliki saat ini hakikatnya adalah titipan Allah, sehingga dengan penuh keridaan jika Allah ingin kembali mengambil milik yang dititipkannya.

Dengan demikian, fakir sinergis dengan zuhud seperti yang disebutkan dalam QS. 57:23, yaitu “tidak bersedih hati atas apa yang hilang dan tidak euforia atas apa yang didapatkan.” Jika zuhud adalah sikap, maka fakir adalah sifat, keduanya bukanlah kedudukan (maqam) melainkan kualitas rohani yang harus terus dipertahankan demi menempuh jalan suluk menuju keridaan Allah.

Sifat fakir mengafirmasi tanggung jawab sosial dan menunaikannya sebagai kewajiban spiritual. Merdekanya rohani dari rasa kepemilikan atas materi, menjadikan sikap ringan tangan untuk berbagi.

Seorang fakir di jalan spiritual, akan berada pada level kesadaran, bahwa pada harta yang ada padanya terdapat hak orang lain, baik yang meminta atau pun tidak meminta (QS. 51:19).

Sifat fakir adalah sifat yang menjadi penciri seorang hamba, pada hajat yang bersifat ketuhanan, yang kemudian dinyatakan dalam ibadah kepada-Nya. Sedangkan Allah berulang kali menegaskan bahwa ibadah tidak bernilai apa-apa, sebelum menghadirkan tindakan-tindakan nyata dalam perikemanusiaan.

“Orang yang paling baik di antara kamu, adalah orang yang paling banyak kontribusinya kepada manusia”, demikian sabda dari, lisan suci Rasulullah saw.

Orang dengan sifat fakir adalah orang yang mudah merealisasikan kontribusinya, karena sadar bahwa semua yang ada padanya, hanyalah titipan dan amanat Allah yang harus dia pertanggungjawabkan.

Ibadah puasa yang diperintahkan Allah sejenis treatment, untuk memupuk sifat fakir di dalam rohani manusia. Hakikat menahan diri dari makan, minum, dan seks, adalah upaya menyadarkan rohani, untuk melepaskan perasaan kepemilikannya kepada selain Allah.

Puasa yang menekankan kita untuk memperbanyak ibadah dan meninggalkan perkara yang tercela, sejatinya adalah edukasi rohani, di antaranya dengan mengisi sifat fakir, yaitu senantiasa merasa kurang dari menunaikan amal ibadah kepada Allah.

Puasanya orang fakir adalah puasa yang tak sekadar menahan. Perasaan serba kekurangan dari menunaikan amal kebaikan, memantik semangat untuk “menunan” dengan memperbanyak ibadah, untuk selanjutnya menahun bersama Tuhan, dengan giat menebarkan kebaikan.

Kredit gambar: https://metafor.id/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *