Gagak yang Pandai Bersyukur

Pada reranting pohon, bertengger seekor gagak, dengan raut wajahnya yang tampak sedang bersedih. Dia terpekur seperti sedang memikirkan sesuatu. Dalam pada itu melintaslah di hadapannya seekor kupu-kupu yang sangat cantik. Melihat gagak terdiam dengan tatapan kosong, kupu-kupu pun  menyapanya.

“Wahai gagak yang perkasa, apakah yang sedang engkau pikirkan? Kelihatannya engkau sedang bersedih,” tanya kupu-kupu.

“Benar wahai kupu-kupu, aku sedang merenungi nasibku. Aku tidak habis pikir, mengapa aku hanya diberi satu jenis warna bulu,” jawab gagak. “Lihatlah sekujur tubuhku, warnanya hitam semua,” keluhnya.

“Oh, rupanya itu yang sedang membuatmu sedih,” balas kupu-kupu.

Benar wahai kupu-kupu, aku sangat iri kepadamu. Engkau memiliki tubuh yang begitu indah, dengan kedua sayap yang berwarna-warni,” keluh gagak dengan suara lirih.

“Engkau tidak usah bersedih dengan hal itu, di balik sayapku yang indah ini, sesungguhnya aku memiliki tubuh yang sangat lemah,” nasihat kupu-kupu.

“Aku tidak sekuat dirimu, bahkan aku seringkali tidak bisa melindungi diriku sendiri. Karena tubuhku yang indah ini, aku seringkali jadi buruan manusia pencinta binatang. Maka syukurilah apa yang engkau miliki,” lanjutnya.

Usai berkata demikian, kupu-kupu meninggalkan gagak yang tampaknya tidak menghiraukan semua perkataannya.

Tak berapa lama kemudian, gagak terbang meninggalkan dahan tempatnya bertengger tadi. Ia terbang jauh, sampai akhirnya mendekati sebuah kebun binatang. Di dalam kebun binatang itu, ia melihat seekor burung dengan bulu-bulunya yang sangat indah. Ia pun mendekati burung itu. Kemudian menyapanya.

”Wahai burung berbulu indah, siapakah gerangan engkau?” Tanya gagak.

“Aku merak, aku memang diciptakan dengan buluku yang berwarna-warni,” jawab merak memperkenalkan dirinya.

“Aku sangat terpesona dan merasa iri akan dirimu. Kita berdua adalah sebangsa burung, tetapi mengapa engkau dikaruniai bulu yang berwarna-warni nan cantik. Sementara aku hanya dengan satu warna bulu saja. sungguh aku merasa pencipta kita tidaklah adil,” keluh gagak.

Mendengar penuturan gagak, merak malah tersenyum. Kemudian berkata. “Seharusnya engkau tak perlu bersedih, apalagi memandang rendah dirimu sendiri,” nasihat merak.

“Sekilas memang engkau melihat apa yang ada pada diriku, itu sangat indah. Tetapi setiap hari aku hanya berada di dalam kandang kebun binatang ini. Karena buluku yang yang indah ini, banyak yang ingin menyaksikan keindahan buluku, sehingga aku menjadi buruan manusia, dan menjadi objek tontonan mereka. Namun, aku merasa tersiksa dengan semua keadaan itu, karena aku tidak bebas hidup di alam terbuka. Sementara engkau bebas terbang, kemana pun engkau mau. Engkau tidak perlu cemas, dan merasa terancam. Karena engkau bukan binatang sasaran buruan,” ungkap merak panjang lebar.

Mendengar penuturan merak, gagak akhirnya menyadari kekeliruannya selama ini, yang selalu memandang rendah dirinya sendiri.

Setelah terbang meninggalkan merak, dan untuk pertama kalinya ia terbang dengan perasaan yang lapang, tenang dan damai. Ia mensyukuri segala yang dimilikinya.

Kredit gambar: orbie’s collection


Comments

One response to “Gagak yang Pandai Bersyukur”

  1. Asupan sore hari untuk lebih bersyukur apa yang sudah kita miliki saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *