Puasa Pertama Tanpa Mamak

Tahun 2024 bulan Maret ini, tahun pertama puasa tanpa kehadiran Mamak. Suasana rumah sangat jauh berbeda. Biasanya mulai pagi sudah kedatangan kakak, adik, dan ponakan.

Keseruan di dapur sudah dimulai dari pagi. Kami bersaudara 8 orang, 3 laki laki 5 perempuan. Cerita di dapur penuh tawa canda, terkadang juga serius. Seringkali formasi kami terisi lengkap, 22 orang dalam suatu buka puasa. Keluarga inti, anak, menantu, dan cucu.

Untuk mengedukasi anak anak belajar puasa mereka akan duduk di meja makan. Sedangkan kami duduk di lantai mengitari baki besar atau ada juga posisi garis keras depan tv ala prasmanan. Kami berusaha menyiapkan makanan kesukaan keluarga dengan penuh cinta dan kesyukuran.

Mamak tipe orang yang senang kebersihan dan kerapihan. Dulu sering mengajak saya kalau memasuki bulan Ramadan untuk mengeluarkan semua isi lemari, melapnya dengan bersih, dan menatanya dengan lebih baik sekalian menyisihkan barang yang tidak terpakai.

Atau mengeluarkan semua isi rak piring dan menggosokknya dengan abu gosok sampai kinclong. Satu hal lagi yang terekam kuat dalam ingatan soal mamak, yaitu beliau kalau menjemur pakaian akan dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Sarung dijemur dengan sarung, daster dengan daster, dan seterusnya. Kalau tidak dijemur berdasarkan jenisnya, yakinlah jemuran akan diulang kembali sesuai kelompoknya.

Menyapu halaman Mamak juaranya. Jangankan sampah, batu-batu kecil pun tidak akan ditemukan saking bersih dan rapinya beliau menyapu.

Kebiasaan mempersiapkan menu buka puasa biasanya dimulai dari pukul 3 sore sudah di dapur. Diawali dengan memasak air karena mamak tidak mau minum air galon kalau di rumah. Setelah itu lanjut menyiapkan menu buka puasa. Mamak akan merasa was-was kalau jam 5 sore makanan belum tersedia di atas meja.

Kalau persiapan sahur di mulai dari jam 2 dinihari. Mulai membangunkan kami satu persatu. Sambil menunggu siaran radio yang hitam, siarannya pak Kiai dan Daeng Naba. Sambil menunggu subuh untuk berangkat ke masjid.

Kebiasaan salat tarawih dilakukan dengan bergegas ke majid dan memakai pakaian terbaiknya. Yang telah dicuci, disetrika sampai licin dan memberinya wangi-wangian.

Setiap 2 hari mukena solat diganti dengan mukena yang baru, katanya pakaian ini akan bersaksi karena dipakai ke tempat kebaikan.

Kenangan-kenangan yang baik tentang kebiasaan mamak selalu menari-nari dalam kalbu. Beliau yang selalu berucap, “Apa yang kita berikan kepada orang lain itulah kepunyaan kita, sedangkan apa yang ada pada dirimu sejatinya itu bukan milikmu.”

Kesedihan ini seakan akan tak bertepi, sedih yang membawa angan-angan “seandainya dan seandainya”.

Merasa belum bisa memberikan hal yang terbaik buat malaikat tak bersayap kami. Kebiasaan Mamak yang lain, selalu menghadirkan biskuit legendaris berbentuk segiempat Khong Guan. Kalau kalengnya sudah banyak akan diberikan kepada yang butuh.

Tujuh bulan kepergian mamak,  kami belum pernah membelinya lagi. Air mata ini akan jatuh tanpa sekat. Berusaha ikhlas untuk proses  hidup yang berjalan terus. Cara Tuhan memberikan cinta kepada mamak. Kembali dengan cara yang indah.

Ada pantun yang sering di ucapkan mamak. “Bertahun-tahun sudah, tinggal bersama bunda, serta sanak saudara. Sekarang waktunya raih susah, hati merasa iba karena akan berpisah.”

Ada juga pantun dalam bahasa Makassar, yang saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia, kurang dan lebihnya begini….”Kita orang yang tak punya, malam hari baru bisa memilih dan memiliki, pilihlah bintang di atas langit yang paling terang.”

Salam kangen dan cinta dari kami yang selalu berharap doa.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *