Sang Kiyai tidak Salat Tarawih?

Umurnya baru saja beranjak dari 17 tahun. Pemilu 2024 merupakan pengalaman pertamanya ikut mencoblos capres-cawapres dan caleg. Remaja ini sering berkeluh kesah. Sebab, ayahnya sering memerintahkan agar rajin beribadah, utamanya di bulan suci Ramadan.

Salah satu anjuran itu, tunaikan salat Tarawih di masjid. Bahkan, ayahnya menekankan salat Tarawih 20 rakaat. Maklum saja, ayahnya mengikuti tata cara beribadah ala Nahdatul Ulama (NU). Cara beragama ini, serupa warisan dari ayahnya, seorang kiyai kampung.

Dus, si remaja ini, sesungguhnya, cucu dari seorang kiyai kampung. Lumayan tersohor di zamannya. Meskipun tidak sering naik mimbar. Lebih banyak terlibat dalam menapasi keseharian masyarakat.

Awal-awal Ramadan, si remaja masih bersemangat ikut salat Tarawih 20 rakaat. Namun, memasuki pekan kedua Ramadan, semangatnya mulai menurun. Ia tetap ikut salat Tarawih, tapi memilih “paket diskon”, 8 rakaat.

Ada-ada saja kelakar anak remaja sebayanya, mungkin karena pengaruh serba diskon belanja, ketika bulan Ramadan. Sehingga, jumlah rakaat di bawah setengah, dipersepsikan diskon lebih separuh harga.

Begitu ayahnya tahu, si remaja ikut salat Tarawih 8 rakaat, ia nyaris disidang. Pasalnya, bagi sang ayah, pergeseran jumlah rakaat salat Tarawih ini, sama saja mematahkan tiang-tiang tradisi beragama ala NU.

Namun, apa daya sang ayah. Ia tak kuasa menahan laju gelombang kaum remaja, lebih suka memilih salat Tarawih 8 rakaat, meskipun mereka lahir dari rahim keluarga NU.

Percakapan semi sidang, antara si anak dan sang ayah, berjalan hangat-hangat tai ayam.  Apatah lagi, ketika si anak mengajukan protes kepada sang ayah, berupa pernyataan diikuti pertanyaan, “Mending salat Tarawih 8 rakaat, tapi bagaimana ayah yang tak pernah ikut salah tarawih?”

“Pun, begitu selesai salat berjemaah Isya di masjid, ayah langsung pulang, tidak ikut mendengar ceramah. Bukankah ceramah dan salah Tarawih itu, nyaris satu paket?”

Gugatan sang anak pada sang ayah menyebabkannya tergugah. Sebelumnya, ia nyaris saja menggunakan otoritasnya sebagai ayah, memberikan jawaban seluas otoritasnya. Namun, ia memilih diam. Dan, membiarkan sang anak berlalu ke masjid.

Sang ayah mulai merenung, sembari membayangkan perubahan-perubahan tata cara beribadah kaum muda milenial. Tidak lagi seketat dulu, sewaktu ia dididik oleh ayahnya, sang kiyai kampung itu.

Sembari menanti sang anak pulang dari masjid, sang ayah menerbangkan ingatannya, hingga ia tiba pada terungku masa, sewaktu ia juga berusia remaja dan mengajukan pernyataan sekaligus pertanyaan yang sama kepada ayahnya. Walaupun itu tak keluar dari mulutnya.

Apakah ini semacam pengulangan peristiwa semata? Hanya setting dan konteksnya berbeda, tapi kontennya sama saja?

Baiklah, sang ayah akan menceritakan peristiwa lampau, tatkala ia nyaris tak pernah menyaksikan ayahnya ikut salat Tarawih, apalagi mendengarkan ceramah. Padahal ia seorang kiyai kampung.

Lalu apa yang dibikin oleh sang kiyai kampung di rumahnya, tidak ikut mendengar ceramah dan salat Tarawih? Waima jarak antara masjid dan mukimnya hanya sepelemparan batu saja?

Rupanya, begitu pulang tunaikan salat Isya, sang kiyai kampung langsung tidur pulas. Nanti tengah malam, sekira malam hari tergelincir dari larutnya, ia bangun.

Nah, mulai dari bangun hingga sahur, jelang subuh, ia habiskan waktunya buat salat. Ditegakkannya salat Tarawih 20 rakaat, salat Tobat, salat Hajat, salat Malam 8 rakaat Qiyamullail, plus salat sunah lainnya, lalu ditutup salat Witir. Arkian, munajat dan zikir, serta amaliah khusus Ramadan.

Sang kiyai tegakkan sekotah salat tersebut, ketika anggota keluarga tertidur pulas. Nanti sahur jelang imsak, anggota keluarga dibangunkan. Eloknya lagi, sang kiyai kampung, tak tidur lagi setelah salat Subuh. Ia tetap beraktivitas seperti sediakala di kebunnya, sejak pagi hingga sore, hanya dijeda oleh salat Zuhur dan Asar.

Sepertinya, sang kiyai kampung telah menegakkan muruah seorang hamba, menjadi pertapa kala malam hari, mewujud singa saat siang hari.

Sebagai salah seorang putra sang kiyai kampung, tepatnya putra kelima, amat sering menemani ayahnya di rumah kebun. Apatah lagi, bila sang putra libur sekolah saat bulan Ramadan.

Sang kiyai kampung mendirikan rumah panggung sangat sederhana di area kebunnya. Bahkan, separuh bulan Ramadan terkadang ia habiskan di rumah kebun, bilamana bertepatan dengan musim panen kopi, cengkeh, dan cokelat.

Kalakian, mengapa sang kiyai kampung enggan mendengar ceramah Tarawih? Ternyata, hampir semua penceramah itu mengaku muridnya. Sehingga, sang kiyai kampung memilih tidak hadir, sebagai bentuk kebijaksanaannya. Sebab, segenap yang mengaku murid itu, tak kuasa berceramah di hadapan gurunya.

Sama halnya di luar bulan Ramadan. Sering ada pengajian rutin, disajikan oleh seorang kiyai tenar seantero kabupaten, sang kiyai kampung juga tak pernah menghadirinya.

Apa yang dilakukan oleh sang kiyai kampung? Ia juga membuka kitab-kitab rujukan yang dipakai oleh kiyai besar nan tenar itu. Memastikan pemahaman antara pengetahuannya dengan pengetahuan kiyai besar, seirama, sejalan, dan senapas. Pasalnya, guru sang kiyai kampung dan guru kiyai besar sama sosoknya.

Nah, sang anak remaja sudah pulang dari masjid. Sang ayah tak hendak lagi bertanya, jumlah rakaat salat Tarawih yang dilakoninya. Termasuk isi ceramah ustaz.

Sang ayah hanya meminta waktu sejenak, agar anaknya sudi mendengar gumpalan ingatan sang ayah. Ia pun menceritakan perilaku sang kiyai kampung, yang tiada lain adalah kakek sang anak, selama bulan Ramadan.

“Jadi, ayah ikut tata cara Ramadan ala kakek, sang kiyai kampung?” Tanya si anak usai sang ayah menuntaskan kisahnya.

Entahlah nak.

Kredit gambar: goggle.com


Comments

6 responses to “Sang Kiyai tidak Salat Tarawih?”

  1. Muhammad Basri Avatar
    Muhammad Basri

    Alhamdulillah, titah kiyai kampung itulah yang saya implementasikan sampai saat ini, shalat Isya di Mesjid, lalu pulang tidur, seperempat malam bangun shalat Qiamullail 8 rakaat ditutup witir 3 rakat, alhamdulillah semoga menjadi salah satu amalan yang bisa mendapat ridhoNYA

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Wow, Ramadhan Kareem.

  2. Keren kak ceritanya.

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Tengkiyu bingits apresiasinya.

      1. Muhammad Basri Avatar
        Muhammad Basri

        Sama sama “guru HAN, sehatQ selalu bersama keluarga.

        1. Amin ya rabbal alamin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *