Bakarlah dan Puisi Lainnya

Bakarlah

sejak mula daku ini bukanlah apaapa
dikaulah pemantiknya menjadi siapa

dikaulah membaptis daku sebagai sesat dan menyesatkan
hanya karena daku terjatuh cinta pada saricinta

nerakalah yang patut buat daku
itu menurut dikau

dikau menabalkan diri selaku wakil tuhan
sekehendak ingin membakar
sesiapa yang tersesat

dalam bilik bancuh batin daku
meliuk segenggam tanya dan sejumput gugat
neraka bukanlah tempat pembakaran batumerah
siapa saja boleh punya kuasa atasnya

pun kalau memang neraka serupa tungku
pembakaran tanah liat berpasir pada cetakan
daku rela masuk dalam cetakan
bakarlah daku di gejolak tungku api
agar daku mengeras menyata batu

batumerah mewujud dinding pelindung
pada rumahrumah sesiapa saja
batumerah menjadi perisai
buat para pecinta di jalan cinta
yang padanya saricinta membuncah

***

Pintu

aku merangkak
bermaksud masuk
ke kotamu

aku tiba di gerbangnya
mendongak berdepan pintu
aku ingin mengetuknya
tapi dengan apa kubisa?

mungkinkah aku masuk kota
walakin tidak bertabik pada pintunya?

kalau itu kulakukan
pastilah aku tergolong
pendatang haram

oh…pemilik pintu
gemerincingkan kuncimu
biar lebih mudah kukenal
anakanak kunci yang dikau genggam

dari belasan kunci itulah
pintu kota akan terbuka
dari kunci yang kugenggam
aku menjadi halal mukim di kotamu

***

Jidat

aku berdepan cermin
ada bundaran hitam
di jidatku

aku pikir
ini buah zikir
sembah yang terukir

lamatlamat terkuak
aku keseringan sujud
di karpet berdebu nan keras

Kredit gambar: Mauliah Mulkin


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *