Puasa Bicara di Dunia Nyata dan Maya

Seperti telah dikemukakan pada tulisan penulis sebelumnya, salah satu jenis, tahapan, dan tingkatan puasa disebut puasa tarekat. Biasa pula dikatakan puasa khawwas atau puasa khusus.

Puasa kelompok orang ini, selain mereka menahan diri dari makan, minum dan hubungan seks, serta segala hal yang membatalkan puasa, mereka juga menahan seluruh indra lahir dan batinnya, dari segala sesuatu yang diharamkan dan dimurkai Allah. Indra lahir dan batin mereka meninggalkan seluruh yang tidak diridai oleh Allah Swt.

Salah satu indra lahir yang paling penting untuk dipuasakan adalah lisan. Lisan mesti dikendalikan dan ditahan, dari berbicara pembicaraan dan perkataan yang tidak bermanfaat, sia-sia dan dimurkai Allah. Lebih lanjut, puasa ini disebut puasa bicara.

Ayat yang menjelaskan jenis puasa bicara ini, ditemukan dalam QS. Maryam/ 19: 26 yaitu:

فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًا ۚفَاِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ اَحَدًاۙ فَقُوْلِيْٓ اِنِّيْ نَذَرْتُ لِلرَّحْمٰنِ صَوْمًا فَلَنْ اُكَلِّمَ الْيَوْمَ اِنْسِيًّا ۚ

Terjemah: “Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar puasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Oleh karena itu, aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”

Kandungan ayat ini, terkait dengan Maryam as., ibunda Nabi Isa as. Dalam ayat 26 di atas dikemukakan, Allah memerintahkan Maryam untuk makan, minum, dan bergembira.

Selanjutnya, Allah juga memerintahkan kepadanya, jika ia bertemu dengan seseorang, agar berkata dengan bahasa isyarat kepadanya bahwa: Hari ini aku (Maryam) telah bernazar untuk Allah yang Maharahman.

Adapun isi nazar Maryam adalah berpuasa, yakni puasa dalam jenis atau bentuk tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun. Puasa jenis ini dikenal dengan puasa bicara atau diam. Dari sini dapat dipahami, puasa bicara merupakan perintah Allah Swt. Dengan perkataan lain, puasa bicara disyariatkan oleh Allah Swt.

Sampai di sini, menarik untuk dipertanyakan, mengapa puasa lisan atau puasa bicara? Dan bukan puasa indra-indra lainnya, seperti puasa pendengaran atau telinga. Apa urgensinya lisan mesti dipuasakan? Apakah lidah begitu berbahaya sehingga mesti dipuasakan, dikendalikan dan ditahan atau dipenjarakan?

Puasa lisan atau bicara mengisyaratkan lebih banyak diam dari pada bicara. Mengapa mesti lebih banyak diam dan sedikit bicara? Apa hikmah religius-spiritual di balik sedikit bicara dan banyak diam? Demikian beberapa pertanyaan kritis, sekaligus dapat menjadi renungan kehidupan, baik secara pribadi, maupun dari sudut sosial-masyarakat.

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dipahami dari sabda Rasulullah saw.

إذا أصبح إبن ادم فإن الاضاء كلها تُكَفِّر اللسان فتقول : إتَّقِ الله فينا فإنما نحن بك فأنِ استَقَمْتَ إستقمنا وإنِ اعْوَجَجْت إعوججْنا 

Artinya: “Jika tiba waktu pagi maka seluruh bagian tubuh manusia akan menyerang lidah dan berkata kepadanya: bertakwalah kamu kepada Allah karena kebahagian kami semua bergantung padamu dan kecelakaan kami semua bergantung pada pula.”

Berdasarkan kandungan hadis tersebut, tergambar dengan jelas dan tegas, bagaimana posisi sentral dari lidah atau bicara, terkait dengan keselamatan dan kecelakaan seluruh indra lainnya. Bahkan, tubuh manusia.

Dengan perkataan lain, jika lidah dan atau bicara terkendali dan tertahan, maka kehidupan akan damai, aman, tentram dan bahagia atau tidak bermasalah. Berbeda jika lidah dan bicara bersikap liar, maka dapat dipastikan akan menimbulkan banyak problem kehidupan.

Misalnya, jika telinga atau mata seseorang mendengarkan fitnah, maupun melihat keburukan, kekurangan, dan aib orang lain, apabila semua itu berhenti di telinga dan di mata orang yang mendengarkan dan melihatnya, maka tidak akan menghadirkan problema kehidupan. Fitnah, keburukan dan kekurangan yang menjadi aib seseorang, tidak akan tersebar luas.

Berbeda jika apa yang didengarkan telinga dan dilihat oleh mata tersebut, telah sampai pada lidah dan membicarakannya, maka dapat dipastikan fitnah dan aib seseorang yang menyebar dan dengan cepat menghadirkan masalah besar. Dari sisi ini, maka wajar jika seluruh indra manusia, setiap hari mengingatkan lidah, agar berhati-hati dalam berbicara.

Sabda Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa: سلامة الانسان في حفظ اللسان yang berarti: “Keselamatan manusia bergantung pada upaya menjaga lidahnya.” Perkataan beliau yang senada menegaskan:  لا يسلم أحد من الذنوب حتى يخزن لسانه yang berarti: “Seseorang tidak akan selamat dari dosa kecuali mampu menjaga lindahnya.”

Dari sini, penulis dapat tegaskan, peran sentral lidah dan bicara, sebagai penyelamat manusia. Pada kesempatan lain, Rasulullah saw. menegaskan, seseorang tidak dapat dianggap telah beramal, apabila lidahnya tidak terjaga. Yaitu: “ما عمل من لم يحفظ لسانه.”

Sabda Rasulullah terakhir ini, menegaskan seseorang akan kehilangan nilai amalannya, jika lisannya tidak terpelihara. Dengan perkataan lain, lidah dan bicara merupakan penghancur amal ibadah seseorang.

Gerakan untuk menjaga, memelihara, menahan, dan memenjarakan lidah, sehingga lebih banyak diam dan sedikit bicara, juga ditegaskan dalam beberapa perkataan mulia dari Imam Ali kw. antara lain, beliau berkata, “Intisari manusia adalah lidahnya. Dan akalnya adalah agamanya.” Dari perkataan ini, penulis pahami kuatnya relasi antara lidah, akal, dan agama.

Adapun relasi ketiganya, lidah yang dinaungi dan diliputi cahaya agama dan akal, maka lidah akan selamat dan menyelamatkan. Pembicaraannya akan bermanfaat. Maksudnya, kebenaran akal dan keberagamaan seseorang, dapat terlihat dari lidah dan pembicaraannya.

Imam Ali kw. menyatakan, “Lisanmu adalah penerjemah akalmu.” Beliau juga berkata, “Lidahnya orang berakal berada di balik hatinya dan hatinya orang bodoh berada di balik lidahnya.“ Jadi,“Lidah merupakan penentu kualitas dan kedudukan manusia,” lanjut menantu Rasulullah saw.

Pada kesempatan lain, suami dari putri kesayangan Rasulullah saw. berkata, “Tidak ada sesuatu apa pun yang lebih berhak dan lebih pantas dipenjarakan lebih lama daripada lidah.” Mengapa? Karena, kata Amirul Mukminim, “Lidah bagaikan binatang buas, jika dilepas maka akan membinasakan pemiliknya.” Dengan demikian, lanjut beliau, “Bencana seseorang berasal dari lidahnya.”  

Bertolak dari uraian di atas, tentang betapa utama, penting dan sentralnya posisi lidah, baik bagi keselamatan dan kebinasaan manusia, maka sangat wajar apabila Rasulullah saw. menasehatkan dalam sabdanya, agar sedikit bicara dan lebih banyak diam.

Rasulullah saw. bersabda: عليك بطول الصَّمت فإنه مَطْرَدَة للشيطان وعون لك من أمر دينك . Artinya: “Hendaklah kalian banyak diam karena hal itu akan mengusir setan dan membantumu untuk urusan agamamu.”

Dari sini dapat dipahami, ciri orang yang agamanya baik dan benar, sedikit bicara dan banyak diam. Sebaliknya, ciri orang yang kerasukan setan, banyak bicara dan sedikit diam.

Mungkin kesimpulan penulis, cukup ekstrim. Akan tetapi pernyataan penulis diisyaratkan oleh sabda Rasulullah Saw. ketika menasehati Abu Zar, “Ada empat perkara yang tidak akan dilakukan kecuali oleh seorang mukmin, antara lain: diam dan sedikit bicara, yang merupakan awal ibadah. “اربع لايصيبُهن إلا مؤمن : الصمت وهو أوّل الدين.”

Dari sabda Rasulullah yang disebutkan terakhir, dengan tegas menyatakan, sedikit bicara dan banyak diam, merupakan karakter utama seseorang, yang keimanannya sempurna atau telah menjadi seorang mukmin.

Imam Ali kw. berkata ketika beliau menyifati orang-orang bertakwa, “jika diam tidak menyusahkannya dan jika tertawa tidak meninggikan suaranya.” Pertanyaannya, adakah diam yang menyusahkan dan atau tercela? Atas pertanyaan ini, Suami Fatimah az-Zahra mengatakan, “Tidak ada kebaikan pada diam dari hukum dan tidak ada kebaikan pada pembicaraan tanpa ilmu.”

Untuk kesempurnaan pembahasan ini, penulis akan mengemukakan beberapa manfaat, keuntungan dari banyak diam dan sedikit bicara, menurut mereka yang menegakkannya. Seperti perkataan Imam Ridha, “Sesungguhnya sedikit bicara itu, salah satu pintu hikmah dan cara memancing kecintaan dan petunjuk menuju kebajikan.”

Kakek dari Imam Ridha, yakni Imam Hasan mengatakan, “Diam akan membantumu dalam banyak keadaan sekalipun engkau seorang yang memiliki kefasihan berbicara.” Beliau juga mengatakan, “Kewibawaan banyak dimiliki oleh orang yang banyak diam.”

Imam Ali kw., bapak dari Imam Hasan menasehatkan, “Konsistenlah dalam sedikit bicara, kalian akan mendapatkan manfaat darinya, minimal keselamatan.” Selanjutnya beliau menegaskan, diam adalah ladang pemikiran. “Orang yang banyak diam, waktunya dipenuhi dengan aktivitas (khususnya aktivitas perenungan).” Akhirnya, suami Fatimah menegaskan, “Diam dan sedikit bicara merupakan ciri kecerdasan dan buah dari akal.” 

Kita kembali kepada Maryam as., yang diperintahkan Allah untuk puasa bicara, ketika menghadapi pertanyaan kaumnya, yang bernada protes terhadapnya, terkait dengan kelahiran Isa as.

Kaumnya berkata dengan tegas kepada Maryam, setelah Maryam membawa Isa as. dalam gendonganya kepada kaumnya, “Wahai Maryam; ‘sungguh engkau telah membawa sesuatu yang sangat dan paling mungkar. Padahal ayahmu bukan orang yang buruk perangainya dan ibumu bukan seorang pezina.”

Mendengar perkataan kaumnya, Maryam tidak berkata-kata apa pun, beliau diam dan atau puasa bicara. Beliau merespon perkataan kaumnya dengan bahasa isyarat dengan menunjuk kepada Isa as. yang masih bayi.

Kaumnya pun merespon dengan menegaskan bahwa bagaimana mungkin kita berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan.

Mendengar perkataan mereka terhadap bundanya Maryam, Isa as. pun berbicara dan berkata, “Aku adalah hamba Allah, aku diberi al-kitab dan aku dijadikan sebagai seorang nabi. Aku dijadikan terberkahi di mana pun aku berada. Kepadaku diwasiatkan agar menegakkan salat dan berzakat selama hidupku.” (QS. Maryam/ 19: 27-34).

Mencermati kandungan ayat-ayat di atas, dapat dipahami terdapat relasi kuat, antara puasa bicara yang ditegakkan oleh Maryam, ibunya Isa as. dengan kemampuan berbicara Isa as. yang masih dalam buaian. Relasi yang dimaksud, sedikit berbicara akan membuat batin atau hati banyak merenung.

Orang yang sedikit bicara dan banyak diam, hatinya tenggelam dalam renungan-renungan hikmah Ilahi. Sehingga jika ia berbicara, maka pembicaraannya baik, benar, indah, dan bermanfaat. Isa as. sebagai anak Maryam telah membuktikannya.

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan sempurna iman seorang hamba kecuali hatinya bersih, dan tidak akan bersih hatinya kecuali lisannya benar.”

Berdasarkan uraian di muka, maka dapat dirumuskan kesimpulan, puasa bicara baik di dunia nyata maupun di dunia maya atau medsos, merupakan kewajiban yang berlaku sepanjang masa tanpa dibatasi oleh waktu, ruang dan keadaan apa pun.

Dengan demikian, manusia akan hidup dalam kedamaian, ketentraman, ketenangan dan kebahagian. Dan cukuplah keberadaan malaikat pencatat yang berada di kedua sisi manusia (QS. Qaf/ 50: 17), menjadi pemberi dorongan bagi seseorang, untuk menegakkan puasa bicara dan banyak diam, agar berpikir dan merenung.

Sebagai kesimpulan tulisan ini, maka patut direnungkan kandungan ayat 14-18 dari surah an-Nur. Tujuannya, agar setiap orang menyadari bahayanya hidup tanpa puasa bicara. Sebaliknya lebih banyak bicara dan menyebarkan fitnah, kebencian, kebohongan khususnya di medsos.

Adapun kandungan keempat ayat tersebut mengemukakan, yaitu:

“Seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang sangat berat disebabkan oleh pembicaraan kamu tentang (berita bohong) itu. (Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut; kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun; dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu masalah besar. Mengapa ketika mendengarnya (berita bohong itu), kamu tidak berkata, ‘Tidak pantas bagi kita membicarakan ini.  Mahasuci Engkau. Ini adalah kebohongan yang besar.’ Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya jika kamu orang-orang mukmin. Allah menjelaskan ayat-ayat(-Nya) kepadamu. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” Wallahu a’lam bissawab.

Kredit gambar: https://unsplash.com/s/photos/mouth-silent


Comments

One response to “Puasa Bicara di Dunia Nyata dan Maya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *