Iman adalah men-tashdiq yang berarti membenarkan dan mempercayai hal-hal pokok yang semestinya dibenarkan dan dipercayai, yaitu; eksistensi Allah yang Esa, Muhammad sebagai utusan Allah dan teladan utama, serta adanya hari pembalasan.
Secara bahasa, shidq artinya benar, jujur, dan terpercaya. Shiddiq sejenis orang dengan kualitas moral yang jujur dan terpercaya. Seseorang dikatakan shiddiq, jika mengamalkan kebaikan secara sungguh-sungguh dan tulus sesuai dengan kebenaran yang dipercayainya. Seseorang dinyatakan shiddiq, apabila keimanannya, mengantarkannya pada loyalitas atas kebenaran, yang diyakininya dengan teguh dan tulus.
Shidq identik dengan iman yang mantap dan niat yang suci. Shiddiq adalah orang yang terpercaya, karena sungguh-sungguh membenarkan apa yang dia percayai dalam kata dan perbuatan. Iman merupakan tashdiq, maka sejatinya iman serupa langkah membentuk karakter shidq, yaitu kualitas moral yang konsisten memegang teguh kebenaran, diwujudkan dalam keselarasan antara perkataan dan perbuatan.
Identiknya iman dan karakter shidq diisyaratkan oleh Allah dalam QS. 9:119. Shidq adalah karakter yang membedakan antara orang munafik dan beriman. Dalam sebuah riwayat, lisan suci Rasulullah saw menyebut tiga ciri orang munafik, yaitu berkata dusta, ingkar janji, dan tidak amanat.
Ketiga karakter tersebut merupakan kebalikan dari karakter shidq, yang senantiasa benar dalam perkataan, menjalankan amanat, dan menepati janji. Karakter shidq menyucikan rohani manusia dari segala hal yang bertentangan dengan kebaikan, sehingga membuat pelakunya konsisten dalam iman dan amal.
Karakter shidq adalah konsekuensi dari iman yang benar, diwujudkan melalui loyalitas kepada Allah melalui amal saleh. Dalam QS. 33:23 loyalitas ini disebut dengan istilah, “Menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah.”
Allah dalam QS. 19:54 mencontohkan Nabi Ismail as, sebagai orang yang shidq dalam janjinya. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian bersikap shidq, karena shidq membawa kamu pada kebaikan, dan kebaikan akan membawamu ke surga.”
Shidq merupakan pilar segala kebaikan dan cerminan kualitas rohani, merupakan buah dari pencerahan rohani melalui ilmu dan iman. Imam Ali bin Abi Thalib, orang yang shidq (jujur) akan mendapatkan tiga hal; kepercayaan, cinta, dan rasa hormat.
Dalam perspektif tasawuf, shidq tidak hanya didefinisikan sebatas karakter moral, menurut Nashr al-Din al-Thusi, shidq adalah tahapan sekaligus prasyarat awal dalam menempuh laku suluk (jalan spiritual), yaitu jalan untuk “menuhan”.
Hadirnya karakter shidq disebabkan hilangnya keraguan dari keyakinan dan tiadanya kotoran dalam rohani (suci). Shiddiq adalah orang yang benar dan senantiasa bersama dengan kebenaran. Shidq serupa karakter moral yang juga kualitas spiritual.
Oleh karena itu, shidq dikatakan sebagai sifat wajib yang dimiliki oleh seorang nabi, selaku penyampai dan patron kebenaran. Dalam QS. 19:41 menyebut Nabi Ibrahim as sebagai orang yang shiddiq. Sifat shidq ini pula yang membuat para nabi, utamanya Rasulullah saw menjadi patron moral dalam keteladanan dan personifikasi ideal manusia yang paripurna.
Laku suluk yang dilakoni, merupakan implementasi loyalitas dan konsistensi dalam menjalankan kebaikan, baik dalam bentuk ibadah kepada Allah, maupun muamalah kepada sesama manusia.
Jika kita renungkan puasa yang disyariatkan Allah, sejatinya untuk mendidik jiwa untuk sampai pada kualitas shidq, dalam pengertian jujur dan amanat.
Keteguhan kita dalam menahan lapar dan haus yang dilandasi iman, melatih jiwa untuk bersikap jujur kepada Allah dan kepada diri sendiri, yang membuahkan sikap jujur kepada orang lain.
Ibadah puasa sebentuk ibadah bersifat sangat personal, antara kita dengan Allah. Hanya Allah dan diri kita sendiri yang tahu, apakah kita sedang berpuasa atau tidak. Kita dapat saja makan dan minum seenaknya di tempat sunyi yang tidak terlihat seorang pun, tetapi kita tidak melakukan itu, karena kita sedang jujur kepada diri kita dan kepada Allah.
Sejatinya, orang yang sedang berpuasa sedang berada dalam kesadaran, bahwa dia tidak bisa membohongi Allah. Kesadaran itulah yang membuatnya komitmen untuk menyelesaikan puasanya, meski rasa lapar dan haus yang sangat mendera.
Mendidik rohani menjadi shidq adalah aspek spiritual dari ibadah puasa, yang melatih jiwa untuk menyadari kehadiran Allah, dengan menyadari bahwa segala tindakan kita pasti diketahui dan diawasi Allah.
Hal ini merupakan kesadaran ketuhanan yang mentransformasi iman menjadi ihsan. Menurut Frithjof Schuon, sejalan tindakan kebajikan, yang memberikan arahan, untuk melaksanakan nilai-nilai yang menyempurnakan.
Ihsan sejenis aspek batin (esoterisme) dari ajaran Islam, membawa seorang muslim pada keterikatan total terhadap kebenaran dan kepatuhan sepenuhnya kepada syariat.
Ibadah puasa yang membentuk pelakunya menjadi shidq, adalah ciri kualitas puasa yang “menuhan”, bukan sekadar puasa yang berhenti pada level menahan. Disebut “menuhan” karena melesatkan kesadaran untuk “menahun” bersama Kebenaran (Tuhan), senantiasa teguh mengamalkan kebenaran dengan niat yang suci.
Keterikatan dan loyalitas total ini mentransformasi iman menjadi ihsan. Meniti jalan thariqat berlandaskan kepatuhan menjalankan syariat, karena tidak ada (jalan) thariqat tanpa melalui (jalan) syariat.

Doktor di bidang studi agama. Peneliti pada Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN. Memiliki spesifikasi pada kajian agama dan masyarakat di Kawasan Timur Indonesia.


Leave a Reply