“Buru, lalu pikullah amanah di bidang yang tak diinginkan orang banyak, niscaya, itulah solo karier terbaik.” (Maksim Daeng Litere)
Tumbuh kembang akal manusia akan mengalami perubahan seiring pengalaman yang dilaluinya. Begitupun, jiwa akan mengalami perubahan apabila manusia mampu memaknai setiap pengalaman dialami terus-menerus.
Salah satu makna hidup, manakala kita dihadapkan pada sebuah pilihan. Apapun pilihan itu, tidak lepas dari cermin kualitas manusia yang diperoleh dari ilmu dan pengalaman hidup.
Berangkat dari sebuah pilihan, setiap manusia memiliki kehendak bebas menentukan arah hidupnya. Keberhasilan manusia, dapat diukur sejauh mana menentunkan pilihan dengan benar.
Proses menemukan dan berada dalam lingkup kebenaran bukan hal mudah, sebagian orang tergelincir di dalamnnya. Mengetahui dan mengakui kebenaran, tidak lantas menjadi pengikut kebenaran, pasalnnya, beberapa faktor akan menjadi pertimbangan, utamanya berdasarkan hati, akal, atau nafsunya.
Mengutip buku Maksim Daeng Litere, anggitan Sulhan Yusuf, menabalkan, “Jika persuaan itu masih bersifat transaksional, maka lapiknya hanya untung rugi.”
Pertentangan akal, hati, dan nafsu, sering menggelayuti manusia menentukan pilihannya. Realitasnya, kadang kita sering terjebak pada pilihan kita sendiri, sehingga, kita mengalami semacam ambiugitas.
Mengapa hal itu sering terjadi? Ketidakmampuan kita memaknai atau merespon sesuatu di luar diri, yang kita sendiri tidak mampu kendalikan. Inilah jawaban seorang stoisisme, sebagaimana ditulis oleh Henry Manampiring dalam buku Filosofi Teras.
Pendeknya, pada perspektif stoisisme menekankan dalam hidup, ada hal-hal di bawah kendali kita dan ada pula yang tidak di bawah kendali kita. Adapun orang bijak, dapat menoleransi kedua kategori ini dalam segala hal di dalam hidupnnya. Sebagai amsal, hal-hal yang tidak di bawah kendali kita, semisal kekayaan, reputasi, kesehatan dan berbagai opini orang lain. Sedangkan hal-hal dalam kendali kita, yakni pikiran, opini, persepsi , dan tindakan kita sendiri.
Definitnya, sari diri seorang stoisisme, baik tidaknya hidup kita, hanya bisa dinilai dari hal-hal dibawa kendali kita.
Kecakapan memilih di antara pilihan-pilihan hidup, menandakan seorang mimiliki kualitas diri. Tidak mudah mempunyai kecakapan tersebut, dan tidak mesti pula menguasai seabrek teori-teori pengetahuan mutakhir.
Kecakapan itu mengada inheran dalam diri, manakalah seseorang mampu memaksimalkan kekuatan rasionalitas dan emosionalitas pada diri masing-masing.
Situasi apa pun dialami, mampu dihadapi dengan pilihan rasional dan emosi yang tenang. Orang seperti ini, tak gampang marah, terpancing, apalagi khawatir. Berkat ilmu dan pengalamannya, peristiwa genting sekalipun mudah diatasi.
Salah satu peristiwa politik baru saja terlewatkan. Telah mencuri sekaligus menguras perhatian khalayak. Ada banyak fenomena yang bisa menjadi pelajaran hidup dalam memaknai sebuah pilihan, salah satunya, apabila seseorang dihadapkan pada pilihan yang rasa dilematis.
Selagi sesuatu itu masih menjadi masalah, pasti ada solusinya. Pilihan seseorang akan menentukan masa depannya, di saat itulah kita mesti cakap memposisikan diri, apalagi menyangkut peristiwa politik.
Dilematisnya peristiwa ini, sering kita dihadapkan antar pilihan logis atau emosional. Tekanan dan rayuan mafhum muncul dalam menentukan pilihan, apalagi menyangkut pilihan politik. Namun, bagi orang yang cakap menempatkan diri, mengetahui keputusan tepat yang akan diambilnya.
Setiap warga negara memperoleh hak yang sama dalam politik, artinya, di kehidupan alam demokrasi, masing-masing individu memiliki hak dipilih dan memilih, maka tak heran, siapa pun orangnya, memiliki kesempatan sama menjadi pemimpin maupun dipimpin.
Sebagai individu mesti bersedia menjadi pemimpin maupun dipimpin di negeri demokrasi. Berangkat dari ikhwal pilihan politik, bagi seorang pengabdi negeri, sekaligus pekerja sosial, seyogianya memiliki pandangan loyalitas terhadap negara. Artinya, pilihannya mesti berdasarkan kepentingan negara atau orang memimpinnya.
Siapun pemimpinnya, sebagai orang dipimpin wajib mamatuhi. Pada kondisi tertentu, pertimbagan nurani harus dilepaskan, demi kepentingan orang banyak.
Meskipun sebagian orang berat melakukannya, namun, atas nama pengabdian, tidak ada kata tidak, untuk tidak melakukan.
Mengutip Matsnawi, Rumi menabalkan, “Bersyukurlah dan patuhilah pada orang-orang pandai bersyukur. Matilah di sisi mereka, temukan keabadian.”
Memilih menjadi pengabdi, merupakan jalan sunyi kehidupan. Bukankah setiap orang memiliki mandat sosialnya masing-masing.
Bagi seorang pengabdi, peran apa pun dilakoninya tidak lain berlapik cinta. Kata Daeng Litere, “Berkeluh kesah kala bekerja, sebentuk alamat nyata, cinta belum menjadi selimut pekerjaan.”
Cinta adalah puncak dari segala pencapaian manusia, karena cinta pula, semesta hadir di hati para pecinta. Tidak mudah meraih tujuan cinta, seseorang mesti melepaskan segala kemelekatan dirinya terhadap keinginan- keinginan material.
Banyak jalan menuju cinta, salah satunya jalan pengabdian, ciri seorang pegabdi, selain punya dedikasi tinggi, paling utama, memiliki jiwa altruisme, yakni panggilan jiwa yang lebih memerhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain.
Sikap ini merupakan naluri manusia sesungguhnya, tapi karena pengaruh hawa nafsu dan cinta dunia, kadang manusia terjebak pada ego dirinya.
Setiap sikap altruisme akan membawa kebahagian tersendiri bagi yang mengerjakan dengan tulus dan ikhlas. Bukankah niat seseorang lebih utama dari amalnya, meskipun niat baik seseorang tidak terwujud, tetap mendapat ganjaran pahala di sisiNya, apalagi jika niatnya terwujud.
Apa pun pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik dan tulus, demi meraih cinta Ilahi, sesungguhnya akan kembali kepada diri sendiri. Allah Swt berfirman, “Jika berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri.” (Al Isra Ayat 7).
Pengaruh perbuatan baik atau buruk, menjadi sumber kebahagian atau kemalangan setiap individu. Pada akhirnya, apa pun tindakan kita, merupakan kehendak bebas yang diberikan oleh Tuhan.
Apakah yang kita lakukan bergerak sesuai kehendak Ilahi, atau bergerak jatuh ke dalam kenestapaan? Sila renung masing-masing.
Kredit Gambar: https://www.istockphoto.com/

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply